alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Pohon di Jember Tinggalkan Luka “Borok”, Mapala Bergerak

Inilah yang menggerakkan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mandala merawat pohon-pohon tersebut. Apa yang mereka lakukan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Dimas mengungkapkan, saat kegiatan cabut paku pada 2019 lalu, khususnya di daerah kampus, mulai Jl Sumatera, Jl Jawa, Jl Riau, Jl Mastrip, hingga Jalan Kalimantan, jumlah paku yang terkumpul bisa tiga tas kresek besar. “Pokoknya dapat tiga plastik packing, tapi tidak penuh. Kalau penuh ya sobek. Mungkin ukurannya sama dengan tiga kresek besar,” ungkapnya.

Dalam proses cabut paku tersebut para pedagang yang berjualan di bawah pohon tidak ada yang protes. Meski awalnya mereka khawatir akan ada penolakan dari para pedagang. “Kalau pedagang mendukung, tidak ada penolakan,” imbuhnya.

Pada awalnya mahasiswa hanya mencabut paku, namun belakangan mereka juga membersihkan kawat. Sebab, banyak banner yang menempel di pohon diikat dengan kawat. Kemudian, kawat-kawat itu diganti dengan tali rafia. Dia menegaskan, memaku pohon sama halnya menyakiti pohon. Dan hal itulah yang ia rasakan saat membersihkan paku bersama rekan-rekannya. “Saat paku dicabut dari batang pohon, keluar warna merah seperti darah. Tapi, pada jenis-jenis pohon tertentu,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, kata dia, bekas paku yang tertancap itu seperti borok atau luka yang membusuk. “Bagian yang kena paku itu menghitam dan rapuh. Kalau di manusia mungkin itu infeksi atau tetanus,” tuturnya.

Dia menilai, manusia banyak menggantungkan hidup pada pepohonan, karena memasok kebutuhan oksigen setiap harinya. Atas dasar itulah, sudah sepatutnya semuanya ikut menjaga pohon. Dia pun mengajak agar kebiasaan memaku pohon atau aktivitas lain yang dapat merusak agar dihentikan. Agar pepohonan sehat dan makin bermanfaat bagi kehidupan.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Dimas mengungkapkan, saat kegiatan cabut paku pada 2019 lalu, khususnya di daerah kampus, mulai Jl Sumatera, Jl Jawa, Jl Riau, Jl Mastrip, hingga Jalan Kalimantan, jumlah paku yang terkumpul bisa tiga tas kresek besar. “Pokoknya dapat tiga plastik packing, tapi tidak penuh. Kalau penuh ya sobek. Mungkin ukurannya sama dengan tiga kresek besar,” ungkapnya.

Dalam proses cabut paku tersebut para pedagang yang berjualan di bawah pohon tidak ada yang protes. Meski awalnya mereka khawatir akan ada penolakan dari para pedagang. “Kalau pedagang mendukung, tidak ada penolakan,” imbuhnya.

Pada awalnya mahasiswa hanya mencabut paku, namun belakangan mereka juga membersihkan kawat. Sebab, banyak banner yang menempel di pohon diikat dengan kawat. Kemudian, kawat-kawat itu diganti dengan tali rafia. Dia menegaskan, memaku pohon sama halnya menyakiti pohon. Dan hal itulah yang ia rasakan saat membersihkan paku bersama rekan-rekannya. “Saat paku dicabut dari batang pohon, keluar warna merah seperti darah. Tapi, pada jenis-jenis pohon tertentu,” terangnya.

Bahkan, kata dia, bekas paku yang tertancap itu seperti borok atau luka yang membusuk. “Bagian yang kena paku itu menghitam dan rapuh. Kalau di manusia mungkin itu infeksi atau tetanus,” tuturnya.

Dia menilai, manusia banyak menggantungkan hidup pada pepohonan, karena memasok kebutuhan oksigen setiap harinya. Atas dasar itulah, sudah sepatutnya semuanya ikut menjaga pohon. Dia pun mengajak agar kebiasaan memaku pohon atau aktivitas lain yang dapat merusak agar dihentikan. Agar pepohonan sehat dan makin bermanfaat bagi kehidupan.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih

Dimas mengungkapkan, saat kegiatan cabut paku pada 2019 lalu, khususnya di daerah kampus, mulai Jl Sumatera, Jl Jawa, Jl Riau, Jl Mastrip, hingga Jalan Kalimantan, jumlah paku yang terkumpul bisa tiga tas kresek besar. “Pokoknya dapat tiga plastik packing, tapi tidak penuh. Kalau penuh ya sobek. Mungkin ukurannya sama dengan tiga kresek besar,” ungkapnya.

Dalam proses cabut paku tersebut para pedagang yang berjualan di bawah pohon tidak ada yang protes. Meski awalnya mereka khawatir akan ada penolakan dari para pedagang. “Kalau pedagang mendukung, tidak ada penolakan,” imbuhnya.

Pada awalnya mahasiswa hanya mencabut paku, namun belakangan mereka juga membersihkan kawat. Sebab, banyak banner yang menempel di pohon diikat dengan kawat. Kemudian, kawat-kawat itu diganti dengan tali rafia. Dia menegaskan, memaku pohon sama halnya menyakiti pohon. Dan hal itulah yang ia rasakan saat membersihkan paku bersama rekan-rekannya. “Saat paku dicabut dari batang pohon, keluar warna merah seperti darah. Tapi, pada jenis-jenis pohon tertentu,” terangnya.

Bahkan, kata dia, bekas paku yang tertancap itu seperti borok atau luka yang membusuk. “Bagian yang kena paku itu menghitam dan rapuh. Kalau di manusia mungkin itu infeksi atau tetanus,” tuturnya.

Dia menilai, manusia banyak menggantungkan hidup pada pepohonan, karena memasok kebutuhan oksigen setiap harinya. Atas dasar itulah, sudah sepatutnya semuanya ikut menjaga pohon. Dia pun mengajak agar kebiasaan memaku pohon atau aktivitas lain yang dapat merusak agar dihentikan. Agar pepohonan sehat dan makin bermanfaat bagi kehidupan.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/