alexametrics
22.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Penanganan Lamban, Nasib Siswa Korban Rebutan Jabatan Masih Ngambang

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMER.ID- Sepekan lagi tahun ajaran baru dimulai. Seluruh siswa akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah baru atau ruang kelas barunya. Namun, hal ini masih membuat ragu belasan siswa MTs NU Albadar, karena sampai saat ini belum menerima ijazah.

Kasus di MTs NU Albadar bisa menjadi contoh penanganan dunia pendidikan di Jember yang lamban. Lantaran jabatan kepala madrasahnya sempat terjadi dualisme, ada belasan siswa yang sampai saat ini belum mendapatkan ijazah. Para siswa itu pun tercatat telah mendaftar di sejumlah sekolah, namun belum punya pegangan pasti, yaitu kepastian ijazah.

Pikiran siswa lulusan MTs itu pun bisa dibilang tergolong masih labil. Mereka bahkan mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan keadaan. Alhasil, ada yang sempat contong ke kepala madrasah lama dan baru.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Siswa di Jember Sambut Baik PTM, Katanya Bisa Jumpa Kawan Baru

Namun demikian, apa pun yang terjadi, belasan siswa yang belum mendapatkan ijazah wajib dilindungi oleh negara. Dijamin pendidikannya. Konflik dualisme harus diakui oleh semua pihak, bahwa itu adalah akar yang menjadikan belasan siswa menjadi korban.

Kasus dualisme yang membuat belasan siswa menjadi korban itu sejatinya telah terjadi cukup lama. Namun, penyelesaian konflik terkesan lamban dan tidak ada ketegasan. Lantas, apabila mereka nanti tidak diterima di sekolah yang baru, siapa yang akan disalahkan? Apakah guru yang berkonflik, atau justru siswa yang sebenarnya menjadi korban rebutan jabatan kepala madrasah?

Kabar terakhir, siswa yang belum mendapat ijazah itu sudah mendaftar ke berbagai sekolah. Namun, mereka tetap ragu apakah nantinya akan tetap diterima atau tidak. Sebab, sampai berita ini ditulis, belum ada kepastian yang menjamin mereka.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMER.ID- Sepekan lagi tahun ajaran baru dimulai. Seluruh siswa akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah baru atau ruang kelas barunya. Namun, hal ini masih membuat ragu belasan siswa MTs NU Albadar, karena sampai saat ini belum menerima ijazah.

Kasus di MTs NU Albadar bisa menjadi contoh penanganan dunia pendidikan di Jember yang lamban. Lantaran jabatan kepala madrasahnya sempat terjadi dualisme, ada belasan siswa yang sampai saat ini belum mendapatkan ijazah. Para siswa itu pun tercatat telah mendaftar di sejumlah sekolah, namun belum punya pegangan pasti, yaitu kepastian ijazah.

Pikiran siswa lulusan MTs itu pun bisa dibilang tergolong masih labil. Mereka bahkan mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan keadaan. Alhasil, ada yang sempat contong ke kepala madrasah lama dan baru.

BACA JUGA: Siswa di Jember Sambut Baik PTM, Katanya Bisa Jumpa Kawan Baru

Namun demikian, apa pun yang terjadi, belasan siswa yang belum mendapatkan ijazah wajib dilindungi oleh negara. Dijamin pendidikannya. Konflik dualisme harus diakui oleh semua pihak, bahwa itu adalah akar yang menjadikan belasan siswa menjadi korban.

Kasus dualisme yang membuat belasan siswa menjadi korban itu sejatinya telah terjadi cukup lama. Namun, penyelesaian konflik terkesan lamban dan tidak ada ketegasan. Lantas, apabila mereka nanti tidak diterima di sekolah yang baru, siapa yang akan disalahkan? Apakah guru yang berkonflik, atau justru siswa yang sebenarnya menjadi korban rebutan jabatan kepala madrasah?

Kabar terakhir, siswa yang belum mendapat ijazah itu sudah mendaftar ke berbagai sekolah. Namun, mereka tetap ragu apakah nantinya akan tetap diterima atau tidak. Sebab, sampai berita ini ditulis, belum ada kepastian yang menjamin mereka.

JEMBER, RADARJEMER.ID- Sepekan lagi tahun ajaran baru dimulai. Seluruh siswa akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah baru atau ruang kelas barunya. Namun, hal ini masih membuat ragu belasan siswa MTs NU Albadar, karena sampai saat ini belum menerima ijazah.

Kasus di MTs NU Albadar bisa menjadi contoh penanganan dunia pendidikan di Jember yang lamban. Lantaran jabatan kepala madrasahnya sempat terjadi dualisme, ada belasan siswa yang sampai saat ini belum mendapatkan ijazah. Para siswa itu pun tercatat telah mendaftar di sejumlah sekolah, namun belum punya pegangan pasti, yaitu kepastian ijazah.

Pikiran siswa lulusan MTs itu pun bisa dibilang tergolong masih labil. Mereka bahkan mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan keadaan. Alhasil, ada yang sempat contong ke kepala madrasah lama dan baru.

BACA JUGA: Siswa di Jember Sambut Baik PTM, Katanya Bisa Jumpa Kawan Baru

Namun demikian, apa pun yang terjadi, belasan siswa yang belum mendapatkan ijazah wajib dilindungi oleh negara. Dijamin pendidikannya. Konflik dualisme harus diakui oleh semua pihak, bahwa itu adalah akar yang menjadikan belasan siswa menjadi korban.

Kasus dualisme yang membuat belasan siswa menjadi korban itu sejatinya telah terjadi cukup lama. Namun, penyelesaian konflik terkesan lamban dan tidak ada ketegasan. Lantas, apabila mereka nanti tidak diterima di sekolah yang baru, siapa yang akan disalahkan? Apakah guru yang berkonflik, atau justru siswa yang sebenarnya menjadi korban rebutan jabatan kepala madrasah?

Kabar terakhir, siswa yang belum mendapat ijazah itu sudah mendaftar ke berbagai sekolah. Namun, mereka tetap ragu apakah nantinya akan tetap diterima atau tidak. Sebab, sampai berita ini ditulis, belum ada kepastian yang menjamin mereka.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/