alexametrics
23.2 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Kemenag Garansi Kelulusan 17 Siswa MTs NU Albadar

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWINING, Radar Jember – Pikiran siswa lulusan MTs sederajat tergolong masih labil. Bisa dikatakan mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan keadaan. Namun, bagaimanapun mereka adalah generasi yang harus menempuh pendidikan hingga tingkat SMA sederajat. Seperti 17 siswa MTs NU Albadar yang terseret konflik dualisme kepala madrasah. Kini mereka bisa mendaftar di SMA/SMK sederajat, tapi tidak dapat surat keterangan lulus (SKL).

BACA JUGA : Pemerintah Terus Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi Nasional

Sebelumnya, mereka terancam tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikan pascalulus MTs. Sebab, mereka tidak memperoleh tanda tangan SKL yang sah dari kepala madrasah yang baru. Lantaran ujian yang mereka ikuti dari kepala madrasah lama. Situasi itu membuat Kementerian Agama (Kemenag) Jember turun tangan. Hingga 17 siswa itu bisa terselamatkan. Meskipun belum mendapat tanda tangan SKL, mereka bisa mendaftar di SMA/SMK pilihan mereka. Namun, daftar ulangnya masih dikhawatirkan jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala MTs NU Albadar yang baru, Lukman Syah, mengaku dilema atas keputusan yang akan diambil. Antara menandatangani atau membiarkan mereka terputus masa depannya. Sebab, saat 17 siswa diminta mengikuti ujian ulang, tidak satu pun siswa yang menggubris. “Saya masih dilema, mau memberikan tanda tangan atau tidak, karena mereka terus membuat keruh suasana,” katanya.

- Advertisement -

KALIWINING, Radar Jember – Pikiran siswa lulusan MTs sederajat tergolong masih labil. Bisa dikatakan mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan keadaan. Namun, bagaimanapun mereka adalah generasi yang harus menempuh pendidikan hingga tingkat SMA sederajat. Seperti 17 siswa MTs NU Albadar yang terseret konflik dualisme kepala madrasah. Kini mereka bisa mendaftar di SMA/SMK sederajat, tapi tidak dapat surat keterangan lulus (SKL).

BACA JUGA : Pemerintah Terus Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi Nasional

Sebelumnya, mereka terancam tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikan pascalulus MTs. Sebab, mereka tidak memperoleh tanda tangan SKL yang sah dari kepala madrasah yang baru. Lantaran ujian yang mereka ikuti dari kepala madrasah lama. Situasi itu membuat Kementerian Agama (Kemenag) Jember turun tangan. Hingga 17 siswa itu bisa terselamatkan. Meskipun belum mendapat tanda tangan SKL, mereka bisa mendaftar di SMA/SMK pilihan mereka. Namun, daftar ulangnya masih dikhawatirkan jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi.

Kepala MTs NU Albadar yang baru, Lukman Syah, mengaku dilema atas keputusan yang akan diambil. Antara menandatangani atau membiarkan mereka terputus masa depannya. Sebab, saat 17 siswa diminta mengikuti ujian ulang, tidak satu pun siswa yang menggubris. “Saya masih dilema, mau memberikan tanda tangan atau tidak, karena mereka terus membuat keruh suasana,” katanya.

KALIWINING, Radar Jember – Pikiran siswa lulusan MTs sederajat tergolong masih labil. Bisa dikatakan mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan keadaan. Namun, bagaimanapun mereka adalah generasi yang harus menempuh pendidikan hingga tingkat SMA sederajat. Seperti 17 siswa MTs NU Albadar yang terseret konflik dualisme kepala madrasah. Kini mereka bisa mendaftar di SMA/SMK sederajat, tapi tidak dapat surat keterangan lulus (SKL).

BACA JUGA : Pemerintah Terus Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi Nasional

Sebelumnya, mereka terancam tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikan pascalulus MTs. Sebab, mereka tidak memperoleh tanda tangan SKL yang sah dari kepala madrasah yang baru. Lantaran ujian yang mereka ikuti dari kepala madrasah lama. Situasi itu membuat Kementerian Agama (Kemenag) Jember turun tangan. Hingga 17 siswa itu bisa terselamatkan. Meskipun belum mendapat tanda tangan SKL, mereka bisa mendaftar di SMA/SMK pilihan mereka. Namun, daftar ulangnya masih dikhawatirkan jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi.

Kepala MTs NU Albadar yang baru, Lukman Syah, mengaku dilema atas keputusan yang akan diambil. Antara menandatangani atau membiarkan mereka terputus masa depannya. Sebab, saat 17 siswa diminta mengikuti ujian ulang, tidak satu pun siswa yang menggubris. “Saya masih dilema, mau memberikan tanda tangan atau tidak, karena mereka terus membuat keruh suasana,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/