alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Bioteknologi Jadi Solusi Kekurangan Pangan

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Persoalan kekurangan pangan yang  dihadapi oleh Indonesia dan beberapa negara lainnya menjadi perhatian serius. Hal itu terjadi karena perubahan cuaca, alih guna lahan pertanian, hingga semakin bertambahnya populasi manusia. Bioteknologi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini.

Bila terlambat dan tidak ada langkah antisipasi yang tepat mengatasinya, ancaman kelaparan bakal melanda dunia. Pemerintah bersama akademisi sedang mengembangkan pemanfaatan bioteknologi untuk pertanian. Namun, pemanfaatan produk pertanian hasil rekayasa genetika harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Yakni  berlandaskan pada keamanan pangan, keamanan pakan, dan keamanan lingkungan, sebelum masuk ke tahapan komersialisasi.

Pembahasan tentang hasil-hasil penelitian dan perkembangan terbaru di bidang bioteknologi serta permasalahannya mengemuka dalam seminar internasional bertajuk Agricultural Biotechnology and Biosafety selama dua hari di Kampus Tegalboto, (10/7) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Seminar hasil kerja sama antara Universitas Jember dengan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia dan CropLife Indonesia ini menghadirkan para akademisi, pemerintah selaku regulator, dan praktisi beserta pelaku bisnis. “Masih ada kekhawatiran di kalangan masyarakat akan bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi kesehatan manusia maupun keamanan lingkungan dari produk rekayasa genetika (PRG),” jelas Prof Bambang Sugiharto, ketua panitia kegiatan.

Menurut dia, PRG bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan pangan maupun sebagai bahan tanam pada usaha budi daya pertanian. Keraguan akan keamanan tanaman PRG akan tetap ada selama jaminan keamanan masih belum bisa diberikan. “Oleh karena itu, hasil seminar kali ini sekaligus menjadi bahan untuk memberikan literasi bioteknologi dan PRG bagi masyarakat umum,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua CDAST Universitas Jember itu.

Roy Sparingga, anggota Komisi Keamanan Hayati PRG menambahkan, jaminan keamanan produk hasil bioteknologi termasuk PRG mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan terhadap semua produk rekayasa genetika yang beredar di Indonesia.

Pengawasan itu dilakukan dengan ketat, baik dari sisi keamanan pangan, pakan, maupun lingkungan. Tujuannya untuk meminimalkan efek negatif yang mungkin ada. “Sebenarnya PRG sudah masuk ke Indonesia sudah lebih dari 20 tahunan,” ungkapnya.

Misalnya, kedelai yang berasal dari Amerika Serikat yang digunakan sebagai bahan tempe dan tahu. “Selama ini aman dikonsumsi oleh masyarakat,” ujar mantan kepala BPOM ini.

Winarno Tohir, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia menambahkan, bioteknologi sebagai salah satu antisipasi akan kekurangan pangan. Lahan pertanian di Indonesia semakin menyusut. Namun, di sisi lain ada lahan potensial yang menunggu digarap. “Kita punya 30 juta hektare lahan rawa, 10 juta hektare di antaranya bisa segera dimanfaatkan,” tuturnya.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Persoalan kekurangan pangan yang  dihadapi oleh Indonesia dan beberapa negara lainnya menjadi perhatian serius. Hal itu terjadi karena perubahan cuaca, alih guna lahan pertanian, hingga semakin bertambahnya populasi manusia. Bioteknologi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini.

Bila terlambat dan tidak ada langkah antisipasi yang tepat mengatasinya, ancaman kelaparan bakal melanda dunia. Pemerintah bersama akademisi sedang mengembangkan pemanfaatan bioteknologi untuk pertanian. Namun, pemanfaatan produk pertanian hasil rekayasa genetika harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Yakni  berlandaskan pada keamanan pangan, keamanan pakan, dan keamanan lingkungan, sebelum masuk ke tahapan komersialisasi.

Pembahasan tentang hasil-hasil penelitian dan perkembangan terbaru di bidang bioteknologi serta permasalahannya mengemuka dalam seminar internasional bertajuk Agricultural Biotechnology and Biosafety selama dua hari di Kampus Tegalboto, (10/7) kemarin.

Seminar hasil kerja sama antara Universitas Jember dengan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia dan CropLife Indonesia ini menghadirkan para akademisi, pemerintah selaku regulator, dan praktisi beserta pelaku bisnis. “Masih ada kekhawatiran di kalangan masyarakat akan bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi kesehatan manusia maupun keamanan lingkungan dari produk rekayasa genetika (PRG),” jelas Prof Bambang Sugiharto, ketua panitia kegiatan.

Menurut dia, PRG bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan pangan maupun sebagai bahan tanam pada usaha budi daya pertanian. Keraguan akan keamanan tanaman PRG akan tetap ada selama jaminan keamanan masih belum bisa diberikan. “Oleh karena itu, hasil seminar kali ini sekaligus menjadi bahan untuk memberikan literasi bioteknologi dan PRG bagi masyarakat umum,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua CDAST Universitas Jember itu.

Roy Sparingga, anggota Komisi Keamanan Hayati PRG menambahkan, jaminan keamanan produk hasil bioteknologi termasuk PRG mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan terhadap semua produk rekayasa genetika yang beredar di Indonesia.

Pengawasan itu dilakukan dengan ketat, baik dari sisi keamanan pangan, pakan, maupun lingkungan. Tujuannya untuk meminimalkan efek negatif yang mungkin ada. “Sebenarnya PRG sudah masuk ke Indonesia sudah lebih dari 20 tahunan,” ungkapnya.

Misalnya, kedelai yang berasal dari Amerika Serikat yang digunakan sebagai bahan tempe dan tahu. “Selama ini aman dikonsumsi oleh masyarakat,” ujar mantan kepala BPOM ini.

Winarno Tohir, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia menambahkan, bioteknologi sebagai salah satu antisipasi akan kekurangan pangan. Lahan pertanian di Indonesia semakin menyusut. Namun, di sisi lain ada lahan potensial yang menunggu digarap. “Kita punya 30 juta hektare lahan rawa, 10 juta hektare di antaranya bisa segera dimanfaatkan,” tuturnya.

RADAR JEMBER.ID – Persoalan kekurangan pangan yang  dihadapi oleh Indonesia dan beberapa negara lainnya menjadi perhatian serius. Hal itu terjadi karena perubahan cuaca, alih guna lahan pertanian, hingga semakin bertambahnya populasi manusia. Bioteknologi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini.

Bila terlambat dan tidak ada langkah antisipasi yang tepat mengatasinya, ancaman kelaparan bakal melanda dunia. Pemerintah bersama akademisi sedang mengembangkan pemanfaatan bioteknologi untuk pertanian. Namun, pemanfaatan produk pertanian hasil rekayasa genetika harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Yakni  berlandaskan pada keamanan pangan, keamanan pakan, dan keamanan lingkungan, sebelum masuk ke tahapan komersialisasi.

Pembahasan tentang hasil-hasil penelitian dan perkembangan terbaru di bidang bioteknologi serta permasalahannya mengemuka dalam seminar internasional bertajuk Agricultural Biotechnology and Biosafety selama dua hari di Kampus Tegalboto, (10/7) kemarin.

Seminar hasil kerja sama antara Universitas Jember dengan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia dan CropLife Indonesia ini menghadirkan para akademisi, pemerintah selaku regulator, dan praktisi beserta pelaku bisnis. “Masih ada kekhawatiran di kalangan masyarakat akan bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi kesehatan manusia maupun keamanan lingkungan dari produk rekayasa genetika (PRG),” jelas Prof Bambang Sugiharto, ketua panitia kegiatan.

Menurut dia, PRG bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan pangan maupun sebagai bahan tanam pada usaha budi daya pertanian. Keraguan akan keamanan tanaman PRG akan tetap ada selama jaminan keamanan masih belum bisa diberikan. “Oleh karena itu, hasil seminar kali ini sekaligus menjadi bahan untuk memberikan literasi bioteknologi dan PRG bagi masyarakat umum,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua CDAST Universitas Jember itu.

Roy Sparingga, anggota Komisi Keamanan Hayati PRG menambahkan, jaminan keamanan produk hasil bioteknologi termasuk PRG mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan terhadap semua produk rekayasa genetika yang beredar di Indonesia.

Pengawasan itu dilakukan dengan ketat, baik dari sisi keamanan pangan, pakan, maupun lingkungan. Tujuannya untuk meminimalkan efek negatif yang mungkin ada. “Sebenarnya PRG sudah masuk ke Indonesia sudah lebih dari 20 tahunan,” ungkapnya.

Misalnya, kedelai yang berasal dari Amerika Serikat yang digunakan sebagai bahan tempe dan tahu. “Selama ini aman dikonsumsi oleh masyarakat,” ujar mantan kepala BPOM ini.

Winarno Tohir, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia menambahkan, bioteknologi sebagai salah satu antisipasi akan kekurangan pangan. Lahan pertanian di Indonesia semakin menyusut. Namun, di sisi lain ada lahan potensial yang menunggu digarap. “Kita punya 30 juta hektare lahan rawa, 10 juta hektare di antaranya bisa segera dimanfaatkan,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/