Integrasikan Pesan Kesehatan dalam Pembelajaran

Plt Bupati Jember Sambut Kapolres Baru

MEMANDU TRANSAKSI: Salah satu pengajar Kakak Guru, Muhamad Arif Hadi Maulana, sedang berperan sebagai Pak Haji yang sedang menjaga toko sayur dan buah untuk memandu transaksi jual beli siswa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejenuhan semasa pandemi dapat banyak melahirkan ide kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah program Kakak Guru, yang lahir dengan cita-cita untuk mengurangi dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada pelajar SD selama pandemi.

Konsep pembelajarannya unik dan cenderung tidak monoton. Yakni dengan mengintegrasikan pesan kesehatan dalam setiap pembelajaran pada siswa. “Semua kegiatan ini kita kemas dengan metode belajar kreatif. Bermain tapi belajar,” ujar Muhamad Arif Hadi Maulana, founder program Kakak Guru, Jumat (6/11) kemarin.

Program ini dilakukan sekali dalam satu minggu, yakni setiap Jumat. Tempatnya kondisional sesuai kesepakatan para pengajar dan siswa. Siswa yang ikut dalam pembelajaran ini merupakan siswa dari SD yang telah berkoordinasi dengan para pengajar.

Setidaknya, ada 4 SD yang telah bekerja sama dengan program ini, yakni SD di Dusun Penitik, MI Irsyadun Nasi’in, SDN Sumber Pinang 3, dan SDN Wirolegi 5. Satu lembaga sekolah ditargetkan melakukan empat kali pertemuan dalam satu bulan. “Yang ikut program ini adalah siswa kelas 5 dan 6 saja,” kata laki-laki yang akrab disapa Ayik itu.

Di minggu pertama November ini, peserta program Kakak Guru menyasar pada siswa kelas V SDN Wirolegi 5. Ini adalah pertemuan terakhir SDN Wirolegi 5, setelah sebelumnya menjalani proses pembelajaran selama tiga kali. “Di penghujung minggu keempat, jadwalnya me-review materi anak-anak tentang sistem pencernaan serta makanan sehat dan tidak sehat,” terangnya.

Konsep pembelajaran yang digunakan adalah bermain peta sistem pencernaan. Para siswa dipisah dalam dua kelompok. Semua kelompok bertugas untuk mencari jackpot berupa gambar makanan sehat dan tidak sehat berukuran kecil yang tersembunyi. Gambar inilah yang nantinya digunakan sebagai alat transaksi di pasar buatan yang sudah disiapkan oleh tim pengajar.

Sebelum berbelanja, siswa harus mencuci tangan dengan sabun di tempat yang telah disediakan, sembari mengulang pemahaman tentang cuci tangan dengan sabun. Sebelum berbelanja, siswa wajib mempresentasikan dan memilah gambar makanan sehat dan tidak sehat dari jackpot yang didapat. Perolehan poin inilah yang nantinya digunakan untuk transaksi buah dan sayur. “Di stan  ada kotak gambar sayur dan bahan makanan Indonesia. Harganya berupa poin yang didapat anak-anak,” imbuh Ayik.

Dewi, salah satu siswa yang mengikuti program ini, menganggap bahwa proses pembelajaran ini lebih terasa seperti bermain. Dirinya sejak awal tidak pernah absen dalam kegiatan belajar ini. Gadis kecil pun berharap, program ini masih akan berlanjut di waktu yang akan datang. “Senang sekali bisa ikut belajar. Tapi, banyak mainnya,” kata siswi kelas lima SD itu dengan malu-malu.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: mg1
Fotografer: mg1