SDN Sidomulyo 08 Bakal Ditutup

Gedung Diambil Alih, Siswa Tinggal Tujuh

MENUNGGU DITUTUP: Siswa kelas VI SDN Sidomulyo 08, Kecamatan Silo, yang hanya tinggal tujuh siswa sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang memprihatinkan. Tahun ajaran depan, sekolah tersebut bakal ditutup oleh pemerintah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah sekolah dasar negeri (SDN) yang ditutup bakal bertambah lagi. Setelah sebelumnya pemerintah daerah menutup dua lembaga, SDN Suci 04, Kecamatan Panti, dan SDN Bagon 02, Kecamatan Puger, kali ini SDN Sidomulyo 08, Kecamatan Silo, bakal menyusul. Sekolah yang ada di perbatasan Jember-Banyuwangi ini juga bakal ditutup oleh pemerintah.

IKLAN

Hal ini karena gedung sekolah yang merupakan rumah dinas karyawan akan diambil alih oleh pemiliknya, yakni Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Nasib SDN Sidomulyo 08 tersebut berada di ujung tanduk. Selain itu, pada tahun ajaran baru 2020 mendatang, sekolah ini tak lagi menerima siswa baru akibat rencana penutupan tersebut.

Selama ini, kondisi SDN Sidomulyo 08 memang cukup memprihatinkan. Lembaga itu tak memiliki gedung sendiri. Siswa yang mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) menempati dua rumah dinas milik Dinas Peternakan Provinsi Jawa timur. “Satu dipakai kelas dan satunya lagi untuk kantor,” ujar Zaenullah, Kepala SDN Sidomulyo 08 kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selain tak memiliki gedung sendiri, jumlah siswa juga minim. Saat ini hanya ada satu kelas yang dipertahankan, yaitu kelas enam. Jumlahnya siswanya tinggal tujuh anak. “Sekolah ini ditutup menunggu kelulusan kelas enam. Jadi, pada tahun ajaran baru 2020 nanti sudah resmi ditutup,” ujar Zaenullah.

Karena hanya satu kelas, tenaga pengajar pun cuma dua orang. Yakni kepala sekolah dan guru agama. “Kami pasrah mau ditempatkan di mana setelah SDN Sidomulyo 08 ini ditutup,” ujarnya.

Sebenarnya, Zaenullah menyayangkan jika sekolah harus ditutup. Sebab, anak-anak yang tinggal di kawasan setempat harus bersekolah ke lokasi yang lebih jauh dari tempat tinggalnya. Dirinya khawatir, jarak itu menjadi kendala hingga membuat anak-anak yang ada di Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, enggan menempuh pendidikan. Dampaknya, semakin banyak anak yang putus sekolah.

Akibat rencana penutupan itu, Zaenullah mengaku harus menolak calon siswa baru yang hendak mendaftar di sekolah yang dia pimpin. “Sebenarnya banyak yang mau sekolah di sini. Tapi apa daya, sekolah harus ditutup karena tidak punya gedung sekolah sendiri,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, rupanya tak hanya gedung sekolah yang menumpang, tapi kondisi kelas juga memprihatinkan. Ruangannya cukup sempit, tak sesuai standar ruang kelas. Luasnya sekitar 5×6 meter, sementara ukuran kelas pada umumnya adalah 9×8 meter.

Tembok ruang kelas yang dijadikan tempat belajar juga terlihat retak. Tak hanya itu, lantai kelas juga terbuat dari semen dan sudah berlubang. Demikian juga dengan bangku dan kursi. Kondisinya terkesan seadanya dan sudah banyak yang rusak.

Kendati begitu, kondisi yang serba memprihatinkan ini tak membuat siswa di sekolah tersebut putus asa. Mereka mengaku tetap semangat belajar di tengah keadaan yang serba terbatas. “Mudah-mudahan bupati mengganti sekolah kami dengan gedung baru,” kata Sella. Siswa kelas 6 ini juga mengaku bangga belajar di SDN Sidomulyo 08. Untuk itu, dia berharap Dinas Pendidikan Jember tidak sampai menutup sekolahnya tersebut.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih