alexametrics
23.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Keluarga Ajukan Keberatan

Mobile_AP_Rectangle 1

Perlakuan yang diterima Vinka dari teman-temannya, sebenarnya juga terjadi kepada pelajar yang lain. Bahkan, protes semacam itu juga bisa berkembang ke aksi perundungan. Baik di aplikasi percakapan, media sosial, maupun secara langsung. Untuk itu, orang tua (ortu) siswa dan guru di sekolah diminta menjadi garda terdepan dalam upaya memulihkan trauma siswa yang menjadi korban. Karena mereka yang paling dekat dengan siswa tersebut.

Psikolog Marisa Selvy Helpiana menjelaskan, penguatan penyintas dapat dilakukan oleh orang tua atau guru yang mengetahui kasus ini. Penguatan tersebut dapat berupa penyampaiaan pada penyintas bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. “Bahwa apa yang dilakukan orang lain yang akhirnya berubah menjadi perundungan itu hanya untuk menghindarkan perasaan bersalah mereka saja,” ungkap Icha, sapaannya, kemarin (12/3).

Menurut Icha,untuk menghadapi masalah seperti itu, penyintas perlu menyosialisasikan dan mencari bantuan orang-orang terdekat. Misalnya, jika terjadi di sekolah, maka harus lapor pada guru dan orang tua. Jika dirasa efeknya sudah terlalu jauh, maka disarankan untuk melakukan bantuan secara profesional. “Dan jika langkah ini dirasa tidak ada titik terang, siswa yang bersangkubisa menghubungi telepon pelayanan sosial anak. Sehingga bisa ngobrol dengan nyaman dengan konselor profesan ional yang ramah,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapun hal yang wajib dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengembalikan kepercayaan diri siswa, adalah dengan menunjukan empati terhadap insiden yang berlangsung. Mereka harus medengarkan serta menghargai dan menyampaikan terimakasih atas apa yang sudah diutarakan. Selain itu, juga menjembatani komunikasi antara pihak yang merundung dengan korban pada waktu yang berbeda.

Harapannya, kata Icha, agar setiap anak dapat merasa dihargai daan memahami alasan dibalik perilaku tersebut. Langkah berikutnya adalah menujukan konsekuensi dari situasi itu. “Masing-masing ada konsekuensinya. Misalnya, korban akan menjadi malu, merasa terpojokkan dan sebagainya. Pelaku juga memperbaiki kesalahannya,” pungkasnya.

 

Reporter:Dian Cahyani
Fotografer:radarjember.id
Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

Perlakuan yang diterima Vinka dari teman-temannya, sebenarnya juga terjadi kepada pelajar yang lain. Bahkan, protes semacam itu juga bisa berkembang ke aksi perundungan. Baik di aplikasi percakapan, media sosial, maupun secara langsung. Untuk itu, orang tua (ortu) siswa dan guru di sekolah diminta menjadi garda terdepan dalam upaya memulihkan trauma siswa yang menjadi korban. Karena mereka yang paling dekat dengan siswa tersebut.

Psikolog Marisa Selvy Helpiana menjelaskan, penguatan penyintas dapat dilakukan oleh orang tua atau guru yang mengetahui kasus ini. Penguatan tersebut dapat berupa penyampaiaan pada penyintas bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. “Bahwa apa yang dilakukan orang lain yang akhirnya berubah menjadi perundungan itu hanya untuk menghindarkan perasaan bersalah mereka saja,” ungkap Icha, sapaannya, kemarin (12/3).

Menurut Icha,untuk menghadapi masalah seperti itu, penyintas perlu menyosialisasikan dan mencari bantuan orang-orang terdekat. Misalnya, jika terjadi di sekolah, maka harus lapor pada guru dan orang tua. Jika dirasa efeknya sudah terlalu jauh, maka disarankan untuk melakukan bantuan secara profesional. “Dan jika langkah ini dirasa tidak ada titik terang, siswa yang bersangkubisa menghubungi telepon pelayanan sosial anak. Sehingga bisa ngobrol dengan nyaman dengan konselor profesan ional yang ramah,” imbuhnya.

Adapun hal yang wajib dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengembalikan kepercayaan diri siswa, adalah dengan menunjukan empati terhadap insiden yang berlangsung. Mereka harus medengarkan serta menghargai dan menyampaikan terimakasih atas apa yang sudah diutarakan. Selain itu, juga menjembatani komunikasi antara pihak yang merundung dengan korban pada waktu yang berbeda.

Harapannya, kata Icha, agar setiap anak dapat merasa dihargai daan memahami alasan dibalik perilaku tersebut. Langkah berikutnya adalah menujukan konsekuensi dari situasi itu. “Masing-masing ada konsekuensinya. Misalnya, korban akan menjadi malu, merasa terpojokkan dan sebagainya. Pelaku juga memperbaiki kesalahannya,” pungkasnya.

 

Reporter:Dian Cahyani
Fotografer:radarjember.id
Editor: Mahrus Sholih

Perlakuan yang diterima Vinka dari teman-temannya, sebenarnya juga terjadi kepada pelajar yang lain. Bahkan, protes semacam itu juga bisa berkembang ke aksi perundungan. Baik di aplikasi percakapan, media sosial, maupun secara langsung. Untuk itu, orang tua (ortu) siswa dan guru di sekolah diminta menjadi garda terdepan dalam upaya memulihkan trauma siswa yang menjadi korban. Karena mereka yang paling dekat dengan siswa tersebut.

Psikolog Marisa Selvy Helpiana menjelaskan, penguatan penyintas dapat dilakukan oleh orang tua atau guru yang mengetahui kasus ini. Penguatan tersebut dapat berupa penyampaiaan pada penyintas bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. “Bahwa apa yang dilakukan orang lain yang akhirnya berubah menjadi perundungan itu hanya untuk menghindarkan perasaan bersalah mereka saja,” ungkap Icha, sapaannya, kemarin (12/3).

Menurut Icha,untuk menghadapi masalah seperti itu, penyintas perlu menyosialisasikan dan mencari bantuan orang-orang terdekat. Misalnya, jika terjadi di sekolah, maka harus lapor pada guru dan orang tua. Jika dirasa efeknya sudah terlalu jauh, maka disarankan untuk melakukan bantuan secara profesional. “Dan jika langkah ini dirasa tidak ada titik terang, siswa yang bersangkubisa menghubungi telepon pelayanan sosial anak. Sehingga bisa ngobrol dengan nyaman dengan konselor profesan ional yang ramah,” imbuhnya.

Adapun hal yang wajib dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengembalikan kepercayaan diri siswa, adalah dengan menunjukan empati terhadap insiden yang berlangsung. Mereka harus medengarkan serta menghargai dan menyampaikan terimakasih atas apa yang sudah diutarakan. Selain itu, juga menjembatani komunikasi antara pihak yang merundung dengan korban pada waktu yang berbeda.

Harapannya, kata Icha, agar setiap anak dapat merasa dihargai daan memahami alasan dibalik perilaku tersebut. Langkah berikutnya adalah menujukan konsekuensi dari situasi itu. “Masing-masing ada konsekuensinya. Misalnya, korban akan menjadi malu, merasa terpojokkan dan sebagainya. Pelaku juga memperbaiki kesalahannya,” pungkasnya.

 

Reporter:Dian Cahyani
Fotografer:radarjember.id
Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/