alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Jadi Gudang Ilmu, Didukung Kiai As’ad

Sejarah Perjalanan Ponpes Nuris Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

Berkat doa, ketulusan, dan usahanya, Ponpes Nuris terus berkembang pesat dan maju. Kini, ponpes asuhan Gus Robith itu mampu mengantarakan para santri berprestasi. Terbukti, sudah menjadi budaya Ponpes Nuris memborong hadiah kompetisi nasional di setiap momentum lomba. Mulai dari sains, seni dan sastra, hingga ekstrakulikuler lainnya.

Sejak kedatangan Gus Robith dari Timur Tengah, tahun 2007, pihaknya mulai menemukan persoalan internal Nuris. Dengan naiknya capaian prestasi SMP Nuris kala itu, para santri mengalami sisi lemah dalam bacaan kitabnya. Mereka banyak menghabiskan waktu belajar pengetahuan umum, sehingga tidak seimbang dengan pengetahuan agamanya. “Itu menjadi tantangan bagi ponpes modern yang membuka sekolah umum” pungkasnya.

Akhirnya, Gus Robith memulai diskusi dengan abahnya untuk mendirikan lembaga yang unggul di bidang kitab kuning dan ilmu agama. Gagasan ini dimunculkan untuk mengimbangi pengetahuan umum yang sudah ada. Kemudian, pada 2008 didirikan MTs Unggulan Nuris untuk menguatkan keilmuan agama santri. “Saya melihat kondisi ponpes modern perlu melakukan penguatan lebih untuk ilmu agama, di sisi lain juga ilmu umumnya. Hal ini tergantung manajemen, SDM, dan santri,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dengan kedua program tersebut, santri Nuris betul-betul disiapkan untuk menjadi santri yang menguasai ilmu umum, namun juga kokoh ilmu agamanya. Salah satu contohnya, lulusan MTs unggulan diharapkan memahami kitab Jurmiyah dan Imrithi di bidang nahwu, amsilah tasrifiyah di bidang shorrof dan taqrib di bidang ilmu fiqih.

Dengan demikian, Ponpes Nuris telah menjawab tantangan pendidikan era sekarang. Keseimbangan ilmu pengetahuan umum dan agama berjalan dengan kedua buah gagasan tersebut. “Seperti diketahui, sekarang sulit ditemukan ponpes modern yang sama-sama maksimal memberikan ilmu agama dan ilmu umumnya,” ungkapnya. (mg4/c2/nur)

- Advertisement -

Berkat doa, ketulusan, dan usahanya, Ponpes Nuris terus berkembang pesat dan maju. Kini, ponpes asuhan Gus Robith itu mampu mengantarakan para santri berprestasi. Terbukti, sudah menjadi budaya Ponpes Nuris memborong hadiah kompetisi nasional di setiap momentum lomba. Mulai dari sains, seni dan sastra, hingga ekstrakulikuler lainnya.

Sejak kedatangan Gus Robith dari Timur Tengah, tahun 2007, pihaknya mulai menemukan persoalan internal Nuris. Dengan naiknya capaian prestasi SMP Nuris kala itu, para santri mengalami sisi lemah dalam bacaan kitabnya. Mereka banyak menghabiskan waktu belajar pengetahuan umum, sehingga tidak seimbang dengan pengetahuan agamanya. “Itu menjadi tantangan bagi ponpes modern yang membuka sekolah umum” pungkasnya.

Akhirnya, Gus Robith memulai diskusi dengan abahnya untuk mendirikan lembaga yang unggul di bidang kitab kuning dan ilmu agama. Gagasan ini dimunculkan untuk mengimbangi pengetahuan umum yang sudah ada. Kemudian, pada 2008 didirikan MTs Unggulan Nuris untuk menguatkan keilmuan agama santri. “Saya melihat kondisi ponpes modern perlu melakukan penguatan lebih untuk ilmu agama, di sisi lain juga ilmu umumnya. Hal ini tergantung manajemen, SDM, dan santri,” jelasnya.

Dengan kedua program tersebut, santri Nuris betul-betul disiapkan untuk menjadi santri yang menguasai ilmu umum, namun juga kokoh ilmu agamanya. Salah satu contohnya, lulusan MTs unggulan diharapkan memahami kitab Jurmiyah dan Imrithi di bidang nahwu, amsilah tasrifiyah di bidang shorrof dan taqrib di bidang ilmu fiqih.

Dengan demikian, Ponpes Nuris telah menjawab tantangan pendidikan era sekarang. Keseimbangan ilmu pengetahuan umum dan agama berjalan dengan kedua buah gagasan tersebut. “Seperti diketahui, sekarang sulit ditemukan ponpes modern yang sama-sama maksimal memberikan ilmu agama dan ilmu umumnya,” ungkapnya. (mg4/c2/nur)

Berkat doa, ketulusan, dan usahanya, Ponpes Nuris terus berkembang pesat dan maju. Kini, ponpes asuhan Gus Robith itu mampu mengantarakan para santri berprestasi. Terbukti, sudah menjadi budaya Ponpes Nuris memborong hadiah kompetisi nasional di setiap momentum lomba. Mulai dari sains, seni dan sastra, hingga ekstrakulikuler lainnya.

Sejak kedatangan Gus Robith dari Timur Tengah, tahun 2007, pihaknya mulai menemukan persoalan internal Nuris. Dengan naiknya capaian prestasi SMP Nuris kala itu, para santri mengalami sisi lemah dalam bacaan kitabnya. Mereka banyak menghabiskan waktu belajar pengetahuan umum, sehingga tidak seimbang dengan pengetahuan agamanya. “Itu menjadi tantangan bagi ponpes modern yang membuka sekolah umum” pungkasnya.

Akhirnya, Gus Robith memulai diskusi dengan abahnya untuk mendirikan lembaga yang unggul di bidang kitab kuning dan ilmu agama. Gagasan ini dimunculkan untuk mengimbangi pengetahuan umum yang sudah ada. Kemudian, pada 2008 didirikan MTs Unggulan Nuris untuk menguatkan keilmuan agama santri. “Saya melihat kondisi ponpes modern perlu melakukan penguatan lebih untuk ilmu agama, di sisi lain juga ilmu umumnya. Hal ini tergantung manajemen, SDM, dan santri,” jelasnya.

Dengan kedua program tersebut, santri Nuris betul-betul disiapkan untuk menjadi santri yang menguasai ilmu umum, namun juga kokoh ilmu agamanya. Salah satu contohnya, lulusan MTs unggulan diharapkan memahami kitab Jurmiyah dan Imrithi di bidang nahwu, amsilah tasrifiyah di bidang shorrof dan taqrib di bidang ilmu fiqih.

Dengan demikian, Ponpes Nuris telah menjawab tantangan pendidikan era sekarang. Keseimbangan ilmu pengetahuan umum dan agama berjalan dengan kedua buah gagasan tersebut. “Seperti diketahui, sekarang sulit ditemukan ponpes modern yang sama-sama maksimal memberikan ilmu agama dan ilmu umumnya,” ungkapnya. (mg4/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/