alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jadi Gudang Ilmu, Didukung Kiai As’ad

Sejarah Perjalanan Ponpes Nuris Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) yang berlokasi di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, didirikan oleh KH Muhyiddin Abdusshomad. Dulu, santri yang menimba ilmu hanya belasan orang. Namun, ponpes yang kini diasuh oleh Gus Robith Qoshidi itu berkembang pesat dan maju. Banyak hal yang dilahirkan gudang ilmu pengetahuan tersebut.

Baca Juga : Melesat, Ekonomi Digital Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Gus Robith menjelaskan, Ponpes Nuris lahir karena banyaknya pemuda Islam yang belajar di sekolah agama lain saat itu. Hal itu, membuat Kiai Muhyiddin ingin mendirikan sekolah umum di bawah naungan pesantren. Tanpa ragu, lembaga pendidikan SMP dibuka tahun 1983. Terobosan saat itu membuat banyak orang senang. Terlebih program sekolah umum pertama dimaksudkan untuk mewadahi pendidikan masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Niat Kiai Muhyidin juga mendapat banyak dukungan dari para ulama besar Jawa Timur. Tak ketinggalan KHR As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo kala itu, turun mendukung.

Menurutnya, pesantren tidak hanya wadah untuk menimba ilmu agama, namun juga mampu mencetak santri yang paham ilmu pengetahuan umum. Kiai Muhyiddin saat itu berpandangan bahwa adaptasi pada perkembangan zaman menjadi hal krusial yang harus dilakukan. Dengan lembaga SMP, masyarakat tidak kesulitan lagi mencari sekolah umum ke sekolah agama lain. “Dua tahun setelah berdirinya ponpes ini, abah saya mendirikan sekolah umum pertama,” tuturnya Gus Robith kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) yang berlokasi di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, didirikan oleh KH Muhyiddin Abdusshomad. Dulu, santri yang menimba ilmu hanya belasan orang. Namun, ponpes yang kini diasuh oleh Gus Robith Qoshidi itu berkembang pesat dan maju. Banyak hal yang dilahirkan gudang ilmu pengetahuan tersebut.

Baca Juga : Melesat, Ekonomi Digital Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Gus Robith menjelaskan, Ponpes Nuris lahir karena banyaknya pemuda Islam yang belajar di sekolah agama lain saat itu. Hal itu, membuat Kiai Muhyiddin ingin mendirikan sekolah umum di bawah naungan pesantren. Tanpa ragu, lembaga pendidikan SMP dibuka tahun 1983. Terobosan saat itu membuat banyak orang senang. Terlebih program sekolah umum pertama dimaksudkan untuk mewadahi pendidikan masyarakat.

Niat Kiai Muhyidin juga mendapat banyak dukungan dari para ulama besar Jawa Timur. Tak ketinggalan KHR As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo kala itu, turun mendukung.

Menurutnya, pesantren tidak hanya wadah untuk menimba ilmu agama, namun juga mampu mencetak santri yang paham ilmu pengetahuan umum. Kiai Muhyiddin saat itu berpandangan bahwa adaptasi pada perkembangan zaman menjadi hal krusial yang harus dilakukan. Dengan lembaga SMP, masyarakat tidak kesulitan lagi mencari sekolah umum ke sekolah agama lain. “Dua tahun setelah berdirinya ponpes ini, abah saya mendirikan sekolah umum pertama,” tuturnya Gus Robith kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) yang berlokasi di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, didirikan oleh KH Muhyiddin Abdusshomad. Dulu, santri yang menimba ilmu hanya belasan orang. Namun, ponpes yang kini diasuh oleh Gus Robith Qoshidi itu berkembang pesat dan maju. Banyak hal yang dilahirkan gudang ilmu pengetahuan tersebut.

Baca Juga : Melesat, Ekonomi Digital Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Gus Robith menjelaskan, Ponpes Nuris lahir karena banyaknya pemuda Islam yang belajar di sekolah agama lain saat itu. Hal itu, membuat Kiai Muhyiddin ingin mendirikan sekolah umum di bawah naungan pesantren. Tanpa ragu, lembaga pendidikan SMP dibuka tahun 1983. Terobosan saat itu membuat banyak orang senang. Terlebih program sekolah umum pertama dimaksudkan untuk mewadahi pendidikan masyarakat.

Niat Kiai Muhyidin juga mendapat banyak dukungan dari para ulama besar Jawa Timur. Tak ketinggalan KHR As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo kala itu, turun mendukung.

Menurutnya, pesantren tidak hanya wadah untuk menimba ilmu agama, namun juga mampu mencetak santri yang paham ilmu pengetahuan umum. Kiai Muhyiddin saat itu berpandangan bahwa adaptasi pada perkembangan zaman menjadi hal krusial yang harus dilakukan. Dengan lembaga SMP, masyarakat tidak kesulitan lagi mencari sekolah umum ke sekolah agama lain. “Dua tahun setelah berdirinya ponpes ini, abah saya mendirikan sekolah umum pertama,” tuturnya Gus Robith kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/