alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Akibat 2 Tahun Belajar Daring, Siswa di Jember Jadi Begini

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERBARU.RADARJEMBER.ID – Proses pembelajaran daring terbukti kurang efektif dalam memberi pemahaman kepada siswa. Karena hampir dua tahun mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ), banyak siswa yang masih gagap aksara. Utamanya bagi siswa yang sekolah di SD pinggiran. Bahkan, beberapa di antaranya masih belum bisa membaca.

Kepala SD Jamintoro 03 Kecamatan Sumberbaru Dimyati mengungkapkan, banyak faktor yang memengaruhi siswa terlambat mengikuti pembelajaran daring. Selain karena terkendala sinyal, banyak wali murid di sekolahnya yang tidak memiliki gawai. “Anak-anak tidak ada yang punya HP karena orang tua mereka hanya sebagai buruh tani,” katanya.

Kawasan sekolah ini memang berada di pinggiran. Persisnya berada di perbatasan Jember-Lumajang. Bahkan ada siswa yang rumahnya masuk Desa Jatiroto, Kabupaten Lumajang yang sudah mengajukan mau pindah karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh. “Apalagi lama tidak sekolah, sehingga orang tuanya meminta untuk pindah. Agar tidak jadi berhenti, maka ada guru yang setiap hari harus menjemput siswa agar tidak jadi berhenti,” ujar Dimyati.

- Advertisement -

SUMBERBARU.RADARJEMBER.ID – Proses pembelajaran daring terbukti kurang efektif dalam memberi pemahaman kepada siswa. Karena hampir dua tahun mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ), banyak siswa yang masih gagap aksara. Utamanya bagi siswa yang sekolah di SD pinggiran. Bahkan, beberapa di antaranya masih belum bisa membaca.

Kepala SD Jamintoro 03 Kecamatan Sumberbaru Dimyati mengungkapkan, banyak faktor yang memengaruhi siswa terlambat mengikuti pembelajaran daring. Selain karena terkendala sinyal, banyak wali murid di sekolahnya yang tidak memiliki gawai. “Anak-anak tidak ada yang punya HP karena orang tua mereka hanya sebagai buruh tani,” katanya.

Kawasan sekolah ini memang berada di pinggiran. Persisnya berada di perbatasan Jember-Lumajang. Bahkan ada siswa yang rumahnya masuk Desa Jatiroto, Kabupaten Lumajang yang sudah mengajukan mau pindah karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh. “Apalagi lama tidak sekolah, sehingga orang tuanya meminta untuk pindah. Agar tidak jadi berhenti, maka ada guru yang setiap hari harus menjemput siswa agar tidak jadi berhenti,” ujar Dimyati.

SUMBERBARU.RADARJEMBER.ID – Proses pembelajaran daring terbukti kurang efektif dalam memberi pemahaman kepada siswa. Karena hampir dua tahun mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ), banyak siswa yang masih gagap aksara. Utamanya bagi siswa yang sekolah di SD pinggiran. Bahkan, beberapa di antaranya masih belum bisa membaca.

Kepala SD Jamintoro 03 Kecamatan Sumberbaru Dimyati mengungkapkan, banyak faktor yang memengaruhi siswa terlambat mengikuti pembelajaran daring. Selain karena terkendala sinyal, banyak wali murid di sekolahnya yang tidak memiliki gawai. “Anak-anak tidak ada yang punya HP karena orang tua mereka hanya sebagai buruh tani,” katanya.

Kawasan sekolah ini memang berada di pinggiran. Persisnya berada di perbatasan Jember-Lumajang. Bahkan ada siswa yang rumahnya masuk Desa Jatiroto, Kabupaten Lumajang yang sudah mengajukan mau pindah karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh. “Apalagi lama tidak sekolah, sehingga orang tuanya meminta untuk pindah. Agar tidak jadi berhenti, maka ada guru yang setiap hari harus menjemput siswa agar tidak jadi berhenti,” ujar Dimyati.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/