alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Saksi Bisu Penjajahan dan Perjuangan Santri

Ada sebuah jam peninggalan pemerintah Belanda pada masa penjajahan di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum. Jam yang disebut berusia lebih dari satu abad itu tersimpan rapi dan masih berfungsi normal.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Benda bersejarah atau yang kuno-kuno memiliki tempat tersendiri bagi sebagian orang. Mulai dari jenis batu, sepeda, hingga barang antik yang lain. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatul Ulum juga ada benda lawas, yaitu sebuah jam dinding berukuran jumbo.

BACA JUGA : Siapkan Entrepreneur Khusus bagi santri

Jam tersebut diklaim telah memiliki usia lebih dari seratus tahun. Jam itu bermerek Junghans dan disebut menjadi saksi pada masa penjajahan hingga perkembangan peradaban di Kabupaten Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum yang sekarang, dulunya sang pendiri ponpes, KH Ahmad Syukri, pernah ditahan pemerintah Belanda. Penahanan dilakukan karena melaksanakan salat Jumat berjamaah. Tanpa izin. Hal itu pun dianggap sebagai ancaman oleh Belanda.

Kiai karismatik tersebut dipenjara di kantor pemerintahan waktu itu. “Pada waktu kakek saya dipenjara, anak dari Bupati Jember waktu itu sakit parah. Beberapa dokter spesial tidak bisa menyembuhkannya. Akhirnya ada anak buah dari bupati tersebut yang menyuruh meminta doa ke kakek saya,” ungkap Kiai Misbah. Selang beberapa waktu setelah didoakan, anak bupati tersebut sembuh.

Nah, sebagai tanda terima kasih, bupati memberikan hadiah kepada almarhum Kiai Syukri. Salah satunya adalah jam kuno merek Junghans. Sejak saat itu, jam terus dirawat dan sekarang ada di masjid ponpes yang berlokasi di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Benda bersejarah atau yang kuno-kuno memiliki tempat tersendiri bagi sebagian orang. Mulai dari jenis batu, sepeda, hingga barang antik yang lain. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatul Ulum juga ada benda lawas, yaitu sebuah jam dinding berukuran jumbo.

BACA JUGA : Siapkan Entrepreneur Khusus bagi santri

Jam tersebut diklaim telah memiliki usia lebih dari seratus tahun. Jam itu bermerek Junghans dan disebut menjadi saksi pada masa penjajahan hingga perkembangan peradaban di Kabupaten Jember.

Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum yang sekarang, dulunya sang pendiri ponpes, KH Ahmad Syukri, pernah ditahan pemerintah Belanda. Penahanan dilakukan karena melaksanakan salat Jumat berjamaah. Tanpa izin. Hal itu pun dianggap sebagai ancaman oleh Belanda.

Kiai karismatik tersebut dipenjara di kantor pemerintahan waktu itu. “Pada waktu kakek saya dipenjara, anak dari Bupati Jember waktu itu sakit parah. Beberapa dokter spesial tidak bisa menyembuhkannya. Akhirnya ada anak buah dari bupati tersebut yang menyuruh meminta doa ke kakek saya,” ungkap Kiai Misbah. Selang beberapa waktu setelah didoakan, anak bupati tersebut sembuh.

Nah, sebagai tanda terima kasih, bupati memberikan hadiah kepada almarhum Kiai Syukri. Salah satunya adalah jam kuno merek Junghans. Sejak saat itu, jam terus dirawat dan sekarang ada di masjid ponpes yang berlokasi di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Benda bersejarah atau yang kuno-kuno memiliki tempat tersendiri bagi sebagian orang. Mulai dari jenis batu, sepeda, hingga barang antik yang lain. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatul Ulum juga ada benda lawas, yaitu sebuah jam dinding berukuran jumbo.

BACA JUGA : Siapkan Entrepreneur Khusus bagi santri

Jam tersebut diklaim telah memiliki usia lebih dari seratus tahun. Jam itu bermerek Junghans dan disebut menjadi saksi pada masa penjajahan hingga perkembangan peradaban di Kabupaten Jember.

Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum yang sekarang, dulunya sang pendiri ponpes, KH Ahmad Syukri, pernah ditahan pemerintah Belanda. Penahanan dilakukan karena melaksanakan salat Jumat berjamaah. Tanpa izin. Hal itu pun dianggap sebagai ancaman oleh Belanda.

Kiai karismatik tersebut dipenjara di kantor pemerintahan waktu itu. “Pada waktu kakek saya dipenjara, anak dari Bupati Jember waktu itu sakit parah. Beberapa dokter spesial tidak bisa menyembuhkannya. Akhirnya ada anak buah dari bupati tersebut yang menyuruh meminta doa ke kakek saya,” ungkap Kiai Misbah. Selang beberapa waktu setelah didoakan, anak bupati tersebut sembuh.

Nah, sebagai tanda terima kasih, bupati memberikan hadiah kepada almarhum Kiai Syukri. Salah satunya adalah jam kuno merek Junghans. Sejak saat itu, jam terus dirawat dan sekarang ada di masjid ponpes yang berlokasi di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/