alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Potret Buruk Penyelesaian Kasus Pendidikan

Kemenag Pasrah pada Jalur Hukum

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWINING, Radar Jember – Dualisme kepemimpinan kepala madrasah (kepma) di MTs NU Al Badar terus berlanjut. Sampai saat ini, kedua pihak tetap melancarkan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di tempat yang berbeda. Namun, sebanyak 12 guru dari pihak kepma lama harus menanggung risiko, yakni tidak dibayar selama konflik terjadi. Penyebabnya, sistem akun guru masih berada di tangan kepma baru.

BACA JUGA : Hancur! Tanaman Bunga Kota Rusak Diinjak Penonton JFC

Hal itu menjadi potret penyelesaian konflik pendidikan di Jember yang buruk. Yakni, terdapat dua KBM dalam satu lembaga MTs NU Al Badar. Dengan guru dan murid yang terpecah menjadi dua. Target pendidikan seperti apa yang ingin dicapai, sehingga sampai terbentuk dua kongsi tersebut. Bahkan, uluran tangan dari Kementerian Agama (Kemenag) Jember untuk menyelesaikan konflik tersebut urung berdampak positif.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mufida, salah satu guru dari pihak kepma lama, Shohibul Qirom, membenarkan berjalannya aktivitas KBM tersebut. Pihaknya yang menempati gedung asli dari MTs NU Al Badar mengaku mempunyai murid tersendiri dari hasil PPBD yang dilakukan. Sejumlah murid tersebut tentunya berbeda dengan hasil PPDB yang dilakukan oleh kepma baru. “Sekarang tetap masuk seperti biasa di MTs NU Al Badar,” katanya.

Namun, sebanyak 12 guru yang mengajar tersebut harus rela tidak mendapatkan upah mengajarnya. Sebab, sistem akun guru MTs NU Al Badar berada di tangan kepma baru. Karena itu, status belasan guru tersebut masih belum jelas. “Kami mengajar dari bulan Januari 2022, tidak dapat gaji, dan status kami tidak jelas, apakah dipindah dan sebagainya,” imbuhnya.

Di sisi lain, pihak kepma baru, Lukman Syah, turut melancarkan aktivitas KBM di Pondok Pesantren Assathoriyah yang berada di Dusun Mangaran, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Jember. Dengan nama lembaga yang sama, yakni MTs NU Al Badar. “Ya, tetap di pengungsian, kami melaksanakan KBM seperti biasa,” timpalnya.

Sementara itu, upaya Kemenag Jember untuk menyelesaikan konflik tersebut belum membuahkan hasil. Sebab, mediasi yang diberikan belum mempan untuk mendamaikan keduanya. Karena itu, pihak Kemenag memasrahkan urusan tersebut untuk ditempuh melalui jalur hukum di Polres Jember. “Biar sudah, saya suruh tempuh lewat jalur hukum,” pungkas Faisol Abrari, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember. (mun/c2)

- Advertisement -

KALIWINING, Radar Jember – Dualisme kepemimpinan kepala madrasah (kepma) di MTs NU Al Badar terus berlanjut. Sampai saat ini, kedua pihak tetap melancarkan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di tempat yang berbeda. Namun, sebanyak 12 guru dari pihak kepma lama harus menanggung risiko, yakni tidak dibayar selama konflik terjadi. Penyebabnya, sistem akun guru masih berada di tangan kepma baru.

BACA JUGA : Hancur! Tanaman Bunga Kota Rusak Diinjak Penonton JFC

Hal itu menjadi potret penyelesaian konflik pendidikan di Jember yang buruk. Yakni, terdapat dua KBM dalam satu lembaga MTs NU Al Badar. Dengan guru dan murid yang terpecah menjadi dua. Target pendidikan seperti apa yang ingin dicapai, sehingga sampai terbentuk dua kongsi tersebut. Bahkan, uluran tangan dari Kementerian Agama (Kemenag) Jember untuk menyelesaikan konflik tersebut urung berdampak positif.

Mufida, salah satu guru dari pihak kepma lama, Shohibul Qirom, membenarkan berjalannya aktivitas KBM tersebut. Pihaknya yang menempati gedung asli dari MTs NU Al Badar mengaku mempunyai murid tersendiri dari hasil PPBD yang dilakukan. Sejumlah murid tersebut tentunya berbeda dengan hasil PPDB yang dilakukan oleh kepma baru. “Sekarang tetap masuk seperti biasa di MTs NU Al Badar,” katanya.

Namun, sebanyak 12 guru yang mengajar tersebut harus rela tidak mendapatkan upah mengajarnya. Sebab, sistem akun guru MTs NU Al Badar berada di tangan kepma baru. Karena itu, status belasan guru tersebut masih belum jelas. “Kami mengajar dari bulan Januari 2022, tidak dapat gaji, dan status kami tidak jelas, apakah dipindah dan sebagainya,” imbuhnya.

Di sisi lain, pihak kepma baru, Lukman Syah, turut melancarkan aktivitas KBM di Pondok Pesantren Assathoriyah yang berada di Dusun Mangaran, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Jember. Dengan nama lembaga yang sama, yakni MTs NU Al Badar. “Ya, tetap di pengungsian, kami melaksanakan KBM seperti biasa,” timpalnya.

Sementara itu, upaya Kemenag Jember untuk menyelesaikan konflik tersebut belum membuahkan hasil. Sebab, mediasi yang diberikan belum mempan untuk mendamaikan keduanya. Karena itu, pihak Kemenag memasrahkan urusan tersebut untuk ditempuh melalui jalur hukum di Polres Jember. “Biar sudah, saya suruh tempuh lewat jalur hukum,” pungkas Faisol Abrari, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember. (mun/c2)

KALIWINING, Radar Jember – Dualisme kepemimpinan kepala madrasah (kepma) di MTs NU Al Badar terus berlanjut. Sampai saat ini, kedua pihak tetap melancarkan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di tempat yang berbeda. Namun, sebanyak 12 guru dari pihak kepma lama harus menanggung risiko, yakni tidak dibayar selama konflik terjadi. Penyebabnya, sistem akun guru masih berada di tangan kepma baru.

BACA JUGA : Hancur! Tanaman Bunga Kota Rusak Diinjak Penonton JFC

Hal itu menjadi potret penyelesaian konflik pendidikan di Jember yang buruk. Yakni, terdapat dua KBM dalam satu lembaga MTs NU Al Badar. Dengan guru dan murid yang terpecah menjadi dua. Target pendidikan seperti apa yang ingin dicapai, sehingga sampai terbentuk dua kongsi tersebut. Bahkan, uluran tangan dari Kementerian Agama (Kemenag) Jember untuk menyelesaikan konflik tersebut urung berdampak positif.

Mufida, salah satu guru dari pihak kepma lama, Shohibul Qirom, membenarkan berjalannya aktivitas KBM tersebut. Pihaknya yang menempati gedung asli dari MTs NU Al Badar mengaku mempunyai murid tersendiri dari hasil PPBD yang dilakukan. Sejumlah murid tersebut tentunya berbeda dengan hasil PPDB yang dilakukan oleh kepma baru. “Sekarang tetap masuk seperti biasa di MTs NU Al Badar,” katanya.

Namun, sebanyak 12 guru yang mengajar tersebut harus rela tidak mendapatkan upah mengajarnya. Sebab, sistem akun guru MTs NU Al Badar berada di tangan kepma baru. Karena itu, status belasan guru tersebut masih belum jelas. “Kami mengajar dari bulan Januari 2022, tidak dapat gaji, dan status kami tidak jelas, apakah dipindah dan sebagainya,” imbuhnya.

Di sisi lain, pihak kepma baru, Lukman Syah, turut melancarkan aktivitas KBM di Pondok Pesantren Assathoriyah yang berada di Dusun Mangaran, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Jember. Dengan nama lembaga yang sama, yakni MTs NU Al Badar. “Ya, tetap di pengungsian, kami melaksanakan KBM seperti biasa,” timpalnya.

Sementara itu, upaya Kemenag Jember untuk menyelesaikan konflik tersebut belum membuahkan hasil. Sebab, mediasi yang diberikan belum mempan untuk mendamaikan keduanya. Karena itu, pihak Kemenag memasrahkan urusan tersebut untuk ditempuh melalui jalur hukum di Polres Jember. “Biar sudah, saya suruh tempuh lewat jalur hukum,” pungkas Faisol Abrari, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember. (mun/c2)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/