Tangkal Hoaks, Rawat Kerukunan Beragama

Gereja Katolik Santo Yusuf for Radar Jember RAWAT KERUKUNAN: Rijal M.Z saat menjadi pembicara dalam acara sarasehan dan dialog lintas iman di Gereja Katolik Santo Yusuf, Jember.

RADARJEMBER.ID- Seiring dengan berkembangnya media sosial, kabar bohong atau hoaks yang disertai dengan ujaran kebencian menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Pasalnya, kabar hoaks dan ujaran kebencian yang mudah viral melalui media sosial, sering kali memicu konflik.

IKLAN

“Seperti kejadian di Tanjung Balai yang mengakibatkan sebuah wihara dibakar. Itu kan berawal dari pelintiran berita sekaligus hoaks yang disebarkan melalui pesan WA dan media sosial,” tutur Rijal Mumazziq Z, salah satu pembicara yang dihadirkan dalam Sarasehan Kebhinnekaan Dialog Lintas Iman yang digelar di aula GOR SMAK Santo Paulus, Jember. Kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, terjadi akhir Juli 2016 yang mengakibatkan belasan rumah ibadah hangus dibakar, dipicu karena kesalahpahaman yang kemudian merebak di media sosial.

Lebih lanjut, Rijal menekankan pentingnya sikap kenegarawanan dalam mengatasi atau mencegah konflik bernuansa SARA. Salah satunya adalah sikap Presiden Gus Dur terkait konflik Ambon pada tahun 1999. “Saat itu, beberapa tokoh Islam garis keras meminta Gus Dur agar mengirim Banser ke Ambon untuk membela umat Islam dan melawan umat Kristen. Namun, usul itu langsung ditolak Gus Dur, karena ingin untuk melerai konflik,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (Inaifas) Kencong, Jember ini.

Dari sisi politis, apa yang dilakukan Gus Dur, menurut Rijal sebenarnya tidak menguntungkan dirinya sendiri. Sebab, jika mau, Gus Dur bisa saja memanfaatkan konflik tersebut untuk menaikkan citranya dengan dianggap sebagai pembela umat Islam. “Tapi justru di situlah Gus Dur membuktikan diri sebagai seorang negarawan, bukan politisi,” tutur alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Gus Dur juga menunjukkan komitmennya dalam kerukunan antarumat beragama yang masih terasa hingga kini. Salah satunya adalah pengamanan gereja saat Natal yang dilakukan oleh Banser NU. “Sebenarnya, Gus Dur adalah yang pertama kali memerintahkan agar Banser ikut membantu menjaga gereja,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kota Surabaya ini.

Perintah Gus Dur agar Banser ikut mengamankan gereja bukannya tanpa risiko. Hingga kini, langkah tersebut sering kali disalahpahami oleh sebagian orang. “Padahal, melalui langkah ini Gus Dur seolah ingin menitipkan muslim tinggal sebagai minoritas di daerahnya, agar juga ikut dijaga oleh tokoh-tokoh agama lain,” tutur Rijal.

Acara sarasehan dan dialog lintas iman tersebut digelar dalam rangka ulang tahun Paroki Santo Yusup Jember. “Dengan kondisi Indonesia saat ini, kami ingin turut berperan menjaga kedamaian, antara lain dengan turut mengajak menumpas kabar bohong dan ujaran kebencian,” tutur FX. Yiddi Purwa Mardianta, Ketua Panitia Sarasehan Kebhinnekaan Dialog Lintas Iman HUT Paroki Santo Yusup Jember ke-90.

Upaya merawat toleransi dan perdamaian ini, menurut Yiddi, menjadi salah satu perhatian dari Gereja Katolik Santo Yusuf. “Sejak lama kami rutin menggelar komunikasi dengan tokoh-tokoh agama lain. Seperti sambaing ke beberapa pesantren di Jember,” tutur Yiddi.

Tak hanya di tataran elite, langkah serupa juga dilakukan di tingkat pelajar. Antara lain dengan program live in. “Jadi, kami ada program, pelajar dari SMAK Santo Paulus sesekali menginap bersama dengan rekan-rekannya dari SMK Darul Muqomah. Juga di Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, asuhan KH Muqit Arief,” pungkas pria yang juga menjadi Pengawas Pendidikan Agama Katolik di Kemenag Jember ini.

Reporter :Adi Faizin
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :