Kampus Vokasi Menjawab Kebutuhan Industri

Pahami Potensi Diri Sebelum Pilih Perguruan Tinggi

CARI REFERENSI: Pelajar SMA Mojoagung, Kabupaten Jombang, melihat rencana induk pembangunan Polije. Kedatangan pelajar kelas XI tersebut dibekali pemahaman untuk memilih perguruan tinggi yang tepat.

TEGALBOTO.RADARJEMBER.ID – Memahami potensi diri, lingkungan, serta dunia perguruan tinggi menjadi bekal SMAN Mojoagung, Kabupaten Jombang, saat berkunjung ke Politeknik Negeri Jember (Polije), Rabu (12/2). Pelajar dari Jombang yang duduk di klas XI ini juga ingin memahami apa itu kampus vokasi seperti Polije.

IKLAN

Wakil Direktur IV Polije Dr Nantil Bambang Eko Sulistyono mengatakan, pendidikan SMK dan SMA tentunya ada perbedaan. Dimana SMK disiapkan untuk kerja, SMA adalah disiapkan untuk menuju gerbang perguruan tinggi. “Setelah SMK lanjut kuliah tidak masalah, dari SMA tidak meneruskan ke kuliah ya tidak apa-apa,” tuturnya.

Namun, hal yang tak kalah penting adalah para pelajar yang telah lulus itu harus memahami potensi diri, lingkungan, dan pengetahuan tentang perguruan tinggi sebelum memilih kampus dan jurusan mana yang dituju. Dia menjelaskan, perguruan tinggi juga ada namanya universitas ada juga politeknik seperti Polije.

“Universitas mencetak tenaga ahli, ilmuan, dan peneliti. Sedangkan, politeknik ini ahli dan terampil,” jelasnya. Sehingga, dia menambahkan, jika ingin menjadi peneliti ataupun tenaga ahli maka universitas pilihan yang tepat. Tapi, jika ingin punya skill terampil alangkah baiknya ke politeknik.

Humas Polije Mahsus Nurmanto menambahkan, kerena mencetak tenaga ahli yang terampil tersebut, maka sistem perkulihannya pun tidak hanya diruangan saja. Tapi banyak ke praktik, baik ke lapangan maupun laboratorium. “Kurikulum menitik beratkan pada skill yaitu 60 persen pratikum,” ujarnya.

Politeknik yang disebut perguruan tinggi (PT) vokasi sangat dibutuhkan dunia industri. Mudah beradaptasi dengan kebutuhan industri, termasuk siap menghadapi bonus demografi di era revoluasi industri 4.0. Di era 4.0 yang dibutuhkan adalah SDM berkompeten dan berdaya saing.

Dia mengaku, PT vokasi di Indonesia itu terbilang kecil bila dibandingkan dengan negara-negara yang punya sektor industri maju. “Austria PT vokasinya itu 85 persen. Selebihnya adalah universitas,” jelasnya. Sementara seperti Tiongkok atau Jerman, jumlah kampus vokasi berbandingannya 50 persen.

Mahsus berpesan, mau meneruskan kuliah atau tidak bagi siswa SMA adalah hak masing-masing individu. Namun, jika ingin kuliah tidak boleh egois. “Tidak boleh egois pilih kuliah, perhatikan kemampuan juga. Perhatikan juga lingkungan keluarga. Termasuk kampus dan jurusan pilihannya,” pungkasnya. (kl)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih