Helm Karya Mahasiswa Universitas Jember Bisa Kirim SMS Koordinat Lokasi Pengendaranya

Humas Universitas Jember for Radar Jember INOVASI BARU: Tiga mahasiswa Universitas Jember berhasil menciptakan helm anti kantuk, yang dapat melindungi pengendara sepeda motor dan meminimalisasi kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat mengantuk di jalan.

Jember-Kukuh Priambodo pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan ketika berkendara. Ketika masih awal-awal menjadi mahasiswa di Universitas Jember, dia bersama rekan-rekannya pernah berkendara Jember-Surabaya PP untuk mendukung kawannya dalam suatu kontes robot.

IKLAN

Berangkat dini hari dari Jember, kemudian pulang malam harinya dari Surabaya. Kondisi tersebut membuat Kukuh dan rombongannya tak punya cukup waktu untuk istirahat. Karena lelah dan mengantuk, beberapa sepeda motor yang menjadi bagian dari iring-iringan tersebut sempat mengalami kecelakaan. Termasuk Kukuh yang saat itu menjadi pengendara. “Saya tidak sadar, tiba-tiba sudah jatuh di aspal,” kenangnya.

Mahasiswa Fakultas Teknik Unej tersebut tidak ingin pengalaman tersebut kembali terulang. Oleh karena itu, dia mencari solusi untuk pengendara yang mengantuk agar tidak sampai terjadi kecelakaan. Bersama dengan dua rekannya, Malikul Panani (semester 7 Fakultas Teknik) dan Iklil Sulaiman (semester 5 Fakultas Kesehatan Masyarakat), mereka berhasil menciptakan helm pintar atau dianagramkan Hepinar.

Helm ini mampu mendeteksi pemakainya jika berada dalam keadaan mengantuk saat berkendara. Kukuh mengklaim helm ini dirancang dengan berbagai penyempurnaan dari helm antikantuk yang sebelumnya sudah ada.

Menurut Kukuh, dalam Hepinar ini sudah terdapat dua sensor dan controller, yaitu sensor otak dan denyut nadi. Oleh karena itu, ketika pengendara terdeteksi mengantuk, maka microcontroller yang ada di helm akan membuat helm bergetar.

“Jika pengendara mengantuk, maka aktivitas otak dan denyut nadi akan menurun. Saat denyut nadi mencapai 80 beat per minute, helm akan bergetar secara otomatis getaran tersebut akan membangunkan si pengendara,” lanjut Kukuh.

Tidak hanya itu, Kukuh bersama rekan-rekannya berhasil melengkapi Hepinar dengan perangkat yang mampu mengurangi kecepatan kendaraan secara otomatis saat pengendara terdeteksi mengantuk. Sinyal ini dikirim secara wireless ke sepeda motor. “Karena sistem wireless inilah, satu helm hanya bisa disinkronkan dengan satu sepeda motor,” imbuhnya.

Jika pengendara mengantuk, selain helm akan bergetar, setelah itu secara otomatis kecepatan kendaraan akan berkurang sesuai dengan kecepatan tertinggi yang telah diatur sebelumnya. Selain itu, sein sebelah kiri juga akan menyala sebagai kode kepada pengendara agar segera menepi untuk beristirahat sejenak.

Tidak hanya itu, helm canggih ini juga dilengkapi dengan tombol darurat yang dapat mengirimkan pesan darurat. Jika tombol ini tertekan, maka helm akan mengirimkan pesan darurat ke nomor ponsel yang telah diatur sebelumnya.

Jika tombol tertekan baik secara sengaja ataupun tertekan karena adanya benturan, maka akan helm ini akan mengirim pesan sms secara otomatis kepada keluarga. “Isi dari pesan tersebut adalah titik koordinat si pengendara yang terhubung dengan aplikasi peta online, sehingga keluarga bisa melacak keberadaan pengendara melalui GPS,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Elektro tersebut.

Untuk saat ini, sistem tersebut dapat digunakan untuk sepeda motor keluaran 2012 ke atas, dengan sistem karburator vakum atau injeksi. Tetapi, Kukuh tidak menutup kemungkinan bisa diaplikasikan di sana. “Untuk keluaran 2012 ke bawah, perlu ada penyesuaian mekanisasi,” lanjutnya.

Tingginya dominasi penggunaan sepeda motor ikut menjadi penggerak terciptanya Hepinar tersebut. Kukuh, Malikul, dan Iklil memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan untuk menyempurnakan inovasi tersebut. “Proses perakitan memakan waktu satu bulan, sedangkan proses pengambilan data hingga kalibrasi dan algoritma memakan waktu dua bulan,” terang Kukuh.

Dari sisi paten, Kukuh dan kawan-kawan sudah mengajukan hak paten nasional dengan dukungan dari Universitas Jember, dan masih diproses. Namun, saat ini Hepinar sudah mendapatkan hak paten internasional melalui penyertaan dalam konferensi internasional yang akan diselenggarakan di Turki, akhir September mendatang.

“Namun, saat ini kami sudah unggul satu langkah, dengan lolosnya kami di konferensi di Turki ini, kami sudah bisa dapat hak paten internasional. Untuk yang paten nasional, sedang dalam proses. Jadi, misal kami gagal di SNI-nya, kita sudah punya paten internasional,” papar Kukuh.

Sejatinya, Hepinar pernah didaftarkan dalam konferensi internasional di Macau, yang sedianya berlangsung Sabtu kemarin. Namun, Kukuh urung berangkat karena terkendala surat perizinan dari Sekretariat Negara. “Makanya, Senin ini kami mau urusin perizinan negara supaya bisa berangkat ke Turki,” tegasnya.

Keikutsertaan mereka di Turki ini, menang ataupun tidak menang, Hepinar tetap akan mendapat hak paten, karena konsep lombanya adalah innovator. “Kita membuat alat yang sebelumnya belum pernah ada,” imbuhnya.

Selain itu, Kukuh dan rekan setimnya juga sudah mengajukan proposal kerja sama dengan salah satu vendor sepeda motor di Jember. Hanya saja, dirinya masih menunggu konfirmasi balasan. (c2/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :