alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Sekolah TK Ada yang Terancam Tutup

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebih dari setahun pembelajaran daring berlangsung. Sebab, selama pandemi, siswa harus belajar di rumah masing-masing. Mereka mendapat panduan dari guru secara online, serta dampingan dari orang tua. Termasuk bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dampaknya, calon wali murid yang memiliki anak usia PAUD enggan mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Mereka menunggu hingga pembelajaran daring berakhir dan berganti menjadi pembelajaran tatap muka. “Gara-gara pandemi, orang tua tidak mau mendaftarkan anak ke sekolah. Mereka ingin anak belajar di kelas, bukan di rumah,” ungkap Endang Supriatin, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.

Kepala TK Al Amien Jember itu memaparkan, ketika musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) seperti sekarang ini, biasanya orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak untuk masuk sekolah. Dan itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun kini, akibat pandemi, kondisinya berbeda.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di Jember, Endang memaparkan, total ada 900 lembaga PAUD. Karena orang tua menanti pembelajaran tatap muka untuk mendaftarkan anaknya, maka dia memprediksi akan berpengaruh terhadap jumlah murid untuk masing-masing lembaga. “Dan tidak menutup kemungkinan ada TK gulung tikar karena kesulitan mendapatkan murid,” kata Endang.

Terpisah, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jember Rifdatul Afiyah menyatakan, pembelajaran daring harus segera disudahi, sehingga murid bisa sekolah kembali dan berinteraksi dengan guru.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebih dari setahun pembelajaran daring berlangsung. Sebab, selama pandemi, siswa harus belajar di rumah masing-masing. Mereka mendapat panduan dari guru secara online, serta dampingan dari orang tua. Termasuk bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dampaknya, calon wali murid yang memiliki anak usia PAUD enggan mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Mereka menunggu hingga pembelajaran daring berakhir dan berganti menjadi pembelajaran tatap muka. “Gara-gara pandemi, orang tua tidak mau mendaftarkan anak ke sekolah. Mereka ingin anak belajar di kelas, bukan di rumah,” ungkap Endang Supriatin, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.

Kepala TK Al Amien Jember itu memaparkan, ketika musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) seperti sekarang ini, biasanya orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak untuk masuk sekolah. Dan itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun kini, akibat pandemi, kondisinya berbeda.

Di Jember, Endang memaparkan, total ada 900 lembaga PAUD. Karena orang tua menanti pembelajaran tatap muka untuk mendaftarkan anaknya, maka dia memprediksi akan berpengaruh terhadap jumlah murid untuk masing-masing lembaga. “Dan tidak menutup kemungkinan ada TK gulung tikar karena kesulitan mendapatkan murid,” kata Endang.

Terpisah, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jember Rifdatul Afiyah menyatakan, pembelajaran daring harus segera disudahi, sehingga murid bisa sekolah kembali dan berinteraksi dengan guru.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebih dari setahun pembelajaran daring berlangsung. Sebab, selama pandemi, siswa harus belajar di rumah masing-masing. Mereka mendapat panduan dari guru secara online, serta dampingan dari orang tua. Termasuk bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dampaknya, calon wali murid yang memiliki anak usia PAUD enggan mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Mereka menunggu hingga pembelajaran daring berakhir dan berganti menjadi pembelajaran tatap muka. “Gara-gara pandemi, orang tua tidak mau mendaftarkan anak ke sekolah. Mereka ingin anak belajar di kelas, bukan di rumah,” ungkap Endang Supriatin, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.

Kepala TK Al Amien Jember itu memaparkan, ketika musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) seperti sekarang ini, biasanya orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak untuk masuk sekolah. Dan itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun kini, akibat pandemi, kondisinya berbeda.

Di Jember, Endang memaparkan, total ada 900 lembaga PAUD. Karena orang tua menanti pembelajaran tatap muka untuk mendaftarkan anaknya, maka dia memprediksi akan berpengaruh terhadap jumlah murid untuk masing-masing lembaga. “Dan tidak menutup kemungkinan ada TK gulung tikar karena kesulitan mendapatkan murid,” kata Endang.

Terpisah, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jember Rifdatul Afiyah menyatakan, pembelajaran daring harus segera disudahi, sehingga murid bisa sekolah kembali dan berinteraksi dengan guru.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/