alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Pandemi, Nominal Makin Mencekik

Menilik Besaran Gaji Guru PAUD

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nurhayati telah mengabdikan diri menjadi guru lebih dari 10 tahun. Selama ini dia menjadi guru pada salah satu PAUD di bawah naungan Dinas Pendidikan, dengan status guru honorer atau guru tidak tetap (GTT).

Gajinya bisa dibilang belum layak. Ibu tiga anak itu hanya mendapat gaji Rp 300 ribu per bulan sebagai nominal gaji pokok. “Hanya saja, kemarin sebagai dampak Covid-19, dapat santunan dari pemerintah sebesar Rp 2 juta pada akhir 2020,” kata Nurhayati.

Nah, karena dampak pandemi, sekolahnya pun tak mengadakan kegiatan belajar mengajar. Imbasnya, tidak ada SPP dibayarkan oleh kurang lebih 50 wali murid yang menyekolahkan anaknya di sana. Otomatis, Nurhayati tak mendapat gaji, yang riilnya diambilkan dari SPP tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, kehadiran biaya operasional pendidikan (BOP) pun tak banyak membantu. Selama pandemi, pembiayaan ini tidak diambil untuk gaji GTT, dan dialihkan pada pembelanjaan alat permainan edukatif. “Kami tidak mengajukan. Karena tidak ada kegiatan pembelajaran. Khawatir LPJ-nya sulit,” imbuh perempuan 47 tahun itu, Senin (15/3) kemarin.

Selama Nurhayati tidak mengajar, tidak ada kegiatan lainnya yang dilakoni untuk mengais rupiah. Hanya aktivitas yang tak berkaitan dengan pendidikan. Karen itu, bisa dipastikan selama pandemi dia tidak memiliki pendapatan yang ajek seperti kondisi normal.

Berdasarkan penuturan Nurhayati, selama pandemi, sistem pembelajaran yang dilakukan untuk peserta didik PAUD memang masih berlangsung, meskipun tidak maksimal. Murid datang ke rumah Nurhayati untuk mengumpulkan dan mengambil tugas. “Tidak ada jadwal khusus, suka-suka,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nurhayati telah mengabdikan diri menjadi guru lebih dari 10 tahun. Selama ini dia menjadi guru pada salah satu PAUD di bawah naungan Dinas Pendidikan, dengan status guru honorer atau guru tidak tetap (GTT).

Gajinya bisa dibilang belum layak. Ibu tiga anak itu hanya mendapat gaji Rp 300 ribu per bulan sebagai nominal gaji pokok. “Hanya saja, kemarin sebagai dampak Covid-19, dapat santunan dari pemerintah sebesar Rp 2 juta pada akhir 2020,” kata Nurhayati.

Nah, karena dampak pandemi, sekolahnya pun tak mengadakan kegiatan belajar mengajar. Imbasnya, tidak ada SPP dibayarkan oleh kurang lebih 50 wali murid yang menyekolahkan anaknya di sana. Otomatis, Nurhayati tak mendapat gaji, yang riilnya diambilkan dari SPP tersebut.

Sementara itu, kehadiran biaya operasional pendidikan (BOP) pun tak banyak membantu. Selama pandemi, pembiayaan ini tidak diambil untuk gaji GTT, dan dialihkan pada pembelanjaan alat permainan edukatif. “Kami tidak mengajukan. Karena tidak ada kegiatan pembelajaran. Khawatir LPJ-nya sulit,” imbuh perempuan 47 tahun itu, Senin (15/3) kemarin.

Selama Nurhayati tidak mengajar, tidak ada kegiatan lainnya yang dilakoni untuk mengais rupiah. Hanya aktivitas yang tak berkaitan dengan pendidikan. Karen itu, bisa dipastikan selama pandemi dia tidak memiliki pendapatan yang ajek seperti kondisi normal.

Berdasarkan penuturan Nurhayati, selama pandemi, sistem pembelajaran yang dilakukan untuk peserta didik PAUD memang masih berlangsung, meskipun tidak maksimal. Murid datang ke rumah Nurhayati untuk mengumpulkan dan mengambil tugas. “Tidak ada jadwal khusus, suka-suka,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nurhayati telah mengabdikan diri menjadi guru lebih dari 10 tahun. Selama ini dia menjadi guru pada salah satu PAUD di bawah naungan Dinas Pendidikan, dengan status guru honorer atau guru tidak tetap (GTT).

Gajinya bisa dibilang belum layak. Ibu tiga anak itu hanya mendapat gaji Rp 300 ribu per bulan sebagai nominal gaji pokok. “Hanya saja, kemarin sebagai dampak Covid-19, dapat santunan dari pemerintah sebesar Rp 2 juta pada akhir 2020,” kata Nurhayati.

Nah, karena dampak pandemi, sekolahnya pun tak mengadakan kegiatan belajar mengajar. Imbasnya, tidak ada SPP dibayarkan oleh kurang lebih 50 wali murid yang menyekolahkan anaknya di sana. Otomatis, Nurhayati tak mendapat gaji, yang riilnya diambilkan dari SPP tersebut.

Sementara itu, kehadiran biaya operasional pendidikan (BOP) pun tak banyak membantu. Selama pandemi, pembiayaan ini tidak diambil untuk gaji GTT, dan dialihkan pada pembelanjaan alat permainan edukatif. “Kami tidak mengajukan. Karena tidak ada kegiatan pembelajaran. Khawatir LPJ-nya sulit,” imbuh perempuan 47 tahun itu, Senin (15/3) kemarin.

Selama Nurhayati tidak mengajar, tidak ada kegiatan lainnya yang dilakoni untuk mengais rupiah. Hanya aktivitas yang tak berkaitan dengan pendidikan. Karen itu, bisa dipastikan selama pandemi dia tidak memiliki pendapatan yang ajek seperti kondisi normal.

Berdasarkan penuturan Nurhayati, selama pandemi, sistem pembelajaran yang dilakukan untuk peserta didik PAUD memang masih berlangsung, meskipun tidak maksimal. Murid datang ke rumah Nurhayati untuk mengumpulkan dan mengambil tugas. “Tidak ada jadwal khusus, suka-suka,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/