Kenal Hoax Sejak Dini Agar Siswa Tidak Melanggar UU ITE

Sholikhul Huda/Radar Ijen TANGKAL HOAX: Briptu Alfindo Rio Arisandy saat memberikan penjelasan tentang tindak pidana siber kepada para siswa di SMAN 2 Bondowoso.

RADARJEMBER.ID-Hoax atau informasi palsu adalah sumber dari munculnya permasalahan. Apalagi yang menyangkut suku, ras dan agama (SARA). Karenanya perlu ada penetrasi pemahaman terus dilakukan kepada kaum muda. Ratusan siswa SMAN 1 Tenggarang dan SMAN 2 Bondowoso, menjadi salah satu objek pemahaman Dinas Informasi dan Komunikasi (Diskominfo) Bondowoso.

IKLAN

Briptu Alfindo Rio Arisandy menjadi salah satu pemateri. Pria yang selama ini masuk tim cybercrime Polres Bondowoso ini memberikan penjelasan tentang kegiatan dunia maya yang bisa masuk ranah pidana. “Bisa penipuan, SARA dan etnis, pencemaran nama baik, hacking dan illegal akses, pornografi online, pencurian dana dan berita bohong atau hoax,” jelasnya.

Dijelaskannya, siswa harus memahami tata cara bermedia sosial dengan baik. Misalnya memakai bahasa yang tepat, menghargai privasi orang lain, menghindari SARA dan pornografi. “Serta jangan menghasut orang dan menebarkan kebencian,” tegasnya.

Selama ini, Satreskrim Polres Bondowoso telah beberapa kali memroses kasus pelanggaran UU ITE. Alfindo membeberkan contoh kasus tersebut kepada para siswa. Sehingga mereka paham betul tentang kasus yang bisa membawa seseorang ke ranah pidana.

Sementara Kabid Persandian dan Statistik Diskominfo Zaiful Bahri mengatakan, jauh berabad-abad sebelum teknologi media berkembang, Imam Al Ghazali menegaskan bahwa kedua tangan harus dijaga dari memukul orang muslim atau menulis sesuatu yang tidak boleh diucapkan. “Pena adalah salah satu dari lisan, maka jagalah penamu dari sesuatu yang harus terjaga dari lisa,” ujarnya.

Hal itu jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, terutama perkembangan komunikasi di media sosial, kebanyakan pengguna media sosial kurang memperhatikan etika bermedia atau berkomunikasi. “Tidak menjaga lisan maupun tulisan, ini sangat berbahaya,” terangnya.

Pihaknya mengajak siswa untuk mem-filter pertemanan, menampilkan identitas diri dengan benar namun tidak bersifat pribadi, tidak memposting status yang melanggar etika, serta menggunakan sarana media sosial untuk membangun jaringan. “Jangan mudah mengenal orang hanya karena media sosial, sebab ada beberapa kasus penipuan karena perkenalan melalui media soial,” jelasnya.

Sementara Holifah Nur Azizah, Humas SMAN 2 Bondowoso mengatakan, sebanyak 350 siswa itu adalah siswa kelas XII. Pemilihan siswa itu agar mereka ketika lulus kelak, sudah memahami tentang penggunaan media dengan bijak. “Ketika kuliah misalnya, dengan pemahaman saat ini, mereka sudah memiliki benteng untuk menangkal hoax,” tegasnya.

Reporter & Fotografer : Sholikhul Huda
Editor : Narto

Reporter :

Fotografer :

Editor :