alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Banyak Sekolah Bergantung Guru Honorer

Wacana Penghapusan Dianggap Memberatkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana pemerintah untuk menghapus tenaga guru honorer di lingkungan pendidikan mulai menuai kritik. Tak sedikit mereka yang menilai, kebijakan tersebut tak hanya mengancam keberlangsungan nasib guru secara personal, tapi juga berdampak terhadap kelembagaan.

Hal itu karena hampir di setiap sekolah di berbagai jenjang, keberadaan guru honorer masih cukup besar. Bahkan, jumlahnya bisa lebih besar dari pada guru pegawai negeri sipil (PNS). “Sekolah pasti kelimpungan, karena satu sekolah saja, honorer lebih banyak dari pada guru PNS-nya,” kata Wakil Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Cabang Jember Nur Hasyim.

Menurutnya, ketika diberlakukan, guru honorer hanya mempunyai dua pilihan. Akan kembali bertaruh mengikuti CPNS atau seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), atau justru mendapati kemungkinan terburuknya, yaitu berhenti menjadi guru. “Itu tentu bukan kebijakan yang manusiawi,” keluhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Belum lagi, berkaitan dengan hak-hak mereka. Menurut Hasyim, hak yang diterima guru honorer umumnya masih jauh seperti yang diharapkan. Tidak sedikit guru honorer yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Agama SMKN 2 Jember itu meyakini, di Jember terdapat ribuan guru yang masih berstatus honorer.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana pemerintah untuk menghapus tenaga guru honorer di lingkungan pendidikan mulai menuai kritik. Tak sedikit mereka yang menilai, kebijakan tersebut tak hanya mengancam keberlangsungan nasib guru secara personal, tapi juga berdampak terhadap kelembagaan.

Hal itu karena hampir di setiap sekolah di berbagai jenjang, keberadaan guru honorer masih cukup besar. Bahkan, jumlahnya bisa lebih besar dari pada guru pegawai negeri sipil (PNS). “Sekolah pasti kelimpungan, karena satu sekolah saja, honorer lebih banyak dari pada guru PNS-nya,” kata Wakil Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Cabang Jember Nur Hasyim.

Menurutnya, ketika diberlakukan, guru honorer hanya mempunyai dua pilihan. Akan kembali bertaruh mengikuti CPNS atau seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), atau justru mendapati kemungkinan terburuknya, yaitu berhenti menjadi guru. “Itu tentu bukan kebijakan yang manusiawi,” keluhnya.

Belum lagi, berkaitan dengan hak-hak mereka. Menurut Hasyim, hak yang diterima guru honorer umumnya masih jauh seperti yang diharapkan. Tidak sedikit guru honorer yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Agama SMKN 2 Jember itu meyakini, di Jember terdapat ribuan guru yang masih berstatus honorer.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana pemerintah untuk menghapus tenaga guru honorer di lingkungan pendidikan mulai menuai kritik. Tak sedikit mereka yang menilai, kebijakan tersebut tak hanya mengancam keberlangsungan nasib guru secara personal, tapi juga berdampak terhadap kelembagaan.

Hal itu karena hampir di setiap sekolah di berbagai jenjang, keberadaan guru honorer masih cukup besar. Bahkan, jumlahnya bisa lebih besar dari pada guru pegawai negeri sipil (PNS). “Sekolah pasti kelimpungan, karena satu sekolah saja, honorer lebih banyak dari pada guru PNS-nya,” kata Wakil Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Cabang Jember Nur Hasyim.

Menurutnya, ketika diberlakukan, guru honorer hanya mempunyai dua pilihan. Akan kembali bertaruh mengikuti CPNS atau seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), atau justru mendapati kemungkinan terburuknya, yaitu berhenti menjadi guru. “Itu tentu bukan kebijakan yang manusiawi,” keluhnya.

Belum lagi, berkaitan dengan hak-hak mereka. Menurut Hasyim, hak yang diterima guru honorer umumnya masih jauh seperti yang diharapkan. Tidak sedikit guru honorer yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Agama SMKN 2 Jember itu meyakini, di Jember terdapat ribuan guru yang masih berstatus honorer.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/