alexametrics
24.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Ujian Susulan, Guru Datang ke Rumah Siswa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah dua hari ujian praktik di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri digelar. Pada hari pertama, Senin (15/3), siswa melaksanakan ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Mereka diperintahkan untuk melakukan praktik salat. Sementara, di hari kedua kemarin (16/3), mereka mengikuti ujian praktik Bahasa Indonesia.

Tercatat 13 siswa SD, dua siswa SMP, serta empat siswa SMA yang mengikuti ujian praktik. Mereka adalah pelajar dengan kekhususan berbeda. Setidaknya terdapat sembilan siswa tunarungu, sepuluh siswa tunagrahita, dan satu siswa dengan tunanetra dan disabilitas ganda.

Setiap siswa mendapat soal ujian yang berbeda walaupun jenjangnya sama. Sebab, setiap siswa memiliki disabilitas yang berbeda. Salah satu wali kelas SD, Siti Holifaturohma, mengungkapkan bahwa di kelasnya siswa yang memiliki disabilitas berbeda berpotensi juga memiliki kapasitas yang berbeda. Karena itu, soal-soalnya pun berbeda. “Ada yang membaca, membaca dan menulis, sesuai dengan yang kami arahkan,” ujarnya, Selasa (16/3) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelum melaksanakan ujian, lanjut dia, pihak sekolah sudah memberikan imbauan kepada wali murid untuk mempersiapkan ujian. Persiapan ujian tersebut dapat berupa pemberitahuan ujian, dan sedikit review materi ujian. “Ketika home visit, kami sampaikan materi apa saja yang akan diujikan. Home visit seminggu sekali,” ungkap Supiha, guru jenjang SMPLB.

Sementara, murid yang tidak hadir dan mengikuti ujian praktik diwajibkan untuk mengikuti ujian susulan yang akan dilaksanakan seusai ujian utama, atau setelah 20 Maret. “Ada yang tidak ikut ujian. Untuk hari ini dua murid. Nanti kami komunikasikan kepada orang tuanya untuk ujian susulan,” sambung Siti Holifaturohma.

Menurut dia, beberapa anak yang tidak mengikuti ujian praktik utama disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah kemalasan dari diri anak. Sehingga orang tua pun kewalahan untuk membujuk anak berangkat sekolah. “Mungkin karena sudah kebiasaan di rumah. Pas disuruh ke sekolah jadi malas,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah dua hari ujian praktik di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri digelar. Pada hari pertama, Senin (15/3), siswa melaksanakan ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Mereka diperintahkan untuk melakukan praktik salat. Sementara, di hari kedua kemarin (16/3), mereka mengikuti ujian praktik Bahasa Indonesia.

Tercatat 13 siswa SD, dua siswa SMP, serta empat siswa SMA yang mengikuti ujian praktik. Mereka adalah pelajar dengan kekhususan berbeda. Setidaknya terdapat sembilan siswa tunarungu, sepuluh siswa tunagrahita, dan satu siswa dengan tunanetra dan disabilitas ganda.

Setiap siswa mendapat soal ujian yang berbeda walaupun jenjangnya sama. Sebab, setiap siswa memiliki disabilitas yang berbeda. Salah satu wali kelas SD, Siti Holifaturohma, mengungkapkan bahwa di kelasnya siswa yang memiliki disabilitas berbeda berpotensi juga memiliki kapasitas yang berbeda. Karena itu, soal-soalnya pun berbeda. “Ada yang membaca, membaca dan menulis, sesuai dengan yang kami arahkan,” ujarnya, Selasa (16/3) kemarin.

Sebelum melaksanakan ujian, lanjut dia, pihak sekolah sudah memberikan imbauan kepada wali murid untuk mempersiapkan ujian. Persiapan ujian tersebut dapat berupa pemberitahuan ujian, dan sedikit review materi ujian. “Ketika home visit, kami sampaikan materi apa saja yang akan diujikan. Home visit seminggu sekali,” ungkap Supiha, guru jenjang SMPLB.

Sementara, murid yang tidak hadir dan mengikuti ujian praktik diwajibkan untuk mengikuti ujian susulan yang akan dilaksanakan seusai ujian utama, atau setelah 20 Maret. “Ada yang tidak ikut ujian. Untuk hari ini dua murid. Nanti kami komunikasikan kepada orang tuanya untuk ujian susulan,” sambung Siti Holifaturohma.

Menurut dia, beberapa anak yang tidak mengikuti ujian praktik utama disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah kemalasan dari diri anak. Sehingga orang tua pun kewalahan untuk membujuk anak berangkat sekolah. “Mungkin karena sudah kebiasaan di rumah. Pas disuruh ke sekolah jadi malas,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah dua hari ujian praktik di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri digelar. Pada hari pertama, Senin (15/3), siswa melaksanakan ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Mereka diperintahkan untuk melakukan praktik salat. Sementara, di hari kedua kemarin (16/3), mereka mengikuti ujian praktik Bahasa Indonesia.

Tercatat 13 siswa SD, dua siswa SMP, serta empat siswa SMA yang mengikuti ujian praktik. Mereka adalah pelajar dengan kekhususan berbeda. Setidaknya terdapat sembilan siswa tunarungu, sepuluh siswa tunagrahita, dan satu siswa dengan tunanetra dan disabilitas ganda.

Setiap siswa mendapat soal ujian yang berbeda walaupun jenjangnya sama. Sebab, setiap siswa memiliki disabilitas yang berbeda. Salah satu wali kelas SD, Siti Holifaturohma, mengungkapkan bahwa di kelasnya siswa yang memiliki disabilitas berbeda berpotensi juga memiliki kapasitas yang berbeda. Karena itu, soal-soalnya pun berbeda. “Ada yang membaca, membaca dan menulis, sesuai dengan yang kami arahkan,” ujarnya, Selasa (16/3) kemarin.

Sebelum melaksanakan ujian, lanjut dia, pihak sekolah sudah memberikan imbauan kepada wali murid untuk mempersiapkan ujian. Persiapan ujian tersebut dapat berupa pemberitahuan ujian, dan sedikit review materi ujian. “Ketika home visit, kami sampaikan materi apa saja yang akan diujikan. Home visit seminggu sekali,” ungkap Supiha, guru jenjang SMPLB.

Sementara, murid yang tidak hadir dan mengikuti ujian praktik diwajibkan untuk mengikuti ujian susulan yang akan dilaksanakan seusai ujian utama, atau setelah 20 Maret. “Ada yang tidak ikut ujian. Untuk hari ini dua murid. Nanti kami komunikasikan kepada orang tuanya untuk ujian susulan,” sambung Siti Holifaturohma.

Menurut dia, beberapa anak yang tidak mengikuti ujian praktik utama disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah kemalasan dari diri anak. Sehingga orang tua pun kewalahan untuk membujuk anak berangkat sekolah. “Mungkin karena sudah kebiasaan di rumah. Pas disuruh ke sekolah jadi malas,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/