alexametrics
24 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Belajar Daring Picu Anak Putus Sekolah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Aktivitas pembelajaran tatap muka di kelas sudah setahun ini tidak dilakukan. Siswa harus mengikuti pembelajaran daring dari rumah menggunakan telepon genggam atau HP. Rupanya, akibat terlalu lama pembelajaran online ini membuat siswa merasa bosan. Bahkan, mereka cenderung memilih untuk putus sekolah, karena model belajar daring dianggap tidak menarik.

Sebenarnya, kondisi seperti ini telah diprediksi oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember. Apalagi, keberlangsungan sekolah jarak jauh tersebut membuat guru tidak bisa mengontrol keberadaan siswa, lantaran tidak ada interaksi langsung.

“Kami tidak menampik tudingan bila sekolah daring memberikan peluang anak ogah sekolah. Namun, kami belum tahu berapa jumlah anak putus sekolah di saat pandemi ini, karena belum ada laporan dari pihak sekolah,” ungkap Supriyono, Ketua PGRI Kabupaten Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria asal Desa Grenden, Kecamatan Puger, ini memaparkan, kondisi ekonomi orang tua siswa juga ikut andil dalam menyebabkan anak putus sekolah. Sebab, untuk mengikuti pembelajaran online, dibutuhkan telepon genggam yang memadai dan harganya tidak murah.

“Lagi pula, selama ini sekolah belum memiliki kemampuan untuk meminjamkan HP kepada siswa. Padahal mereka wajib mengikuti pembelajaran daring setiap hari dari rumah. Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali anak didik berhenti sekolah,” imbuh Supriyono.

Terpisah, Endang Herawati, salah seorang wali murid asal Kecamatan Kalisat, menuturkan, jika pembelajaran daring tetap digelar, maka angka anak putus sekolah akan terus bertambah. “Jangan biarkan anak tidak lagi melanjutkan sekolah. Mereka itu kan generasi penerus bangsa. Karena itu, sekolah tatap muka harus kembali diadakan, dan sebagai orang tua murid saya mendukung keinginan Pemkab Jember untuk mengaktifkan kembali pembelajaran di kelas,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Aktivitas pembelajaran tatap muka di kelas sudah setahun ini tidak dilakukan. Siswa harus mengikuti pembelajaran daring dari rumah menggunakan telepon genggam atau HP. Rupanya, akibat terlalu lama pembelajaran online ini membuat siswa merasa bosan. Bahkan, mereka cenderung memilih untuk putus sekolah, karena model belajar daring dianggap tidak menarik.

Sebenarnya, kondisi seperti ini telah diprediksi oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember. Apalagi, keberlangsungan sekolah jarak jauh tersebut membuat guru tidak bisa mengontrol keberadaan siswa, lantaran tidak ada interaksi langsung.

“Kami tidak menampik tudingan bila sekolah daring memberikan peluang anak ogah sekolah. Namun, kami belum tahu berapa jumlah anak putus sekolah di saat pandemi ini, karena belum ada laporan dari pihak sekolah,” ungkap Supriyono, Ketua PGRI Kabupaten Jember.

Pria asal Desa Grenden, Kecamatan Puger, ini memaparkan, kondisi ekonomi orang tua siswa juga ikut andil dalam menyebabkan anak putus sekolah. Sebab, untuk mengikuti pembelajaran online, dibutuhkan telepon genggam yang memadai dan harganya tidak murah.

“Lagi pula, selama ini sekolah belum memiliki kemampuan untuk meminjamkan HP kepada siswa. Padahal mereka wajib mengikuti pembelajaran daring setiap hari dari rumah. Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali anak didik berhenti sekolah,” imbuh Supriyono.

Terpisah, Endang Herawati, salah seorang wali murid asal Kecamatan Kalisat, menuturkan, jika pembelajaran daring tetap digelar, maka angka anak putus sekolah akan terus bertambah. “Jangan biarkan anak tidak lagi melanjutkan sekolah. Mereka itu kan generasi penerus bangsa. Karena itu, sekolah tatap muka harus kembali diadakan, dan sebagai orang tua murid saya mendukung keinginan Pemkab Jember untuk mengaktifkan kembali pembelajaran di kelas,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Aktivitas pembelajaran tatap muka di kelas sudah setahun ini tidak dilakukan. Siswa harus mengikuti pembelajaran daring dari rumah menggunakan telepon genggam atau HP. Rupanya, akibat terlalu lama pembelajaran online ini membuat siswa merasa bosan. Bahkan, mereka cenderung memilih untuk putus sekolah, karena model belajar daring dianggap tidak menarik.

Sebenarnya, kondisi seperti ini telah diprediksi oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember. Apalagi, keberlangsungan sekolah jarak jauh tersebut membuat guru tidak bisa mengontrol keberadaan siswa, lantaran tidak ada interaksi langsung.

“Kami tidak menampik tudingan bila sekolah daring memberikan peluang anak ogah sekolah. Namun, kami belum tahu berapa jumlah anak putus sekolah di saat pandemi ini, karena belum ada laporan dari pihak sekolah,” ungkap Supriyono, Ketua PGRI Kabupaten Jember.

Pria asal Desa Grenden, Kecamatan Puger, ini memaparkan, kondisi ekonomi orang tua siswa juga ikut andil dalam menyebabkan anak putus sekolah. Sebab, untuk mengikuti pembelajaran online, dibutuhkan telepon genggam yang memadai dan harganya tidak murah.

“Lagi pula, selama ini sekolah belum memiliki kemampuan untuk meminjamkan HP kepada siswa. Padahal mereka wajib mengikuti pembelajaran daring setiap hari dari rumah. Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali anak didik berhenti sekolah,” imbuh Supriyono.

Terpisah, Endang Herawati, salah seorang wali murid asal Kecamatan Kalisat, menuturkan, jika pembelajaran daring tetap digelar, maka angka anak putus sekolah akan terus bertambah. “Jangan biarkan anak tidak lagi melanjutkan sekolah. Mereka itu kan generasi penerus bangsa. Karena itu, sekolah tatap muka harus kembali diadakan, dan sebagai orang tua murid saya mendukung keinginan Pemkab Jember untuk mengaktifkan kembali pembelajaran di kelas,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/