alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Langkah Ponpes Asri Lindungi Perempuan

Berdiri untuk Kembangkan Santri Putri

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Ash Shiddiqi Puteri (Ponpes Ashri) merupakan tempat menimba ilmu bagi kaum hawa. Ponpes ini didirikan sejak tahun 1931, atau sebelum Indonesia merdeka, oleh KH Abdul Chalim Shiddiq, putra pertama KH Muhammad Shiddiq, di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Setelah wafat, kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, KH Syauqi, dan sekarang oleh KH Muhammad Ayyub Syaiful Ridjal atau Gus Syaif.

Baca Juga : Kesenjangan Ekonomi Picu Kekerasan Perempuan

Pada awalnya, Ashri bergabung dengan Ash Shiddiqi Putera (Ashtra) yang tidak jauh dari lokasi Ashri sekarang. Pada tahun 1964, Ashri mulai memisahkan diri dari Ashtra dan membuat asrama sendiri khusus puteri. Lokasinya tidak jauh dari Ashtra asuhan Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman. “Awal pindah, santriwati Ashri tetap mengikuti pendidikan formal di Ashtra. Setiap hari para santri jalan kaki dari pesantren,” kata Gus Syaif.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dikatakan, sedikit demi sedikit Ashri mulai membangun lembaga formal sendiri. Mulai dari madrasah tsanawiyah hingga madrasah aliyah (MTs dan MA). “Setelah itu, saya beserta kakak saya mulai membangun lembaga pendidikan formal sendiri,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di kediamannya.

Agar banyak memberikan manfaat, keberadaan lembaga formal Ashri juga membuka diri bagi masyarakat yang ingin mengikuti pendidikan formal tanpa mondok. Namun, seiring berjalannya waktu, Ashri membuat kebijakan untuk melarang santri hanya mengikuti pendidikan formal, tetapi wajib mondok dan mengikuti kegiatan madrasah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Ash Shiddiqi Puteri (Ponpes Ashri) merupakan tempat menimba ilmu bagi kaum hawa. Ponpes ini didirikan sejak tahun 1931, atau sebelum Indonesia merdeka, oleh KH Abdul Chalim Shiddiq, putra pertama KH Muhammad Shiddiq, di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Setelah wafat, kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, KH Syauqi, dan sekarang oleh KH Muhammad Ayyub Syaiful Ridjal atau Gus Syaif.

Baca Juga : Kesenjangan Ekonomi Picu Kekerasan Perempuan

Pada awalnya, Ashri bergabung dengan Ash Shiddiqi Putera (Ashtra) yang tidak jauh dari lokasi Ashri sekarang. Pada tahun 1964, Ashri mulai memisahkan diri dari Ashtra dan membuat asrama sendiri khusus puteri. Lokasinya tidak jauh dari Ashtra asuhan Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman. “Awal pindah, santriwati Ashri tetap mengikuti pendidikan formal di Ashtra. Setiap hari para santri jalan kaki dari pesantren,” kata Gus Syaif.

Dikatakan, sedikit demi sedikit Ashri mulai membangun lembaga formal sendiri. Mulai dari madrasah tsanawiyah hingga madrasah aliyah (MTs dan MA). “Setelah itu, saya beserta kakak saya mulai membangun lembaga pendidikan formal sendiri,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di kediamannya.

Agar banyak memberikan manfaat, keberadaan lembaga formal Ashri juga membuka diri bagi masyarakat yang ingin mengikuti pendidikan formal tanpa mondok. Namun, seiring berjalannya waktu, Ashri membuat kebijakan untuk melarang santri hanya mengikuti pendidikan formal, tetapi wajib mondok dan mengikuti kegiatan madrasah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Ash Shiddiqi Puteri (Ponpes Ashri) merupakan tempat menimba ilmu bagi kaum hawa. Ponpes ini didirikan sejak tahun 1931, atau sebelum Indonesia merdeka, oleh KH Abdul Chalim Shiddiq, putra pertama KH Muhammad Shiddiq, di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Setelah wafat, kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, KH Syauqi, dan sekarang oleh KH Muhammad Ayyub Syaiful Ridjal atau Gus Syaif.

Baca Juga : Kesenjangan Ekonomi Picu Kekerasan Perempuan

Pada awalnya, Ashri bergabung dengan Ash Shiddiqi Putera (Ashtra) yang tidak jauh dari lokasi Ashri sekarang. Pada tahun 1964, Ashri mulai memisahkan diri dari Ashtra dan membuat asrama sendiri khusus puteri. Lokasinya tidak jauh dari Ashtra asuhan Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman. “Awal pindah, santriwati Ashri tetap mengikuti pendidikan formal di Ashtra. Setiap hari para santri jalan kaki dari pesantren,” kata Gus Syaif.

Dikatakan, sedikit demi sedikit Ashri mulai membangun lembaga formal sendiri. Mulai dari madrasah tsanawiyah hingga madrasah aliyah (MTs dan MA). “Setelah itu, saya beserta kakak saya mulai membangun lembaga pendidikan formal sendiri,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di kediamannya.

Agar banyak memberikan manfaat, keberadaan lembaga formal Ashri juga membuka diri bagi masyarakat yang ingin mengikuti pendidikan formal tanpa mondok. Namun, seiring berjalannya waktu, Ashri membuat kebijakan untuk melarang santri hanya mengikuti pendidikan formal, tetapi wajib mondok dan mengikuti kegiatan madrasah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/