alexametrics
29.3 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Pilih Kursuskan Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah satu tahun siswa pendidikan anak usia dini (Paud) menjalani sistem pembelajaran daring. Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran tersebut, pemerintah sebenarnya telah menganggarkan kuota internet untuk guru, serta wali murid. Kendati demikian, pembelajaran yang digelar jarak jauh itu dirasa tetap tidak efektif. Sehingga sebagian orang tua, memilih mengursuskan anak mereka sebelum pembelajaran tatap muka benar-benar dilaksanakan.

Ulun Niati, salah satu guru Paud di Yayasan Al Muta’allimin di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, menjabarkan, selama ini pihaknya menerima bantuan kuota setiap bulannya dari dinas pendidikan untuk pembelajaran daring. Setidaknya ia menerima 15 gigabite paket data internet. “Kadang, setiap satu bulan dan kuotanya tidak mesti. Seperti sekarang ini, tidak ada kuota internet masuk sejak Januari,” ungkapnya, belum lama ini.

Pembagiaan kuota tersebut terdiri dari 10 giga untuk akses pembelajaran dengan aplikasi khusus Paud, dan sisanya untuk akses internet. Hanya saja, hingga saat ini pemerintah belum menyiapkan aplikasi khusus untuk pendidikan Paud tersebut. “Jadi selama ini pakek WhatsApp,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, Ulun mengaku, banyak tantangan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung daring. Karena anak Paud tidak bisa belajar sendiri di rumah. Mereka harus mendapat pendampingan dari orang tua atau wali murid. Nah, selama pembelajaran jarak jauh ini prosesnya menjadi terhambat ketika wali murid tidak melakukan pendampingan khusus kepada anak-anak mereka.

Sebab, menurut dia, pembelajaran anak Paud bukan bersifat instruksi atau disuruh. Namun, lebih banyak dilakukan dengan model pendampingan. “Banyak wali murid yang lebih memprioritaskan pekerjaannya, ketimbang mendampingi anak-anak untuk belajar. Saya rasa ini umum di lembaga sekolah mana saja,” imbuh Ulun.

Tidak hanya karena urusan pekerjaan, kendala lain dari wali murid yang lain adalah tidak adanya ponsel pada beberapa orang tua. Ada juga wali murid yang gagap teknologi (gaptek). “Dan ada yang beralasan karena memori penuh. Banyak orang tua yang tidak telaten,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah satu tahun siswa pendidikan anak usia dini (Paud) menjalani sistem pembelajaran daring. Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran tersebut, pemerintah sebenarnya telah menganggarkan kuota internet untuk guru, serta wali murid. Kendati demikian, pembelajaran yang digelar jarak jauh itu dirasa tetap tidak efektif. Sehingga sebagian orang tua, memilih mengursuskan anak mereka sebelum pembelajaran tatap muka benar-benar dilaksanakan.

Ulun Niati, salah satu guru Paud di Yayasan Al Muta’allimin di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, menjabarkan, selama ini pihaknya menerima bantuan kuota setiap bulannya dari dinas pendidikan untuk pembelajaran daring. Setidaknya ia menerima 15 gigabite paket data internet. “Kadang, setiap satu bulan dan kuotanya tidak mesti. Seperti sekarang ini, tidak ada kuota internet masuk sejak Januari,” ungkapnya, belum lama ini.

Pembagiaan kuota tersebut terdiri dari 10 giga untuk akses pembelajaran dengan aplikasi khusus Paud, dan sisanya untuk akses internet. Hanya saja, hingga saat ini pemerintah belum menyiapkan aplikasi khusus untuk pendidikan Paud tersebut. “Jadi selama ini pakek WhatsApp,” ungkapnya.

Selain itu, Ulun mengaku, banyak tantangan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung daring. Karena anak Paud tidak bisa belajar sendiri di rumah. Mereka harus mendapat pendampingan dari orang tua atau wali murid. Nah, selama pembelajaran jarak jauh ini prosesnya menjadi terhambat ketika wali murid tidak melakukan pendampingan khusus kepada anak-anak mereka.

Sebab, menurut dia, pembelajaran anak Paud bukan bersifat instruksi atau disuruh. Namun, lebih banyak dilakukan dengan model pendampingan. “Banyak wali murid yang lebih memprioritaskan pekerjaannya, ketimbang mendampingi anak-anak untuk belajar. Saya rasa ini umum di lembaga sekolah mana saja,” imbuh Ulun.

Tidak hanya karena urusan pekerjaan, kendala lain dari wali murid yang lain adalah tidak adanya ponsel pada beberapa orang tua. Ada juga wali murid yang gagap teknologi (gaptek). “Dan ada yang beralasan karena memori penuh. Banyak orang tua yang tidak telaten,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah satu tahun siswa pendidikan anak usia dini (Paud) menjalani sistem pembelajaran daring. Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran tersebut, pemerintah sebenarnya telah menganggarkan kuota internet untuk guru, serta wali murid. Kendati demikian, pembelajaran yang digelar jarak jauh itu dirasa tetap tidak efektif. Sehingga sebagian orang tua, memilih mengursuskan anak mereka sebelum pembelajaran tatap muka benar-benar dilaksanakan.

Ulun Niati, salah satu guru Paud di Yayasan Al Muta’allimin di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, menjabarkan, selama ini pihaknya menerima bantuan kuota setiap bulannya dari dinas pendidikan untuk pembelajaran daring. Setidaknya ia menerima 15 gigabite paket data internet. “Kadang, setiap satu bulan dan kuotanya tidak mesti. Seperti sekarang ini, tidak ada kuota internet masuk sejak Januari,” ungkapnya, belum lama ini.

Pembagiaan kuota tersebut terdiri dari 10 giga untuk akses pembelajaran dengan aplikasi khusus Paud, dan sisanya untuk akses internet. Hanya saja, hingga saat ini pemerintah belum menyiapkan aplikasi khusus untuk pendidikan Paud tersebut. “Jadi selama ini pakek WhatsApp,” ungkapnya.

Selain itu, Ulun mengaku, banyak tantangan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung daring. Karena anak Paud tidak bisa belajar sendiri di rumah. Mereka harus mendapat pendampingan dari orang tua atau wali murid. Nah, selama pembelajaran jarak jauh ini prosesnya menjadi terhambat ketika wali murid tidak melakukan pendampingan khusus kepada anak-anak mereka.

Sebab, menurut dia, pembelajaran anak Paud bukan bersifat instruksi atau disuruh. Namun, lebih banyak dilakukan dengan model pendampingan. “Banyak wali murid yang lebih memprioritaskan pekerjaannya, ketimbang mendampingi anak-anak untuk belajar. Saya rasa ini umum di lembaga sekolah mana saja,” imbuh Ulun.

Tidak hanya karena urusan pekerjaan, kendala lain dari wali murid yang lain adalah tidak adanya ponsel pada beberapa orang tua. Ada juga wali murid yang gagap teknologi (gaptek). “Dan ada yang beralasan karena memori penuh. Banyak orang tua yang tidak telaten,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/