alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Jangan Kaget, Kurikulum Berbasis Pelatihan Skill dan Wirausaha untuk Anak

Wahana Anak Belajar Wirausaha

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Ada banyak cara untuk memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan Gerakan Swadaya Menatap Indonesia melalui program Sekolah Impian, yang diresmikan kemarin (13/9).

Sekolah Impian merupakan program penambahan skill untuk anak-anak yang bersekolah jenjang SD hingga SMA. Sama halnya dengan sekolah formal, Sekolah Impian juga memiliki kurikulum yang berbasis pada pelatihan skill dan akademik anak-anak yang tergolong kurang mampu secara ekonomi.

Teknik pembelajarannya terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama yakni aktivitas pembelajaran berupa pendampingan penyelesaian tugas sekolah. Sedangkan sesi kedua yakni eksplorasi skill mulai dari merajut, memasak, hingga lainnya. “Termasuk siswa dilatih wirausaha. Sehingga mereka miliki gambaran untuk bertahan hidup nantinya,” ungkap Bustan Parentagama, founder Gerakan Swadaya Menatap Indonesia, Senin (13/9).

Mobile_AP_Rectangle 2

Target siswanya adalah kalangan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tersebar di kawasan kota Jember. Bustan mengungkapkan, untuk mengajak anak-anak tergabung dalam program Sekolah Impian, dia banyak melibatkan pihak kelurahan, RT/RW, yang tersebar di wilayah kota. Sebelumnya dia melakukan pencarian siswa secara mandiri. Namun, hasilnya kurang maksimal.

Nantinya, anak-anak yang mengikuti program belajar akan dilayani akses mobilisasi menuju base camp. “Kami akan melakukan antar jemput siswa,” tambahnya.

Bustan mengungkapkan perlunya kelas pelatihan skill sebagai stimulus adanya kelas profesi secara lebih profesional. Nantinya, minat dan bakat siswa yang menempuh pendidikan ini dapat diubah untuk terjun pada dunia profesi dan dapat menjadi sumber mata pencariannya. “Makanya kita kasih nama Sekolah Impian, karena mereka datang ke sini bawa mimpi,” tutunya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Ada banyak cara untuk memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan Gerakan Swadaya Menatap Indonesia melalui program Sekolah Impian, yang diresmikan kemarin (13/9).

Sekolah Impian merupakan program penambahan skill untuk anak-anak yang bersekolah jenjang SD hingga SMA. Sama halnya dengan sekolah formal, Sekolah Impian juga memiliki kurikulum yang berbasis pada pelatihan skill dan akademik anak-anak yang tergolong kurang mampu secara ekonomi.

Teknik pembelajarannya terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama yakni aktivitas pembelajaran berupa pendampingan penyelesaian tugas sekolah. Sedangkan sesi kedua yakni eksplorasi skill mulai dari merajut, memasak, hingga lainnya. “Termasuk siswa dilatih wirausaha. Sehingga mereka miliki gambaran untuk bertahan hidup nantinya,” ungkap Bustan Parentagama, founder Gerakan Swadaya Menatap Indonesia, Senin (13/9).

Target siswanya adalah kalangan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tersebar di kawasan kota Jember. Bustan mengungkapkan, untuk mengajak anak-anak tergabung dalam program Sekolah Impian, dia banyak melibatkan pihak kelurahan, RT/RW, yang tersebar di wilayah kota. Sebelumnya dia melakukan pencarian siswa secara mandiri. Namun, hasilnya kurang maksimal.

Nantinya, anak-anak yang mengikuti program belajar akan dilayani akses mobilisasi menuju base camp. “Kami akan melakukan antar jemput siswa,” tambahnya.

Bustan mengungkapkan perlunya kelas pelatihan skill sebagai stimulus adanya kelas profesi secara lebih profesional. Nantinya, minat dan bakat siswa yang menempuh pendidikan ini dapat diubah untuk terjun pada dunia profesi dan dapat menjadi sumber mata pencariannya. “Makanya kita kasih nama Sekolah Impian, karena mereka datang ke sini bawa mimpi,” tutunya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Ada banyak cara untuk memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan Gerakan Swadaya Menatap Indonesia melalui program Sekolah Impian, yang diresmikan kemarin (13/9).

Sekolah Impian merupakan program penambahan skill untuk anak-anak yang bersekolah jenjang SD hingga SMA. Sama halnya dengan sekolah formal, Sekolah Impian juga memiliki kurikulum yang berbasis pada pelatihan skill dan akademik anak-anak yang tergolong kurang mampu secara ekonomi.

Teknik pembelajarannya terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama yakni aktivitas pembelajaran berupa pendampingan penyelesaian tugas sekolah. Sedangkan sesi kedua yakni eksplorasi skill mulai dari merajut, memasak, hingga lainnya. “Termasuk siswa dilatih wirausaha. Sehingga mereka miliki gambaran untuk bertahan hidup nantinya,” ungkap Bustan Parentagama, founder Gerakan Swadaya Menatap Indonesia, Senin (13/9).

Target siswanya adalah kalangan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tersebar di kawasan kota Jember. Bustan mengungkapkan, untuk mengajak anak-anak tergabung dalam program Sekolah Impian, dia banyak melibatkan pihak kelurahan, RT/RW, yang tersebar di wilayah kota. Sebelumnya dia melakukan pencarian siswa secara mandiri. Namun, hasilnya kurang maksimal.

Nantinya, anak-anak yang mengikuti program belajar akan dilayani akses mobilisasi menuju base camp. “Kami akan melakukan antar jemput siswa,” tambahnya.

Bustan mengungkapkan perlunya kelas pelatihan skill sebagai stimulus adanya kelas profesi secara lebih profesional. Nantinya, minat dan bakat siswa yang menempuh pendidikan ini dapat diubah untuk terjun pada dunia profesi dan dapat menjadi sumber mata pencariannya. “Makanya kita kasih nama Sekolah Impian, karena mereka datang ke sini bawa mimpi,” tutunya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/