alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Pohon di Jember Tinggalkan Luka “Borok”, Mapala Bergerak

Inilah yang menggerakkan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mandala merawat pohon-pohon tersebut. Apa yang mereka lakukan?

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – MENGENAKAN baju pakaian dinas harian (PDH) dan scarf di lehernya, sekelompok mahasiswa pencinta alam terlihat sibuk di bawah pohon angsana, kawasan Jl Sumatera, Kecamatan Sumbersari. Bambu yang menempel dengan paku ke batang pohon angsana itu berusaha mereka lepas. Mereka menggunakan pengungkit dan tang untuk mempermudah mencabut paku-paku tersebut.

RAWAT POHON: Mahasiswa pencinta alam Imapala dari STIE Mandala mencabut paku yang tertancap di pohon pinggir jalan.

Secara bergantian, para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Imapala ini terus melepas satu per satu paku yang tertancap tersebut. Paku yang terlihat mudah dicabut diberikan ke anggota yang perempuan. “Ayo coba, giliran perempuan-perempuan ini,” ucap Wafi kepada rekan-rekannya.

Rika, mahasiswa STIE Mandala yang tergabung dalam Imapala, juga mencoba mencabut paku. Tapi, kali ini dia memakai tang. Rika mengaku baru pertama kali ikut terjun dalam aktivitas cabut paku tersebut. “Rasanya itu, kalau pakunya sudah tercabut ada rasa senang dan lega,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelum kegiatan cabut paku, Rika sejatinya tidak begitu memedulikan kondisi pohon di pinggir jalan. Dia hanya tahu, bila jalan tidak ada pohon, rasanya gersang dan mudah lelah saat berkendara. Dan ketika hujan lebat yang disertai angin kencang ada pohon tumbang, justru menyalahkan pohonnya. Namun, setelah terlibat dalam kegiatan lingkungan ini, Rika menjadi tahu bahwa sebenarnya pohon-pohon itu sedang sakit. Karena terlalu sering dilukai dengan paku. Bahkan ada juga bagian akarnya yang dibakar sehingga rawan tumbang.

Ketua Umum Imapala STIE Mandala Jember Dimas Khoirul Amin menuturkan, kegiatan cabut paku semacam ini sebenarnya telah dilakukan sejak 2019 lalu. Kegiatan yang juga direncanakan setiap tahun itu untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar pada anggota baru. “Namun karena pandemi, kegiatan sempat ditiadakan,” tuturnya.

Kini, ketika pandemi mulai mereda, mereka mencoba kembali menghidupkan kegiatan mengobati pohon dengan cabut paku. “Memaku pohon sama halnya menyakiti pohon,” ujarnya.

Bagi sebagian kecil orang, mereka beranggapan paku kecil itu tidak akan berpengaruh terhadap pohon yang ukurannya jauh lebih besar. Namun, kata dia, pengalaman mahasiswa justru membuktikan berbeda. Banyak pohon yang kondisinya tidak sehat akibat banyaknya paku yang menancap. Bahkan, sampai timbul “borok-borok” pada pohon yang berpotensi menyebabkan pohon itu rusak.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – MENGENAKAN baju pakaian dinas harian (PDH) dan scarf di lehernya, sekelompok mahasiswa pencinta alam terlihat sibuk di bawah pohon angsana, kawasan Jl Sumatera, Kecamatan Sumbersari. Bambu yang menempel dengan paku ke batang pohon angsana itu berusaha mereka lepas. Mereka menggunakan pengungkit dan tang untuk mempermudah mencabut paku-paku tersebut.

RAWAT POHON: Mahasiswa pencinta alam Imapala dari STIE Mandala mencabut paku yang tertancap di pohon pinggir jalan.

Secara bergantian, para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Imapala ini terus melepas satu per satu paku yang tertancap tersebut. Paku yang terlihat mudah dicabut diberikan ke anggota yang perempuan. “Ayo coba, giliran perempuan-perempuan ini,” ucap Wafi kepada rekan-rekannya.

Rika, mahasiswa STIE Mandala yang tergabung dalam Imapala, juga mencoba mencabut paku. Tapi, kali ini dia memakai tang. Rika mengaku baru pertama kali ikut terjun dalam aktivitas cabut paku tersebut. “Rasanya itu, kalau pakunya sudah tercabut ada rasa senang dan lega,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini.

Sebelum kegiatan cabut paku, Rika sejatinya tidak begitu memedulikan kondisi pohon di pinggir jalan. Dia hanya tahu, bila jalan tidak ada pohon, rasanya gersang dan mudah lelah saat berkendara. Dan ketika hujan lebat yang disertai angin kencang ada pohon tumbang, justru menyalahkan pohonnya. Namun, setelah terlibat dalam kegiatan lingkungan ini, Rika menjadi tahu bahwa sebenarnya pohon-pohon itu sedang sakit. Karena terlalu sering dilukai dengan paku. Bahkan ada juga bagian akarnya yang dibakar sehingga rawan tumbang.

Ketua Umum Imapala STIE Mandala Jember Dimas Khoirul Amin menuturkan, kegiatan cabut paku semacam ini sebenarnya telah dilakukan sejak 2019 lalu. Kegiatan yang juga direncanakan setiap tahun itu untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar pada anggota baru. “Namun karena pandemi, kegiatan sempat ditiadakan,” tuturnya.

Kini, ketika pandemi mulai mereda, mereka mencoba kembali menghidupkan kegiatan mengobati pohon dengan cabut paku. “Memaku pohon sama halnya menyakiti pohon,” ujarnya.

Bagi sebagian kecil orang, mereka beranggapan paku kecil itu tidak akan berpengaruh terhadap pohon yang ukurannya jauh lebih besar. Namun, kata dia, pengalaman mahasiswa justru membuktikan berbeda. Banyak pohon yang kondisinya tidak sehat akibat banyaknya paku yang menancap. Bahkan, sampai timbul “borok-borok” pada pohon yang berpotensi menyebabkan pohon itu rusak.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – MENGENAKAN baju pakaian dinas harian (PDH) dan scarf di lehernya, sekelompok mahasiswa pencinta alam terlihat sibuk di bawah pohon angsana, kawasan Jl Sumatera, Kecamatan Sumbersari. Bambu yang menempel dengan paku ke batang pohon angsana itu berusaha mereka lepas. Mereka menggunakan pengungkit dan tang untuk mempermudah mencabut paku-paku tersebut.

RAWAT POHON: Mahasiswa pencinta alam Imapala dari STIE Mandala mencabut paku yang tertancap di pohon pinggir jalan.

Secara bergantian, para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Imapala ini terus melepas satu per satu paku yang tertancap tersebut. Paku yang terlihat mudah dicabut diberikan ke anggota yang perempuan. “Ayo coba, giliran perempuan-perempuan ini,” ucap Wafi kepada rekan-rekannya.

Rika, mahasiswa STIE Mandala yang tergabung dalam Imapala, juga mencoba mencabut paku. Tapi, kali ini dia memakai tang. Rika mengaku baru pertama kali ikut terjun dalam aktivitas cabut paku tersebut. “Rasanya itu, kalau pakunya sudah tercabut ada rasa senang dan lega,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini.

Sebelum kegiatan cabut paku, Rika sejatinya tidak begitu memedulikan kondisi pohon di pinggir jalan. Dia hanya tahu, bila jalan tidak ada pohon, rasanya gersang dan mudah lelah saat berkendara. Dan ketika hujan lebat yang disertai angin kencang ada pohon tumbang, justru menyalahkan pohonnya. Namun, setelah terlibat dalam kegiatan lingkungan ini, Rika menjadi tahu bahwa sebenarnya pohon-pohon itu sedang sakit. Karena terlalu sering dilukai dengan paku. Bahkan ada juga bagian akarnya yang dibakar sehingga rawan tumbang.

Ketua Umum Imapala STIE Mandala Jember Dimas Khoirul Amin menuturkan, kegiatan cabut paku semacam ini sebenarnya telah dilakukan sejak 2019 lalu. Kegiatan yang juga direncanakan setiap tahun itu untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar pada anggota baru. “Namun karena pandemi, kegiatan sempat ditiadakan,” tuturnya.

Kini, ketika pandemi mulai mereda, mereka mencoba kembali menghidupkan kegiatan mengobati pohon dengan cabut paku. “Memaku pohon sama halnya menyakiti pohon,” ujarnya.

Bagi sebagian kecil orang, mereka beranggapan paku kecil itu tidak akan berpengaruh terhadap pohon yang ukurannya jauh lebih besar. Namun, kata dia, pengalaman mahasiswa justru membuktikan berbeda. Banyak pohon yang kondisinya tidak sehat akibat banyaknya paku yang menancap. Bahkan, sampai timbul “borok-borok” pada pohon yang berpotensi menyebabkan pohon itu rusak.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/