alexametrics
20.9C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Sekolah TK Ada yang Terancam Tutup

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebih dari setahun pembelajaran daring berlangsung. Sebab, selama pandemi, siswa harus belajar di rumah masing-masing. Mereka mendapat panduan dari guru secara online, serta dampingan dari orang tua. Termasuk bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dampaknya, calon wali murid yang memiliki anak usia PAUD enggan mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Mereka menunggu hingga pembelajaran daring berakhir dan berganti menjadi pembelajaran tatap muka. “Gara-gara pandemi, orang tua tidak mau mendaftarkan anak ke sekolah. Mereka ingin anak belajar di kelas, bukan di rumah,” ungkap Endang Supriatin, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.

Kepala TK Al Amien Jember itu memaparkan, ketika musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) seperti sekarang ini, biasanya orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak untuk masuk sekolah. Dan itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun kini, akibat pandemi, kondisinya berbeda.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di Jember, Endang memaparkan, total ada 900 lembaga PAUD. Karena orang tua menanti pembelajaran tatap muka untuk mendaftarkan anaknya, maka dia memprediksi akan berpengaruh terhadap jumlah murid untuk masing-masing lembaga. “Dan tidak menutup kemungkinan ada TK gulung tikar karena kesulitan mendapatkan murid,” kata Endang.

Terpisah, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jember Rifdatul Afiyah menyatakan, pembelajaran daring harus segera disudahi, sehingga murid bisa sekolah kembali dan berinteraksi dengan guru.

Menurut dia, ada sebagian orang tua yang beranggapan bahwa pembelajaran daring merepotkan mereka, karena harus mendampingi anak setiap hari. “Karena itu, ketimbang sekolah daring ini mengganggu aktivitas sebagai ibu rumah tangga, maka mereka memilih anaknya tidak usah sekolah sekalian,” jelasnya.

Padahal, kata Rifdatul, sikap membiarkan anak tidak sekolah tidak saja merugikan orang tua, tapi juga anak itu sendiri. Terlebih, jika selama di rumah, anak hanya memainkan gawai. Dampaknya, anak bisa asosial karena tidak mengenal teman sebaya.

 

 

Jurnalis : Winardyasto
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebih dari setahun pembelajaran daring berlangsung. Sebab, selama pandemi, siswa harus belajar di rumah masing-masing. Mereka mendapat panduan dari guru secara online, serta dampingan dari orang tua. Termasuk bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dampaknya, calon wali murid yang memiliki anak usia PAUD enggan mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Mereka menunggu hingga pembelajaran daring berakhir dan berganti menjadi pembelajaran tatap muka. “Gara-gara pandemi, orang tua tidak mau mendaftarkan anak ke sekolah. Mereka ingin anak belajar di kelas, bukan di rumah,” ungkap Endang Supriatin, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.

Kepala TK Al Amien Jember itu memaparkan, ketika musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) seperti sekarang ini, biasanya orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak untuk masuk sekolah. Dan itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun kini, akibat pandemi, kondisinya berbeda.

Mobile_AP_Half Page

Di Jember, Endang memaparkan, total ada 900 lembaga PAUD. Karena orang tua menanti pembelajaran tatap muka untuk mendaftarkan anaknya, maka dia memprediksi akan berpengaruh terhadap jumlah murid untuk masing-masing lembaga. “Dan tidak menutup kemungkinan ada TK gulung tikar karena kesulitan mendapatkan murid,” kata Endang.

Terpisah, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jember Rifdatul Afiyah menyatakan, pembelajaran daring harus segera disudahi, sehingga murid bisa sekolah kembali dan berinteraksi dengan guru.

Menurut dia, ada sebagian orang tua yang beranggapan bahwa pembelajaran daring merepotkan mereka, karena harus mendampingi anak setiap hari. “Karena itu, ketimbang sekolah daring ini mengganggu aktivitas sebagai ibu rumah tangga, maka mereka memilih anaknya tidak usah sekolah sekalian,” jelasnya.

Padahal, kata Rifdatul, sikap membiarkan anak tidak sekolah tidak saja merugikan orang tua, tapi juga anak itu sendiri. Terlebih, jika selama di rumah, anak hanya memainkan gawai. Dampaknya, anak bisa asosial karena tidak mengenal teman sebaya.

 

 

Jurnalis : Winardyasto
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebih dari setahun pembelajaran daring berlangsung. Sebab, selama pandemi, siswa harus belajar di rumah masing-masing. Mereka mendapat panduan dari guru secara online, serta dampingan dari orang tua. Termasuk bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dampaknya, calon wali murid yang memiliki anak usia PAUD enggan mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Mereka menunggu hingga pembelajaran daring berakhir dan berganti menjadi pembelajaran tatap muka. “Gara-gara pandemi, orang tua tidak mau mendaftarkan anak ke sekolah. Mereka ingin anak belajar di kelas, bukan di rumah,” ungkap Endang Supriatin, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.

Kepala TK Al Amien Jember itu memaparkan, ketika musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) seperti sekarang ini, biasanya orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak untuk masuk sekolah. Dan itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Namun kini, akibat pandemi, kondisinya berbeda.

Di Jember, Endang memaparkan, total ada 900 lembaga PAUD. Karena orang tua menanti pembelajaran tatap muka untuk mendaftarkan anaknya, maka dia memprediksi akan berpengaruh terhadap jumlah murid untuk masing-masing lembaga. “Dan tidak menutup kemungkinan ada TK gulung tikar karena kesulitan mendapatkan murid,” kata Endang.

Terpisah, Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jember Rifdatul Afiyah menyatakan, pembelajaran daring harus segera disudahi, sehingga murid bisa sekolah kembali dan berinteraksi dengan guru.

Menurut dia, ada sebagian orang tua yang beranggapan bahwa pembelajaran daring merepotkan mereka, karena harus mendampingi anak setiap hari. “Karena itu, ketimbang sekolah daring ini mengganggu aktivitas sebagai ibu rumah tangga, maka mereka memilih anaknya tidak usah sekolah sekalian,” jelasnya.

Padahal, kata Rifdatul, sikap membiarkan anak tidak sekolah tidak saja merugikan orang tua, tapi juga anak itu sendiri. Terlebih, jika selama di rumah, anak hanya memainkan gawai. Dampaknya, anak bisa asosial karena tidak mengenal teman sebaya.

 

 

Jurnalis : Winardyasto
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Waspada Takjil Berbahaya

Lapisan Batuan Melunak

Masih Tak Tahu Jumlah Agen

Izin KBIHU Nakal Bakal Dicabut

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran