alexametrics
23.8 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jadi Sarang Perjuangan Santri

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren (Ponpes) Raudatul Ulum di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, menjadi saksi sejarah perjuangan para santri melawan penjajah sebelum kemerdekaan. Ponpes yang didirikan KH Muhammad Syukri pada tahun 1912 tersebut sekaligus menjadi markas atau sarang perjuangan para santri untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Baca Juga : Jalan Arah Wisata SJ88 Akan Diaspal

Ponpes ini memang dikenal menyimpan segudang sejarah sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Ketika rakyat pribumi saat itu berada di bawah cengkraman Hindia Belanda. Bahkan, Kiai Syukri yang merupakan pendiri pesantren pernah dipenjara oleh tentara Belanda lantaran melaksanakan salat Jumat tanpa izin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bersamaan dengan itu, para santri mulai melaksanakan aksi perlawanannya. Siang mengaji, malam bergerilya. Itu menjadi jargon santri Raudlatul Ulum kala itu. Kiai Syukri saat itu kemudian bebas karena mengobati putri orang penting.

Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Utama Ponpes Raudlatul Ulum, Kiai Syukri dibebaskan setelah menyembuhkan putri Bupati Jember. “Anaknya bupati dulu sakit parah. Beberapa dokter tidak mampu mengobati. Berkat doa dari kakek saya, tidak lama kemudian putrinya sembuh, akhirnya dia dibebaskan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Hal ini yang membuat pemerintahan saat itu menjamin kelangsungan Ponpes Raudlatul Ulum. Sejak saat itu, Kiai Syukri dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan lancar dan pendidikan berjalan sampai sekarang ini. “Belanda saat itu juga menjamin keamanan pesantren tersebut. Berkat karomah-nya, hubungan pesantren dengan pemerintah kala itu terjalin baik,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren (Ponpes) Raudatul Ulum di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, menjadi saksi sejarah perjuangan para santri melawan penjajah sebelum kemerdekaan. Ponpes yang didirikan KH Muhammad Syukri pada tahun 1912 tersebut sekaligus menjadi markas atau sarang perjuangan para santri untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Baca Juga : Jalan Arah Wisata SJ88 Akan Diaspal

Ponpes ini memang dikenal menyimpan segudang sejarah sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Ketika rakyat pribumi saat itu berada di bawah cengkraman Hindia Belanda. Bahkan, Kiai Syukri yang merupakan pendiri pesantren pernah dipenjara oleh tentara Belanda lantaran melaksanakan salat Jumat tanpa izin.

Bersamaan dengan itu, para santri mulai melaksanakan aksi perlawanannya. Siang mengaji, malam bergerilya. Itu menjadi jargon santri Raudlatul Ulum kala itu. Kiai Syukri saat itu kemudian bebas karena mengobati putri orang penting.

Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Utama Ponpes Raudlatul Ulum, Kiai Syukri dibebaskan setelah menyembuhkan putri Bupati Jember. “Anaknya bupati dulu sakit parah. Beberapa dokter tidak mampu mengobati. Berkat doa dari kakek saya, tidak lama kemudian putrinya sembuh, akhirnya dia dibebaskan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Hal ini yang membuat pemerintahan saat itu menjamin kelangsungan Ponpes Raudlatul Ulum. Sejak saat itu, Kiai Syukri dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan lancar dan pendidikan berjalan sampai sekarang ini. “Belanda saat itu juga menjamin keamanan pesantren tersebut. Berkat karomah-nya, hubungan pesantren dengan pemerintah kala itu terjalin baik,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren (Ponpes) Raudatul Ulum di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, menjadi saksi sejarah perjuangan para santri melawan penjajah sebelum kemerdekaan. Ponpes yang didirikan KH Muhammad Syukri pada tahun 1912 tersebut sekaligus menjadi markas atau sarang perjuangan para santri untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Baca Juga : Jalan Arah Wisata SJ88 Akan Diaspal

Ponpes ini memang dikenal menyimpan segudang sejarah sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Ketika rakyat pribumi saat itu berada di bawah cengkraman Hindia Belanda. Bahkan, Kiai Syukri yang merupakan pendiri pesantren pernah dipenjara oleh tentara Belanda lantaran melaksanakan salat Jumat tanpa izin.

Bersamaan dengan itu, para santri mulai melaksanakan aksi perlawanannya. Siang mengaji, malam bergerilya. Itu menjadi jargon santri Raudlatul Ulum kala itu. Kiai Syukri saat itu kemudian bebas karena mengobati putri orang penting.

Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Utama Ponpes Raudlatul Ulum, Kiai Syukri dibebaskan setelah menyembuhkan putri Bupati Jember. “Anaknya bupati dulu sakit parah. Beberapa dokter tidak mampu mengobati. Berkat doa dari kakek saya, tidak lama kemudian putrinya sembuh, akhirnya dia dibebaskan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Hal ini yang membuat pemerintahan saat itu menjamin kelangsungan Ponpes Raudlatul Ulum. Sejak saat itu, Kiai Syukri dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan lancar dan pendidikan berjalan sampai sekarang ini. “Belanda saat itu juga menjamin keamanan pesantren tersebut. Berkat karomah-nya, hubungan pesantren dengan pemerintah kala itu terjalin baik,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/