alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Tak Lagi Primadona, Ajang Pencarian Bakat di Jember Sepi Peserta

Lomba MGMP SMP Tak Lagi Primadona

Mobile_AP_Rectangle 1

SLAWU, RADARJEMBER.ID – Kegiatan perlombaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP di Jember kian hari kian sepi peminat. Agenda dua tahunan yang dirancang oleh Kementerian Agama (Kemenag) tersebut biasanya menjadi ajang pencarian bakat dan momentum untuk mengetahui kemampuan siswa tingkat SMP.

Di Jember, pelaksanaan lomba MGMP terbagi menjadi lima wilayah. Yaitu wilayah tengah yang meliputi wilayah kota seperti Kecamatan Patrang, Sumbersari, Kaliwates, dan Sukorambi. Kemudian wilayah barat, wilayah timur, dan wilayah selatan yang letaknya masing-masing berada di luar wilayah kota. Pelaksanaan MGMP tahun ini berlokasi di SMPN 7 Jember, Rabu (15/9) kemarin.

Kali ini, pelaksanaan lomba MGMP yang digelar oleh wilayah tengah pesertanya kian merosot. Hal ini juga disebabkan pengurangan cabang lomba yang sebenarnya dinilai banyak peminatnya. Dalam kegiatan ini biasanya terdapat enam cabang lomba. Namun, tahun ini justru hanya ada empat lomba. Di antaranya lomba kaligrafi, lomba pidato, lomba musabaqah hifdzil Quran, dan lomba cerdas cermat. “Wilayah tengah ini kami ada 47 sekolah yang seharusnya ikut lomba. Namun, kali ini hanya ada perwakilan 26 sekolah yang ikut,” ungkap Penasihat MGMP Zaenul Hadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, pengurangan cabang lomba dilakukan karena terbatasnya ruang gerak akibat pandemi virus korona. Sebelumnya, pelaksanaan lomba memang direncanakan untuk digelar secara daring. Namun, hal itu justru mengurangi esensi lomba, baik bagi panitia maupun peserta. “Biar lombanya tetap seru dan menggugah peserta, kami gelar offline saja. Namun, kami tidak bisa menyediakan banyak cabang lomba karena pertemuan kita terbatas,” imbuhnya.

Begitu pula yang disampaikan oleh Zainul Ulum, koordinator lomba kaligrafi. Menurutnya, tidak semua lomba dapat dilakukan secara daring. Penilaian akan semakin sulit, bahkan berpotensi terjadinya kecurangan. “Bisa saja kertasnya digambari dulu. Kami tidak tahu kalau dilaksanakan secara online. Karena ini bukan pameran kaligrafi, tapi lomba membuat kaligrafi yang ditentukan waktunya, dan setelah itu kami butuh waktu juga untuk menilainya,” tutur guru SMPN 2 Jember itu.

- Advertisement -

SLAWU, RADARJEMBER.ID – Kegiatan perlombaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP di Jember kian hari kian sepi peminat. Agenda dua tahunan yang dirancang oleh Kementerian Agama (Kemenag) tersebut biasanya menjadi ajang pencarian bakat dan momentum untuk mengetahui kemampuan siswa tingkat SMP.

Di Jember, pelaksanaan lomba MGMP terbagi menjadi lima wilayah. Yaitu wilayah tengah yang meliputi wilayah kota seperti Kecamatan Patrang, Sumbersari, Kaliwates, dan Sukorambi. Kemudian wilayah barat, wilayah timur, dan wilayah selatan yang letaknya masing-masing berada di luar wilayah kota. Pelaksanaan MGMP tahun ini berlokasi di SMPN 7 Jember, Rabu (15/9) kemarin.

Kali ini, pelaksanaan lomba MGMP yang digelar oleh wilayah tengah pesertanya kian merosot. Hal ini juga disebabkan pengurangan cabang lomba yang sebenarnya dinilai banyak peminatnya. Dalam kegiatan ini biasanya terdapat enam cabang lomba. Namun, tahun ini justru hanya ada empat lomba. Di antaranya lomba kaligrafi, lomba pidato, lomba musabaqah hifdzil Quran, dan lomba cerdas cermat. “Wilayah tengah ini kami ada 47 sekolah yang seharusnya ikut lomba. Namun, kali ini hanya ada perwakilan 26 sekolah yang ikut,” ungkap Penasihat MGMP Zaenul Hadi.

Dia menjelaskan, pengurangan cabang lomba dilakukan karena terbatasnya ruang gerak akibat pandemi virus korona. Sebelumnya, pelaksanaan lomba memang direncanakan untuk digelar secara daring. Namun, hal itu justru mengurangi esensi lomba, baik bagi panitia maupun peserta. “Biar lombanya tetap seru dan menggugah peserta, kami gelar offline saja. Namun, kami tidak bisa menyediakan banyak cabang lomba karena pertemuan kita terbatas,” imbuhnya.

Begitu pula yang disampaikan oleh Zainul Ulum, koordinator lomba kaligrafi. Menurutnya, tidak semua lomba dapat dilakukan secara daring. Penilaian akan semakin sulit, bahkan berpotensi terjadinya kecurangan. “Bisa saja kertasnya digambari dulu. Kami tidak tahu kalau dilaksanakan secara online. Karena ini bukan pameran kaligrafi, tapi lomba membuat kaligrafi yang ditentukan waktunya, dan setelah itu kami butuh waktu juga untuk menilainya,” tutur guru SMPN 2 Jember itu.

SLAWU, RADARJEMBER.ID – Kegiatan perlombaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP di Jember kian hari kian sepi peminat. Agenda dua tahunan yang dirancang oleh Kementerian Agama (Kemenag) tersebut biasanya menjadi ajang pencarian bakat dan momentum untuk mengetahui kemampuan siswa tingkat SMP.

Di Jember, pelaksanaan lomba MGMP terbagi menjadi lima wilayah. Yaitu wilayah tengah yang meliputi wilayah kota seperti Kecamatan Patrang, Sumbersari, Kaliwates, dan Sukorambi. Kemudian wilayah barat, wilayah timur, dan wilayah selatan yang letaknya masing-masing berada di luar wilayah kota. Pelaksanaan MGMP tahun ini berlokasi di SMPN 7 Jember, Rabu (15/9) kemarin.

Kali ini, pelaksanaan lomba MGMP yang digelar oleh wilayah tengah pesertanya kian merosot. Hal ini juga disebabkan pengurangan cabang lomba yang sebenarnya dinilai banyak peminatnya. Dalam kegiatan ini biasanya terdapat enam cabang lomba. Namun, tahun ini justru hanya ada empat lomba. Di antaranya lomba kaligrafi, lomba pidato, lomba musabaqah hifdzil Quran, dan lomba cerdas cermat. “Wilayah tengah ini kami ada 47 sekolah yang seharusnya ikut lomba. Namun, kali ini hanya ada perwakilan 26 sekolah yang ikut,” ungkap Penasihat MGMP Zaenul Hadi.

Dia menjelaskan, pengurangan cabang lomba dilakukan karena terbatasnya ruang gerak akibat pandemi virus korona. Sebelumnya, pelaksanaan lomba memang direncanakan untuk digelar secara daring. Namun, hal itu justru mengurangi esensi lomba, baik bagi panitia maupun peserta. “Biar lombanya tetap seru dan menggugah peserta, kami gelar offline saja. Namun, kami tidak bisa menyediakan banyak cabang lomba karena pertemuan kita terbatas,” imbuhnya.

Begitu pula yang disampaikan oleh Zainul Ulum, koordinator lomba kaligrafi. Menurutnya, tidak semua lomba dapat dilakukan secara daring. Penilaian akan semakin sulit, bahkan berpotensi terjadinya kecurangan. “Bisa saja kertasnya digambari dulu. Kami tidak tahu kalau dilaksanakan secara online. Karena ini bukan pameran kaligrafi, tapi lomba membuat kaligrafi yang ditentukan waktunya, dan setelah itu kami butuh waktu juga untuk menilainya,” tutur guru SMPN 2 Jember itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/