alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Saksi Bisu Penjajahan dan Perjuangan Santri

Ada sebuah jam peninggalan pemerintah Belanda pada masa penjajahan di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum. Jam yang disebut berusia lebih dari satu abad itu tersimpan rapi dan masih berfungsi normal.

Mobile_AP_Rectangle 1

Keberadaan jam itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Salah satunya Y Setiyo Hadi, Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada. Dikatakan, benda itu usianya mencapai 100 tahun lebih. Dia meyakinkan, jam itu bisa dimasukkan dalam objek diduga cagar budaya (ODCB). “Itu sudah ada undang-undang yang mengatur kategori benda bersejarah. Salah satunya minimal usia 50 tahunan,” tuturnya.

Dikatakan, jam Junghans tersebut layak diusulkan sebagai benda cagar budaya. Syaratnya telah terpenuhi dalam usulan benda bersejarah di dalam undang-undang. “Dalam pasal 5, itu sudah jelas, pertama berusia 50 tahun, kedua mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. Kemudian ketiga, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan,” jelas Yopi. Sedangkan yang keempat telah memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Yopi menjelaskan, usia jam kuno dapat dilihat pemakaian logonya, merek dagang, jam Junghans dari Jerman. “Diperkirakan bahwa jam tersebut diproduksi antara tahun 1.890 Masehi sampai 1.900 Masehi,” tandasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jam Kuno tersebut, tambah Yopi, mewakili gaya pembuatan aksesori jam era 1.890 sampai 1.900 Masehi. Gaya produksi merek jam Junghans pada masa pemakaian logo yang tertera di material jam antara tahun 1.890 sampai 1.900, sehingga gayanya melebih 100 tahun.

Jam Junghans ini memiliki nilai sejarah bagi pemiliknya, termasuk keberadaannya di Jember. Dalam perkembangan Islam di wilayah timur Jawa juga ikut mewarnai perkembangan peradaban. “Tiga nilai sejarah ini melekat pada jam kuno yang berada di Masjid Pesantren Raudlatul Ulum,” tandas pria yang bergelut di dunia sejarah tersebut.

Benda bersejarah seperti itu, menurutnya, perlu dicatat. Paling tidak mejadi saksi bisu atas perkembangan zaman di Jember. “Memang betul era ‘Bupati Londo’ di Jember, antara tahun 1.883 sampai 1.928 Masehi,” pungkasnya. (c2/nur)

- Advertisement -

Keberadaan jam itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Salah satunya Y Setiyo Hadi, Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada. Dikatakan, benda itu usianya mencapai 100 tahun lebih. Dia meyakinkan, jam itu bisa dimasukkan dalam objek diduga cagar budaya (ODCB). “Itu sudah ada undang-undang yang mengatur kategori benda bersejarah. Salah satunya minimal usia 50 tahunan,” tuturnya.

Dikatakan, jam Junghans tersebut layak diusulkan sebagai benda cagar budaya. Syaratnya telah terpenuhi dalam usulan benda bersejarah di dalam undang-undang. “Dalam pasal 5, itu sudah jelas, pertama berusia 50 tahun, kedua mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. Kemudian ketiga, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan,” jelas Yopi. Sedangkan yang keempat telah memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Yopi menjelaskan, usia jam kuno dapat dilihat pemakaian logonya, merek dagang, jam Junghans dari Jerman. “Diperkirakan bahwa jam tersebut diproduksi antara tahun 1.890 Masehi sampai 1.900 Masehi,” tandasnya.

Jam Kuno tersebut, tambah Yopi, mewakili gaya pembuatan aksesori jam era 1.890 sampai 1.900 Masehi. Gaya produksi merek jam Junghans pada masa pemakaian logo yang tertera di material jam antara tahun 1.890 sampai 1.900, sehingga gayanya melebih 100 tahun.

Jam Junghans ini memiliki nilai sejarah bagi pemiliknya, termasuk keberadaannya di Jember. Dalam perkembangan Islam di wilayah timur Jawa juga ikut mewarnai perkembangan peradaban. “Tiga nilai sejarah ini melekat pada jam kuno yang berada di Masjid Pesantren Raudlatul Ulum,” tandas pria yang bergelut di dunia sejarah tersebut.

Benda bersejarah seperti itu, menurutnya, perlu dicatat. Paling tidak mejadi saksi bisu atas perkembangan zaman di Jember. “Memang betul era ‘Bupati Londo’ di Jember, antara tahun 1.883 sampai 1.928 Masehi,” pungkasnya. (c2/nur)

Keberadaan jam itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Salah satunya Y Setiyo Hadi, Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada. Dikatakan, benda itu usianya mencapai 100 tahun lebih. Dia meyakinkan, jam itu bisa dimasukkan dalam objek diduga cagar budaya (ODCB). “Itu sudah ada undang-undang yang mengatur kategori benda bersejarah. Salah satunya minimal usia 50 tahunan,” tuturnya.

Dikatakan, jam Junghans tersebut layak diusulkan sebagai benda cagar budaya. Syaratnya telah terpenuhi dalam usulan benda bersejarah di dalam undang-undang. “Dalam pasal 5, itu sudah jelas, pertama berusia 50 tahun, kedua mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. Kemudian ketiga, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan,” jelas Yopi. Sedangkan yang keempat telah memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Yopi menjelaskan, usia jam kuno dapat dilihat pemakaian logonya, merek dagang, jam Junghans dari Jerman. “Diperkirakan bahwa jam tersebut diproduksi antara tahun 1.890 Masehi sampai 1.900 Masehi,” tandasnya.

Jam Kuno tersebut, tambah Yopi, mewakili gaya pembuatan aksesori jam era 1.890 sampai 1.900 Masehi. Gaya produksi merek jam Junghans pada masa pemakaian logo yang tertera di material jam antara tahun 1.890 sampai 1.900, sehingga gayanya melebih 100 tahun.

Jam Junghans ini memiliki nilai sejarah bagi pemiliknya, termasuk keberadaannya di Jember. Dalam perkembangan Islam di wilayah timur Jawa juga ikut mewarnai perkembangan peradaban. “Tiga nilai sejarah ini melekat pada jam kuno yang berada di Masjid Pesantren Raudlatul Ulum,” tandas pria yang bergelut di dunia sejarah tersebut.

Benda bersejarah seperti itu, menurutnya, perlu dicatat. Paling tidak mejadi saksi bisu atas perkembangan zaman di Jember. “Memang betul era ‘Bupati Londo’ di Jember, antara tahun 1.883 sampai 1.928 Masehi,” pungkasnya. (c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/