alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

SDN Sidomulyo 08 Bakal Ditutup

Gedung Diambil Alih, Siswa Tinggal Tujuh

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebenarnya, Zaenullah menyayangkan jika sekolah harus ditutup. Sebab, anak-anak yang tinggal di kawasan setempat harus bersekolah ke lokasi yang lebih jauh dari tempat tinggalnya. Dirinya khawatir, jarak itu menjadi kendala hingga membuat anak-anak yang ada di Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, enggan menempuh pendidikan. Dampaknya, semakin banyak anak yang putus sekolah.

Akibat rencana penutupan itu, Zaenullah mengaku harus menolak calon siswa baru yang hendak mendaftar di sekolah yang dia pimpin. “Sebenarnya banyak yang mau sekolah di sini. Tapi apa daya, sekolah harus ditutup karena tidak punya gedung sekolah sendiri,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, rupanya tak hanya gedung sekolah yang menumpang, tapi kondisi kelas juga memprihatinkan. Ruangannya cukup sempit, tak sesuai standar ruang kelas. Luasnya sekitar 5×6 meter, sementara ukuran kelas pada umumnya adalah 9×8 meter.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tembok ruang kelas yang dijadikan tempat belajar juga terlihat retak. Tak hanya itu, lantai kelas juga terbuat dari semen dan sudah berlubang. Demikian juga dengan bangku dan kursi. Kondisinya terkesan seadanya dan sudah banyak yang rusak.

Kendati begitu, kondisi yang serba memprihatinkan ini tak membuat siswa di sekolah tersebut putus asa. Mereka mengaku tetap semangat belajar di tengah keadaan yang serba terbatas. “Mudah-mudahan bupati mengganti sekolah kami dengan gedung baru,” kata Sella. Siswa kelas 6 ini juga mengaku bangga belajar di SDN Sidomulyo 08. Untuk itu, dia berharap Dinas Pendidikan Jember tidak sampai menutup sekolahnya tersebut.

- Advertisement -

Sebenarnya, Zaenullah menyayangkan jika sekolah harus ditutup. Sebab, anak-anak yang tinggal di kawasan setempat harus bersekolah ke lokasi yang lebih jauh dari tempat tinggalnya. Dirinya khawatir, jarak itu menjadi kendala hingga membuat anak-anak yang ada di Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, enggan menempuh pendidikan. Dampaknya, semakin banyak anak yang putus sekolah.

Akibat rencana penutupan itu, Zaenullah mengaku harus menolak calon siswa baru yang hendak mendaftar di sekolah yang dia pimpin. “Sebenarnya banyak yang mau sekolah di sini. Tapi apa daya, sekolah harus ditutup karena tidak punya gedung sekolah sendiri,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, rupanya tak hanya gedung sekolah yang menumpang, tapi kondisi kelas juga memprihatinkan. Ruangannya cukup sempit, tak sesuai standar ruang kelas. Luasnya sekitar 5×6 meter, sementara ukuran kelas pada umumnya adalah 9×8 meter.

Tembok ruang kelas yang dijadikan tempat belajar juga terlihat retak. Tak hanya itu, lantai kelas juga terbuat dari semen dan sudah berlubang. Demikian juga dengan bangku dan kursi. Kondisinya terkesan seadanya dan sudah banyak yang rusak.

Kendati begitu, kondisi yang serba memprihatinkan ini tak membuat siswa di sekolah tersebut putus asa. Mereka mengaku tetap semangat belajar di tengah keadaan yang serba terbatas. “Mudah-mudahan bupati mengganti sekolah kami dengan gedung baru,” kata Sella. Siswa kelas 6 ini juga mengaku bangga belajar di SDN Sidomulyo 08. Untuk itu, dia berharap Dinas Pendidikan Jember tidak sampai menutup sekolahnya tersebut.

Sebenarnya, Zaenullah menyayangkan jika sekolah harus ditutup. Sebab, anak-anak yang tinggal di kawasan setempat harus bersekolah ke lokasi yang lebih jauh dari tempat tinggalnya. Dirinya khawatir, jarak itu menjadi kendala hingga membuat anak-anak yang ada di Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, enggan menempuh pendidikan. Dampaknya, semakin banyak anak yang putus sekolah.

Akibat rencana penutupan itu, Zaenullah mengaku harus menolak calon siswa baru yang hendak mendaftar di sekolah yang dia pimpin. “Sebenarnya banyak yang mau sekolah di sini. Tapi apa daya, sekolah harus ditutup karena tidak punya gedung sekolah sendiri,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, rupanya tak hanya gedung sekolah yang menumpang, tapi kondisi kelas juga memprihatinkan. Ruangannya cukup sempit, tak sesuai standar ruang kelas. Luasnya sekitar 5×6 meter, sementara ukuran kelas pada umumnya adalah 9×8 meter.

Tembok ruang kelas yang dijadikan tempat belajar juga terlihat retak. Tak hanya itu, lantai kelas juga terbuat dari semen dan sudah berlubang. Demikian juga dengan bangku dan kursi. Kondisinya terkesan seadanya dan sudah banyak yang rusak.

Kendati begitu, kondisi yang serba memprihatinkan ini tak membuat siswa di sekolah tersebut putus asa. Mereka mengaku tetap semangat belajar di tengah keadaan yang serba terbatas. “Mudah-mudahan bupati mengganti sekolah kami dengan gedung baru,” kata Sella. Siswa kelas 6 ini juga mengaku bangga belajar di SDN Sidomulyo 08. Untuk itu, dia berharap Dinas Pendidikan Jember tidak sampai menutup sekolahnya tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/