alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Waspadai Joki Ujian Masuk PTN

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tapi juga sektor pendidikan di perguruan tinggi. Karena saat ini, beberapa kampus negeri dipusingkan dengan mekanisme ujian masuk bagi calon mahasiswa baru.

Pihak kampus masih dilema. Jika, dilakukan tes secara langsung di kampus atau sekolah, riskan tertular Covid-19 dan mengabaikan kebijakan pemerintah. Sementara dipaksakan untuk ujian daring (online), juga berpotensi menjadi ladang para joki yang menjadi broker ujian masuk pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Meski sebenarnya, peran joki sudah diantisipasi dengan beragam model soal setiap ujian.

Jawa Pos Radar Jember berhasil mewawancarai Joker (bukan nama sebenarnya), salah seorang mantan joki. Alumni salah satu PTN di Surabaya ini mengatakan, praktik joki masuk PTN itu sudah ada sejak lama. Menurutnya, satu orang yang jadi kliennya, setidaknya dibantu empat sampai lima orang. “Biasanya tiga orang itu juga daftar ujian PTN. Nomer pendaftarannya juga berdekatan, agar bisa satu kelas,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keuntungannya, dia mengungkapkan, setiap joki berbeda-beda dan juga dilihat dari klien ingin masuk jurusan apa. “Kalau kedokteran dapatnya banyak,” ujarnya. Jurusan yang banyak mencari jasa joki adalah kedokteran. Sementara untuk sosial adalah hukum. Joker mengaku, seandainya tahun ajaran ini kampus memakai sistem ujian daring akibat korona, maka akan menjadi ladang empuk bagi joki.

Lantas bagaimana cara kampus mencegah praktik perjokian tersebut? Humas Politeknik Negeri Jember (Polije) Mahsus Nurmanto mengatakan, untuk ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri dibedakan menjadi dua. Bahkan, pendaftaran lewat website juga berbeda. “Ada yang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan ada juga Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri (SBMPN). Untuk Polije itu daftarnya lewat SBMPN. Bisa lewat website,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tapi juga sektor pendidikan di perguruan tinggi. Karena saat ini, beberapa kampus negeri dipusingkan dengan mekanisme ujian masuk bagi calon mahasiswa baru.

Pihak kampus masih dilema. Jika, dilakukan tes secara langsung di kampus atau sekolah, riskan tertular Covid-19 dan mengabaikan kebijakan pemerintah. Sementara dipaksakan untuk ujian daring (online), juga berpotensi menjadi ladang para joki yang menjadi broker ujian masuk pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Meski sebenarnya, peran joki sudah diantisipasi dengan beragam model soal setiap ujian.

Jawa Pos Radar Jember berhasil mewawancarai Joker (bukan nama sebenarnya), salah seorang mantan joki. Alumni salah satu PTN di Surabaya ini mengatakan, praktik joki masuk PTN itu sudah ada sejak lama. Menurutnya, satu orang yang jadi kliennya, setidaknya dibantu empat sampai lima orang. “Biasanya tiga orang itu juga daftar ujian PTN. Nomer pendaftarannya juga berdekatan, agar bisa satu kelas,” jelasnya.

Keuntungannya, dia mengungkapkan, setiap joki berbeda-beda dan juga dilihat dari klien ingin masuk jurusan apa. “Kalau kedokteran dapatnya banyak,” ujarnya. Jurusan yang banyak mencari jasa joki adalah kedokteran. Sementara untuk sosial adalah hukum. Joker mengaku, seandainya tahun ajaran ini kampus memakai sistem ujian daring akibat korona, maka akan menjadi ladang empuk bagi joki.

Lantas bagaimana cara kampus mencegah praktik perjokian tersebut? Humas Politeknik Negeri Jember (Polije) Mahsus Nurmanto mengatakan, untuk ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri dibedakan menjadi dua. Bahkan, pendaftaran lewat website juga berbeda. “Ada yang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan ada juga Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri (SBMPN). Untuk Polije itu daftarnya lewat SBMPN. Bisa lewat website,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tapi juga sektor pendidikan di perguruan tinggi. Karena saat ini, beberapa kampus negeri dipusingkan dengan mekanisme ujian masuk bagi calon mahasiswa baru.

Pihak kampus masih dilema. Jika, dilakukan tes secara langsung di kampus atau sekolah, riskan tertular Covid-19 dan mengabaikan kebijakan pemerintah. Sementara dipaksakan untuk ujian daring (online), juga berpotensi menjadi ladang para joki yang menjadi broker ujian masuk pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Meski sebenarnya, peran joki sudah diantisipasi dengan beragam model soal setiap ujian.

Jawa Pos Radar Jember berhasil mewawancarai Joker (bukan nama sebenarnya), salah seorang mantan joki. Alumni salah satu PTN di Surabaya ini mengatakan, praktik joki masuk PTN itu sudah ada sejak lama. Menurutnya, satu orang yang jadi kliennya, setidaknya dibantu empat sampai lima orang. “Biasanya tiga orang itu juga daftar ujian PTN. Nomer pendaftarannya juga berdekatan, agar bisa satu kelas,” jelasnya.

Keuntungannya, dia mengungkapkan, setiap joki berbeda-beda dan juga dilihat dari klien ingin masuk jurusan apa. “Kalau kedokteran dapatnya banyak,” ujarnya. Jurusan yang banyak mencari jasa joki adalah kedokteran. Sementara untuk sosial adalah hukum. Joker mengaku, seandainya tahun ajaran ini kampus memakai sistem ujian daring akibat korona, maka akan menjadi ladang empuk bagi joki.

Lantas bagaimana cara kampus mencegah praktik perjokian tersebut? Humas Politeknik Negeri Jember (Polije) Mahsus Nurmanto mengatakan, untuk ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri dibedakan menjadi dua. Bahkan, pendaftaran lewat website juga berbeda. “Ada yang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan ada juga Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri (SBMPN). Untuk Polije itu daftarnya lewat SBMPN. Bisa lewat website,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/