alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Ujian Daring Banyak Dicurangi

Siswa Menyebut Sudah Jadi Rahasia Umum

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belajar jarak jauh di masa pandemi ini  rupanya berlanjut hingga ujian. Tahun ini, pelaksanaan ujian satuan pendidikan (USP) tingkat SMA ada yang dilaksanakan secara daring. Ternyata, terkuak adanya potensi kecurangan dalam ujian daring tersebut. Sebab, siswa leluasa membuka peramban untuk mencari jawaban. Terlebih, tidak ada pengawasan khusus terhadap murid yang sedang mengerjakan soal.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Jember, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jember telah menetapkan pelaksanaan USP dan evaluasi hasil belajar berbasis komputer dan gawai. Baik di SMA negeri maupun swasta. Teknisnya, USP dapat dilakukan secara tertulis dengan dua metode. Bisa luring ataupun daring. Nah, khusus yang memilih daring inilah yang menimbulkan kekhawatiran, karena berpotensi menimbulkan kecurangan.

Vinda Andriana, salah satu murid di SMA Negeri 3 Jember, buka kartu tentang itu. Pelajar jurusan IPA tersebut menceritakan apa yang dialaminya selama satu pekan mengikuti USP. Dalam satu hari, Vinda mengerjakan ujian dua mata pelajaran. Masing-masing memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, semua mata pelajaran umum diujikan dalam USP. Untuk program IPA, misalnya, Vinda harus mengikuti ujian pada 15 pelajaran. Di antaranya, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Matematika, Prakarya, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi, dan beberapa lainnya. Dia menjalani ujian itu sepenuhnya di rumah. “Ada 15 mata pelajaran yang diujikan. Harus mengerjakan dari pukul tujuh pagi sampai pukul sembilan. Jadi, setiap pelajaran durasi waktunya satu jam,” ungkapnya.

Dalam prosesnya, Vinda mengungkapkan, ada beberapa kendala. Di antaranya adalah akses yang tidak stabil yang meliputi ketersediaan wi-fi dan komputer. Dia mengisahkan, beberapa teman sekelasnya sampai terpaksa menjalani ujian di rumah yang letaknya sulit akses internet. Imbasnya, teman-temannya yang mengalami kondisi tersebut sering telat mengikuti ujian melalui Google Class. “Ikut kelas atau ikut ujian kadang telat,” ungkap Vinda kepada Jawa Pos Radar Jember, seusai mengerjakan tugas.

Dampak lainnya adalah banyaknya kecurangan saat pelaksaan USP. Vinda menunjukkan obrolan WhatsApp Grup (WAG) kelas yang kompak mencari jawaban atas soal yang diujikan melalui peramban Google. Menurut dia, sudah menjadi rahasia umum ketika teman-teman kelasnya melakukan akses ke mesin pencari untuk menemukan jawaban soal ujian. Sebab, ketika ujian berlangsung, tidak ada tim pengawas. Berbeda halnya jika ujian dilakukan di sekolah. “Walaupun ujian berbasis daring, tapi kalau dilakukan di sekolah, kita tidak bisa open Google. Karena ada guru pengawas, dan komputernya sudah di-setting tidak bisa open Google. Beda kalau sekarang,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belajar jarak jauh di masa pandemi ini  rupanya berlanjut hingga ujian. Tahun ini, pelaksanaan ujian satuan pendidikan (USP) tingkat SMA ada yang dilaksanakan secara daring. Ternyata, terkuak adanya potensi kecurangan dalam ujian daring tersebut. Sebab, siswa leluasa membuka peramban untuk mencari jawaban. Terlebih, tidak ada pengawasan khusus terhadap murid yang sedang mengerjakan soal.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Jember, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jember telah menetapkan pelaksanaan USP dan evaluasi hasil belajar berbasis komputer dan gawai. Baik di SMA negeri maupun swasta. Teknisnya, USP dapat dilakukan secara tertulis dengan dua metode. Bisa luring ataupun daring. Nah, khusus yang memilih daring inilah yang menimbulkan kekhawatiran, karena berpotensi menimbulkan kecurangan.

Vinda Andriana, salah satu murid di SMA Negeri 3 Jember, buka kartu tentang itu. Pelajar jurusan IPA tersebut menceritakan apa yang dialaminya selama satu pekan mengikuti USP. Dalam satu hari, Vinda mengerjakan ujian dua mata pelajaran. Masing-masing memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikannya.

Menurutnya, semua mata pelajaran umum diujikan dalam USP. Untuk program IPA, misalnya, Vinda harus mengikuti ujian pada 15 pelajaran. Di antaranya, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Matematika, Prakarya, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi, dan beberapa lainnya. Dia menjalani ujian itu sepenuhnya di rumah. “Ada 15 mata pelajaran yang diujikan. Harus mengerjakan dari pukul tujuh pagi sampai pukul sembilan. Jadi, setiap pelajaran durasi waktunya satu jam,” ungkapnya.

Dalam prosesnya, Vinda mengungkapkan, ada beberapa kendala. Di antaranya adalah akses yang tidak stabil yang meliputi ketersediaan wi-fi dan komputer. Dia mengisahkan, beberapa teman sekelasnya sampai terpaksa menjalani ujian di rumah yang letaknya sulit akses internet. Imbasnya, teman-temannya yang mengalami kondisi tersebut sering telat mengikuti ujian melalui Google Class. “Ikut kelas atau ikut ujian kadang telat,” ungkap Vinda kepada Jawa Pos Radar Jember, seusai mengerjakan tugas.

Dampak lainnya adalah banyaknya kecurangan saat pelaksaan USP. Vinda menunjukkan obrolan WhatsApp Grup (WAG) kelas yang kompak mencari jawaban atas soal yang diujikan melalui peramban Google. Menurut dia, sudah menjadi rahasia umum ketika teman-teman kelasnya melakukan akses ke mesin pencari untuk menemukan jawaban soal ujian. Sebab, ketika ujian berlangsung, tidak ada tim pengawas. Berbeda halnya jika ujian dilakukan di sekolah. “Walaupun ujian berbasis daring, tapi kalau dilakukan di sekolah, kita tidak bisa open Google. Karena ada guru pengawas, dan komputernya sudah di-setting tidak bisa open Google. Beda kalau sekarang,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belajar jarak jauh di masa pandemi ini  rupanya berlanjut hingga ujian. Tahun ini, pelaksanaan ujian satuan pendidikan (USP) tingkat SMA ada yang dilaksanakan secara daring. Ternyata, terkuak adanya potensi kecurangan dalam ujian daring tersebut. Sebab, siswa leluasa membuka peramban untuk mencari jawaban. Terlebih, tidak ada pengawasan khusus terhadap murid yang sedang mengerjakan soal.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Jember, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jember telah menetapkan pelaksanaan USP dan evaluasi hasil belajar berbasis komputer dan gawai. Baik di SMA negeri maupun swasta. Teknisnya, USP dapat dilakukan secara tertulis dengan dua metode. Bisa luring ataupun daring. Nah, khusus yang memilih daring inilah yang menimbulkan kekhawatiran, karena berpotensi menimbulkan kecurangan.

Vinda Andriana, salah satu murid di SMA Negeri 3 Jember, buka kartu tentang itu. Pelajar jurusan IPA tersebut menceritakan apa yang dialaminya selama satu pekan mengikuti USP. Dalam satu hari, Vinda mengerjakan ujian dua mata pelajaran. Masing-masing memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikannya.

Menurutnya, semua mata pelajaran umum diujikan dalam USP. Untuk program IPA, misalnya, Vinda harus mengikuti ujian pada 15 pelajaran. Di antaranya, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Matematika, Prakarya, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi, dan beberapa lainnya. Dia menjalani ujian itu sepenuhnya di rumah. “Ada 15 mata pelajaran yang diujikan. Harus mengerjakan dari pukul tujuh pagi sampai pukul sembilan. Jadi, setiap pelajaran durasi waktunya satu jam,” ungkapnya.

Dalam prosesnya, Vinda mengungkapkan, ada beberapa kendala. Di antaranya adalah akses yang tidak stabil yang meliputi ketersediaan wi-fi dan komputer. Dia mengisahkan, beberapa teman sekelasnya sampai terpaksa menjalani ujian di rumah yang letaknya sulit akses internet. Imbasnya, teman-temannya yang mengalami kondisi tersebut sering telat mengikuti ujian melalui Google Class. “Ikut kelas atau ikut ujian kadang telat,” ungkap Vinda kepada Jawa Pos Radar Jember, seusai mengerjakan tugas.

Dampak lainnya adalah banyaknya kecurangan saat pelaksaan USP. Vinda menunjukkan obrolan WhatsApp Grup (WAG) kelas yang kompak mencari jawaban atas soal yang diujikan melalui peramban Google. Menurut dia, sudah menjadi rahasia umum ketika teman-teman kelasnya melakukan akses ke mesin pencari untuk menemukan jawaban soal ujian. Sebab, ketika ujian berlangsung, tidak ada tim pengawas. Berbeda halnya jika ujian dilakukan di sekolah. “Walaupun ujian berbasis daring, tapi kalau dilakukan di sekolah, kita tidak bisa open Google. Karena ada guru pengawas, dan komputernya sudah di-setting tidak bisa open Google. Beda kalau sekarang,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/