Ratusan Siswa Terpaksa Belajar di Teras Warga, Suara Guru Saling Sahut-sahutan

Jumai/Radar Jember BUKAN KELAS OUTDOOR: Siswa SDN Jatiroto 03 Dusun Krajan, Desa Jatiroto, Kecamatan Sumberbari, terpaksa melakukan kegiatan belajar mengajar di teras rumah warga.

RADARJEMBER.ID – Ruang kelas direhab, ratusan siswa SDN jatiroto 03, Dusun Krajan, Desa Jatiroto, Kecamatan Sumberbaru terpaksa harus menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di teras rumah warga.  Mereka adalah siswa kelas 4, 5, dan 6.

IKLAN

Ada tiga teras rumah warga yang dijadikan kelas. Yakni teras rumah milik Sofyan ditempati siswa kelas 6 yang jumlah siswanya 49 anak. Teras rumah Sarman ditempati siswa kelas 4 A yang jumlahnya siswanya 26 anak, dan teras Hosniyah ditempati siswa kelas 4 B yang jumlah siswa 27 anak. Sementara siswa kelas 5 mengikuti KBM di dalam musala milik Sofyan.

Aktivitas itu sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. Ini karena semua kelas sedang direhabilitasi. Sementara, siswa kelas 1 dan 3 tetap bisa belajar di sekolah karena ruangannya tak direhabilitasi. Tetapi, untuk kelas 2, meski tetap belajar di sekolah, mereka harus rela menempati tempat parkir. “Itu di tempat parkir yang ada di belakang koperasi sekolah,” ujar Heru Sih Panarimo, Kepala SDN jatiroto 03, kemarin.

Kegiatan belajar mengajar di teras ini juga terganggu karena dari tiga kelas yang menempati teras rumah warga ini tidak ada penyekatnya. Ketika guru yang satu menerangkan mata pelajaran, otomatis kelas lain terganggu. “Sahut-sahutan,” tambahnya

Para guru mengaku tidak bisa fokus. Dandi, guru kelas 6 dengan 49 siswa ini mengaku sangat terganggu ketika menerangkan mata pelajaran kepada siswanya. Sebab, para siswa tidak bisa berkumpul akibat teras rumah berbentuk L.

Keluhan juga disampaikan Siti Homsatun, guru kelas 4 A. Dia mengaku kurang fokus saat mengajar puluhan siswanya. Sebab, siswa kelas yang diajar dengan kelas 4B tidak ada penyekatnya. “Jadi ya suaranya ramai,”  ujar Homsatun.

Tapi, itu terpaksa dilakukan, karena memang tidak ada lagi ruang kelas yang bisa ditempati. Sebab, hampir seluruh ruang kelas direhab oleh dinas pendidikan. “Kelasnya tak cukup. Sebelum direhab saja ada dua kelas yang masuknya gantian pagi dan siang,” tukasnya.

Belajar di rumah warga ini sebenarnya diawali inisiatif warga. Pihak sekolah ditawari oleh keluarga penjaga sekolah yang juga warga setempat untuk sementara menempati rumah penduduk. Karena jaraknya juga dekat, maka dirapatkan dan akhirnya disepakati untuk KBM di teras dan musala milik warga. “Yang penting siswa tetap mengikuti KBM walaupun tempatnya sangat sederhana,” tandas Heru.

Reporter & Fotografer: Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :