Kekurangan Siswa dan Sarpras, UN Harus Menumpang

BERHARAP SUKSES: Sejumlah siswa-siswi SMK saat mengikuti simulasi ujian berbasis komputer di SMK Mamba’ul Khoiriyatil Islamiyah (MHI) Kecamatan Bangsalsari, beberapa hari lalu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMK dipastikan terjadwal mulai Senin (16/3) mendatang. Meskipun semua lembaga telah melakukan persiapan sejak beberapa pekan kemarin, namun beberapa di antara mereka dipastikan tetap menumpang ujian di sekolah lain, seperti tahun-tahun sebelumnya.

IKLAN

Bukan tanpa alasan, meskipun hal itu sempat beberapa kali dilakukan dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang. “Tetap seperti tahun kemarin karena belum bisa mandiri. Makanya harus numpang,” ucap Muhsin Alatas, Kepala SMK Teknologi Pertanian, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari.

Alasannya utamanya, kata Muhsin, adalah karena jumlah minimal siswa di sekolahnya yang tidak sampai 20 siswa. Selain itu, lembaga yang baru dirintis sejak akhir 2015 itu juga belum memiliki sarana dan prasarana lengkap.

Untuk tetap bisa mengikutsertakan siswanya dalam UNBK, pihaknya menggabungkan para siswa dengan SMK Bustanul Ulum Langkap Bangsalsari. Meski begitu, Muhsin sendiri mengaku cukup optimistis. Sebab, selama beberapa hari kemarin sudah mengikuti berbagai try out. “Alhamdulillah, untuk saat ini, dengan bergabungnya kita itu, segala keperluannya untuk ujian sudah siap,” ujarnya yakin.

Hal yang sama diungkapkan oleh Mahrus Sadikin, Kepala SMK Plus Nurul Ulum, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Panti. Hampir senada dengan Muhsin, dirinya juga belum bisa melakukan ujian mandiri. “Tetapi, anak-anak sudah sangat siap. Bahkan, tak sabar ingin segera melaksanakan UNBK,” paparnya.

Mahrus menguraikan, sekolahnya saat ini harus bergabung mengikuti UNBK di SMK Negeri 1 Jember, sama seperti ujian tahun sebelumnya. Meskipun tidak terlibat secara teknis dalam persiapan ujian, namun dirinya tetap menyiapkan mental para siswanya. Hal itu dianggapnya penting agar para siswa tidak menganggap UN sebagai momok yang menakutkan. “Itu sudah dianggap ujian sehari-hari, karena buat mereka ujian adalah bagian dari seni untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar mereka,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dispendik Jatim di Jember, Lutfi Isa Anshori menambahkan, pihaknya memang meminta sekolah-sekolah yang memiliki keterbatasan agar bergabung ke sekolah lain. Termasuk salah satunya karena soal keterbatasan siswa yang jumlahnya di bawah 20 ataupun karena keterbatasan sarana serta prasarana. “Isitilahnya itu numpang, ke SMK-SMK lain. Itu yang bisa dilakukan oleh lembaga yang memiliki keterbatasan siswa dan sarana,” pungkasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti