Bonggol Jagung Jadi Plastik Ramah Lingkungan

MENGEDUKASI: Praktik pengolahan bonggol jagung menjadi plastik yang ramah lingkungan

RADAR JEMBER.ID – Bahan plastik biodegradable atau plastik ramah lingkungan ternyata bisa didapatkan dengan mudah. Yakni dengan bonggol jagung yang selama ini jarang dimanfaatkan. Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik Universitas Jember memberikan pelatihan pembuatan plastik ramah lingkungan berbahan bonggol jagung ini kepada warga Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono, kemarin (8/8).

IKLAN

Bonggol jagung dipilih karena memiliki kandungan pati yang tinggi. “Fakta di lapangan, kami mengamati bonggol jagung belum banyak dimanfaatkan. Selama ini untuk bahan campuran pakan ternak saja,” kata Ari Susanti, dosen Program Studi Teknik Kimia Unej.

Dia bersama tiga dosen Fakultas Teknik, Rendra Suprobo Aji dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Tika dari Prodi Teknik Perminyakan, dan Fanteri dari Prodi Teknik Pertambangan menjadikan bonggol jagung sebagai bahan pembuatan plastik ramah lingkungan. Selain bahannya mudah didapatkan, pembuatannya relatif mudah dilakukan. Bahkan, ibu rumah tangga pun bisa membuatnya. Ari yang menjadi ketua tim kegiatan ini menambahkan, proses pembuatan plastik berbahan bonggol jagung dimulai dari mencampur 10 gram bonggol jagung yang sudah dihaluskan dengan 150 mililiter aquades atau air murni.

Campuran ini, kata dia, kemudian direbus dengan suhu 85 derajat celsius hingga larut dan tercampur rata. Larutan ini kemudian dicampur dengan lima mililiter gliserol dan sembilan gram gelatin, serta pewarna makanan, untuk kemudian dipanaskan kembali dengan suhu 95 derajat celsius.

Jika sudah tercampur sempurna, dicetak sesuai keinginan. Kali ini, mereka menggunakan loyang aluminium berdiameter 17 sentimeter yang sudah dialasi dengan aluminium foil. Larutan plastik ini kemudian harus dipanaskan dalam oven bersuhu 60 derajat celsius selama 45 menit. “Terakhir, plastik ini didiamkan selama tiga hingga empat hari sebelum siap digunakan,” jelas Ari Susanti di hadapan 22 orang ibu-ibu warga Desa Dawuhan Mangli.

Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik ini sengaja melatih ibu-ibu usia produktif. Harapannya, bisa menambah pendapatan keluarga. Rendra Suprobo Aji menambahkan, timnya sudah melakukan pertemuan pendahuluan dengan perangkat desa dan ibu-ibu Desa Dawuhan Mangli.

“Pertemuan pertama, kami memberikan pemahaman bahaya penggunaan plastik konvensional yang berlebihan bagi kelestarian alam,” tuturnya. Termasuk mengajarkan untuk memilah sampah organik dan sampah nonorganik. Pertemuan kedua, pengenalan mengenai apa itu plastik ramah lingkungan dan bagaimana cara membuatnya. Kemudian, praktik pembuatan  langsung. “Plastik ramah lingkungan ini aman karena bisa terurai di alam dalam jangka waktu 3 bulan,” imbuhnya.

Pelatihan pembuatan plastik itu didukung oleh M. Husen, Pj. Kepala Desa Dawuhan Mangli. Menurutnya, desa melalui BUMDes ingin menjadikan pembuatan plastik ramah lingkungan sebagai salah satu usahanya.

Bentuk keseriusannya ditunjukkan dengan alokasi lahan seluas 84 meter persegi untuk lokasi usaha. Hal ini bisa membuka peluang usaha baru bagi warga. “Siapa tahu setelah melihat prospek plastik ramah lingkungan, bakal tertarik menanam jagung lebih serius. Sebab, bulir jagung dan bonggolnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Mudahnya membuat plastik ramah lingkungan juga diutarakan oleh Ismawati, salah seorang peserta pelatihan. Dia tidak tahu jika bonggol jagung bisa jadi plastik ramah lingkungan. “Ini ilmu baru bagi, saya siap jadi karyawan bila ada BUMDes produksi plastik ramah lingkungan,” tuturnya.

Rencananya, Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik akan mendampingi warga Dawuhan Mangli hingga tahun depan. Tahun depan akan meningkat pada tahap produksi. Rencananya, mereka akan memberikan pelatihan pembuatan plastik ramah lingkungan dalam bentuk wadah kue, sendok, hingga gelas. Program ini bisa terwujud, mengingat Desa Dawuhan Mangli adalah salah satu desa binaan Universitas Jember melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. (*)

    

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi