alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Siswa Masuk Sekolah dengan Skema Kompilasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu satu per satu siswa mulai datang ke sekolah. Awalnya tiga orang, lalu menyusul dua orang lainnya datang silih berganti. Terus hingga 16 siswa menempati sejumlah meja di kelas tersebut. Mereka duduk di bangku masing-masing, dipisahkan dengan selasar antarmeja.

Begitulah suasana di SMPN 2 Sumberjambe. Sekolah ini telah melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas bagi kelas akhir. Para siswa kelas 9 mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan seragam dan hanya berlangsung selama tiga jam tiap harinya.

Kepala SMPN 2 Sumberjambe Hadrianus S. Hadi mengungkapkan, langkah ini dilakukan sebagai upaya utama untuk mempersiapkan pembelajaran tatap muka dalam skala besar. Dia menyebutnya sebagai siswa kelompok belajar tatap muka. “Kami bikin satu kali pertemuan terdiri atas satu kelompok berisi 16 siswa. Tujuannya untuk mewujudkan tutor sebaya,” ungkapnya, Selasa (6/4) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pembelajaran tatap muka terbatas ini, lanjut dia, hanya berlaku pada dua kelas dan tidak menyeluruh pada siswa lainnya. Menurut Hadrianus, ini adalah skema kompilasi tatap muka terbatas. Artinya, siswa yang terdiri atas satu kelompok itu bukan dari penunjukan sekolah, namun mereka mengajukan diri untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Sehingga, jumlah tersebut diacak dari beberapa kelas.

“Ini namanya kompilasi. Siswa yang mengajukan diri untuk ikut tatap muka. Mereka yang memiliki kemauan tinggi untuk mempersiapkan ujian sekolah,” imbuh Hadrianus ketika ditemui di ruangannya.

Melalui skema ini, sekolah berharap bisa mewujudkan fenomena tutor sebaya. Siswa yang telah mengikuti kelas ini akan menyebarkan materi kepada kawan lainnya yang tidak mengikuti kelas.

Cara ini dinilai lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem pembelajaran daring. Sebab, secara geografis, letak sekolah dan rumah siswa relatif tidak terjangkau akses internet. Karena itu, jika ada instruksi penugasan, siswa tidak segera mengerjakannya, bahkan cenderung lalai dan lupa. “Tutor sebaya ini lebih efektif. Kalau mengandalkan daring, kadang anak-anak bilang nggak punya paketan (internet, Red), ponselnya dibawa orang tua, dan lain- lain,” lanjutnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu satu per satu siswa mulai datang ke sekolah. Awalnya tiga orang, lalu menyusul dua orang lainnya datang silih berganti. Terus hingga 16 siswa menempati sejumlah meja di kelas tersebut. Mereka duduk di bangku masing-masing, dipisahkan dengan selasar antarmeja.

Begitulah suasana di SMPN 2 Sumberjambe. Sekolah ini telah melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas bagi kelas akhir. Para siswa kelas 9 mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan seragam dan hanya berlangsung selama tiga jam tiap harinya.

Kepala SMPN 2 Sumberjambe Hadrianus S. Hadi mengungkapkan, langkah ini dilakukan sebagai upaya utama untuk mempersiapkan pembelajaran tatap muka dalam skala besar. Dia menyebutnya sebagai siswa kelompok belajar tatap muka. “Kami bikin satu kali pertemuan terdiri atas satu kelompok berisi 16 siswa. Tujuannya untuk mewujudkan tutor sebaya,” ungkapnya, Selasa (6/4) kemarin.

Pembelajaran tatap muka terbatas ini, lanjut dia, hanya berlaku pada dua kelas dan tidak menyeluruh pada siswa lainnya. Menurut Hadrianus, ini adalah skema kompilasi tatap muka terbatas. Artinya, siswa yang terdiri atas satu kelompok itu bukan dari penunjukan sekolah, namun mereka mengajukan diri untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Sehingga, jumlah tersebut diacak dari beberapa kelas.

“Ini namanya kompilasi. Siswa yang mengajukan diri untuk ikut tatap muka. Mereka yang memiliki kemauan tinggi untuk mempersiapkan ujian sekolah,” imbuh Hadrianus ketika ditemui di ruangannya.

Melalui skema ini, sekolah berharap bisa mewujudkan fenomena tutor sebaya. Siswa yang telah mengikuti kelas ini akan menyebarkan materi kepada kawan lainnya yang tidak mengikuti kelas.

Cara ini dinilai lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem pembelajaran daring. Sebab, secara geografis, letak sekolah dan rumah siswa relatif tidak terjangkau akses internet. Karena itu, jika ada instruksi penugasan, siswa tidak segera mengerjakannya, bahkan cenderung lalai dan lupa. “Tutor sebaya ini lebih efektif. Kalau mengandalkan daring, kadang anak-anak bilang nggak punya paketan (internet, Red), ponselnya dibawa orang tua, dan lain- lain,” lanjutnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu satu per satu siswa mulai datang ke sekolah. Awalnya tiga orang, lalu menyusul dua orang lainnya datang silih berganti. Terus hingga 16 siswa menempati sejumlah meja di kelas tersebut. Mereka duduk di bangku masing-masing, dipisahkan dengan selasar antarmeja.

Begitulah suasana di SMPN 2 Sumberjambe. Sekolah ini telah melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas bagi kelas akhir. Para siswa kelas 9 mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan seragam dan hanya berlangsung selama tiga jam tiap harinya.

Kepala SMPN 2 Sumberjambe Hadrianus S. Hadi mengungkapkan, langkah ini dilakukan sebagai upaya utama untuk mempersiapkan pembelajaran tatap muka dalam skala besar. Dia menyebutnya sebagai siswa kelompok belajar tatap muka. “Kami bikin satu kali pertemuan terdiri atas satu kelompok berisi 16 siswa. Tujuannya untuk mewujudkan tutor sebaya,” ungkapnya, Selasa (6/4) kemarin.

Pembelajaran tatap muka terbatas ini, lanjut dia, hanya berlaku pada dua kelas dan tidak menyeluruh pada siswa lainnya. Menurut Hadrianus, ini adalah skema kompilasi tatap muka terbatas. Artinya, siswa yang terdiri atas satu kelompok itu bukan dari penunjukan sekolah, namun mereka mengajukan diri untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Sehingga, jumlah tersebut diacak dari beberapa kelas.

“Ini namanya kompilasi. Siswa yang mengajukan diri untuk ikut tatap muka. Mereka yang memiliki kemauan tinggi untuk mempersiapkan ujian sekolah,” imbuh Hadrianus ketika ditemui di ruangannya.

Melalui skema ini, sekolah berharap bisa mewujudkan fenomena tutor sebaya. Siswa yang telah mengikuti kelas ini akan menyebarkan materi kepada kawan lainnya yang tidak mengikuti kelas.

Cara ini dinilai lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem pembelajaran daring. Sebab, secara geografis, letak sekolah dan rumah siswa relatif tidak terjangkau akses internet. Karena itu, jika ada instruksi penugasan, siswa tidak segera mengerjakannya, bahkan cenderung lalai dan lupa. “Tutor sebaya ini lebih efektif. Kalau mengandalkan daring, kadang anak-anak bilang nggak punya paketan (internet, Red), ponselnya dibawa orang tua, dan lain- lain,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/