alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Berikan Gaji untuk Kebutuhan Siswa, Berprinsip Mengajar Itu Memanusiakan

Bagi Dhebora, pendidikan adalah ruh kehidupan. Pendidikan bukan hanya menyampaikan pelajaran, tapi upaya memanusiakan manusia. Dan selama menjadi guru, Dhebora juga sempat membelanjakan semua honornya untuk kebutuhan siswa. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam daftar nama-nama tokoh perempuan berpengaruh di Jember, Dhebora Krisnowati Sumarahiningsih bukanlah siapa-siapa. Hidupnya hanya dihabiskan menjadi guru sejak 1984 lalu. Namun, selama sebagai pendidik, apa yang dilakukannya sangat menginspirasi karena berbeda dengan yang lain. Dia menganggap, menjadi seorang guru adalah jalan pengabdian. Bukan sekadar pekerjaan.

Perjalanan perempuan yang kini menjabat Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Jember ini, diawali dengan mengajar di SDN Banjarsari 01, Kecamatan Bangsalsari. Di sekolah yang berada di kaki gunung tersebut, Dhebora bertemu dengan Suharjo, seorang pegawai perkebunan di Tugusari, Bangsalsari. Lalu keduanya menikah. Dari sini, kehidupannya pun berubah. Dhebora tak hanya menjadi guru saja, tapi juga istri kepala kantor perkebunan.

Meski sudah menyandang sebagai istri pejabat perkebunan, tapi Dhebora tetap terpanggil meneruskan studi ke jenjang perguruan tinggi. Pada 1999, Dhebora menempuh pendidikan D2 pendidikan guru SD (PGSD) di salah satu universitas di Jember. Keputusannya melanjutkan kuliah mendapat respons negatif dari lingkungan. Hampir semua masyarakat perkebunan menuding Dheboro selingkuhg, dan menempuh pendidikan itu hanya menjadi kedok semata. “Orang-orang saat itu mencaci. Apa yang akan dicari, harta sudah ada. Apa lagi, juga muncul fitnah perselingkuhan. Banyak pokoknya,” tuturnya, mengisahkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Cemoohan itu justru menjadi pelecut semangatnya meraih cita-cita. Usai lulus PGSD, Dhebora mendapatkan SK mengajar di SDN Gunung Malang, Sumberjambe. Di awal penempatan tugas itu, Dhebora mengaku gelisah. Seoalah tidak bisa menerima keputusan tersebut. Sebab, ia khawatir dengan kondisi anak dan suaminya yang jauh. Namun, salah seorang seniornya menguatkannya agar menerima SK itu. “Senior saya menguatkan untuk tujuan kemanusiaan,” tutur perempuan yang tinggal di Perumahan Tegal Besar Permai, Kaliwates, ini.

Ketika bertugas di SDN Gunung Malang, suaminya tidak pernah absen untuk mengantar sampai ke Terminal Arjasa. Lalu, Dhebora melanjutkan perjalanan dengan transporatasi umum. Karena jarak rumah dan lokasi mengajarnya cukup jauh, Dhebora pun menyewa kos di Cumedak, Sumberjambe, sebagai tempat untuk beristirahat atau ganti baju. Begitulah proses adaptasinya dalam sebulan pertama.

Ketika mengajar di sana, Dhebora merasa miris melihat siswanya yang tak pakai sepatu. Seragamnya juga lusuh, kancingnya tak terpasang dengan benar, hingga terlihat seperti compang camping. Sehingga gaji pertamanya dia gunakan seluruhnya untuk belanja kebutuhan murid- murid. “Ketika jam pelajaran, saya ajak anak-anak belajar di pasar, sekalian membelikan sepatu dan seragam. Gaji saya semuanya untuk kebutuhan anak-anak. Karena bagi saya, uang belanja suami sudah cukup,” ucapnya.

Ia berangkat ke sekolah antara pukul 5 sampai pukul 6 pagi. Sebelum mengajar, Dhebora memandikan semua muridnya. Tak hanya itu, ia kerapkali berkunjung ke rumah wali murid untuk menyambung silaturahmi dan melakukan pendekatan. Ini dilakukan agar anak-anaknya tidak dinikahkan muda. “Saat itu, di sana anak kelas 5 SD sudah punya tunangan. Miris, anak- anak sudah ditunangin. Caranya ya sowan ke orang tua dan wali murid,” ungkapnya.

Dari situ pula, Dhebora merintis organisasi wali murid kelas yang bertujuan untuk mengontrol anak-anak belajar. Dalam sepekan, organisasi wali murid yang didominasi ibu-ibu ini kerap berkumpul. Mereka bersilaturahmi untuk membahas pendidikan anak-anak. “Lebih tepatnya bukan membahas pendidikan anak-anak, tapi mereka belajar membaca juga. Nama organisasinya paguyuban kelas,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam daftar nama-nama tokoh perempuan berpengaruh di Jember, Dhebora Krisnowati Sumarahiningsih bukanlah siapa-siapa. Hidupnya hanya dihabiskan menjadi guru sejak 1984 lalu. Namun, selama sebagai pendidik, apa yang dilakukannya sangat menginspirasi karena berbeda dengan yang lain. Dia menganggap, menjadi seorang guru adalah jalan pengabdian. Bukan sekadar pekerjaan.

Perjalanan perempuan yang kini menjabat Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Jember ini, diawali dengan mengajar di SDN Banjarsari 01, Kecamatan Bangsalsari. Di sekolah yang berada di kaki gunung tersebut, Dhebora bertemu dengan Suharjo, seorang pegawai perkebunan di Tugusari, Bangsalsari. Lalu keduanya menikah. Dari sini, kehidupannya pun berubah. Dhebora tak hanya menjadi guru saja, tapi juga istri kepala kantor perkebunan.

Meski sudah menyandang sebagai istri pejabat perkebunan, tapi Dhebora tetap terpanggil meneruskan studi ke jenjang perguruan tinggi. Pada 1999, Dhebora menempuh pendidikan D2 pendidikan guru SD (PGSD) di salah satu universitas di Jember. Keputusannya melanjutkan kuliah mendapat respons negatif dari lingkungan. Hampir semua masyarakat perkebunan menuding Dheboro selingkuhg, dan menempuh pendidikan itu hanya menjadi kedok semata. “Orang-orang saat itu mencaci. Apa yang akan dicari, harta sudah ada. Apa lagi, juga muncul fitnah perselingkuhan. Banyak pokoknya,” tuturnya, mengisahkan.

Cemoohan itu justru menjadi pelecut semangatnya meraih cita-cita. Usai lulus PGSD, Dhebora mendapatkan SK mengajar di SDN Gunung Malang, Sumberjambe. Di awal penempatan tugas itu, Dhebora mengaku gelisah. Seoalah tidak bisa menerima keputusan tersebut. Sebab, ia khawatir dengan kondisi anak dan suaminya yang jauh. Namun, salah seorang seniornya menguatkannya agar menerima SK itu. “Senior saya menguatkan untuk tujuan kemanusiaan,” tutur perempuan yang tinggal di Perumahan Tegal Besar Permai, Kaliwates, ini.

Ketika bertugas di SDN Gunung Malang, suaminya tidak pernah absen untuk mengantar sampai ke Terminal Arjasa. Lalu, Dhebora melanjutkan perjalanan dengan transporatasi umum. Karena jarak rumah dan lokasi mengajarnya cukup jauh, Dhebora pun menyewa kos di Cumedak, Sumberjambe, sebagai tempat untuk beristirahat atau ganti baju. Begitulah proses adaptasinya dalam sebulan pertama.

Ketika mengajar di sana, Dhebora merasa miris melihat siswanya yang tak pakai sepatu. Seragamnya juga lusuh, kancingnya tak terpasang dengan benar, hingga terlihat seperti compang camping. Sehingga gaji pertamanya dia gunakan seluruhnya untuk belanja kebutuhan murid- murid. “Ketika jam pelajaran, saya ajak anak-anak belajar di pasar, sekalian membelikan sepatu dan seragam. Gaji saya semuanya untuk kebutuhan anak-anak. Karena bagi saya, uang belanja suami sudah cukup,” ucapnya.

Ia berangkat ke sekolah antara pukul 5 sampai pukul 6 pagi. Sebelum mengajar, Dhebora memandikan semua muridnya. Tak hanya itu, ia kerapkali berkunjung ke rumah wali murid untuk menyambung silaturahmi dan melakukan pendekatan. Ini dilakukan agar anak-anaknya tidak dinikahkan muda. “Saat itu, di sana anak kelas 5 SD sudah punya tunangan. Miris, anak- anak sudah ditunangin. Caranya ya sowan ke orang tua dan wali murid,” ungkapnya.

Dari situ pula, Dhebora merintis organisasi wali murid kelas yang bertujuan untuk mengontrol anak-anak belajar. Dalam sepekan, organisasi wali murid yang didominasi ibu-ibu ini kerap berkumpul. Mereka bersilaturahmi untuk membahas pendidikan anak-anak. “Lebih tepatnya bukan membahas pendidikan anak-anak, tapi mereka belajar membaca juga. Nama organisasinya paguyuban kelas,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam daftar nama-nama tokoh perempuan berpengaruh di Jember, Dhebora Krisnowati Sumarahiningsih bukanlah siapa-siapa. Hidupnya hanya dihabiskan menjadi guru sejak 1984 lalu. Namun, selama sebagai pendidik, apa yang dilakukannya sangat menginspirasi karena berbeda dengan yang lain. Dia menganggap, menjadi seorang guru adalah jalan pengabdian. Bukan sekadar pekerjaan.

Perjalanan perempuan yang kini menjabat Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Jember ini, diawali dengan mengajar di SDN Banjarsari 01, Kecamatan Bangsalsari. Di sekolah yang berada di kaki gunung tersebut, Dhebora bertemu dengan Suharjo, seorang pegawai perkebunan di Tugusari, Bangsalsari. Lalu keduanya menikah. Dari sini, kehidupannya pun berubah. Dhebora tak hanya menjadi guru saja, tapi juga istri kepala kantor perkebunan.

Meski sudah menyandang sebagai istri pejabat perkebunan, tapi Dhebora tetap terpanggil meneruskan studi ke jenjang perguruan tinggi. Pada 1999, Dhebora menempuh pendidikan D2 pendidikan guru SD (PGSD) di salah satu universitas di Jember. Keputusannya melanjutkan kuliah mendapat respons negatif dari lingkungan. Hampir semua masyarakat perkebunan menuding Dheboro selingkuhg, dan menempuh pendidikan itu hanya menjadi kedok semata. “Orang-orang saat itu mencaci. Apa yang akan dicari, harta sudah ada. Apa lagi, juga muncul fitnah perselingkuhan. Banyak pokoknya,” tuturnya, mengisahkan.

Cemoohan itu justru menjadi pelecut semangatnya meraih cita-cita. Usai lulus PGSD, Dhebora mendapatkan SK mengajar di SDN Gunung Malang, Sumberjambe. Di awal penempatan tugas itu, Dhebora mengaku gelisah. Seoalah tidak bisa menerima keputusan tersebut. Sebab, ia khawatir dengan kondisi anak dan suaminya yang jauh. Namun, salah seorang seniornya menguatkannya agar menerima SK itu. “Senior saya menguatkan untuk tujuan kemanusiaan,” tutur perempuan yang tinggal di Perumahan Tegal Besar Permai, Kaliwates, ini.

Ketika bertugas di SDN Gunung Malang, suaminya tidak pernah absen untuk mengantar sampai ke Terminal Arjasa. Lalu, Dhebora melanjutkan perjalanan dengan transporatasi umum. Karena jarak rumah dan lokasi mengajarnya cukup jauh, Dhebora pun menyewa kos di Cumedak, Sumberjambe, sebagai tempat untuk beristirahat atau ganti baju. Begitulah proses adaptasinya dalam sebulan pertama.

Ketika mengajar di sana, Dhebora merasa miris melihat siswanya yang tak pakai sepatu. Seragamnya juga lusuh, kancingnya tak terpasang dengan benar, hingga terlihat seperti compang camping. Sehingga gaji pertamanya dia gunakan seluruhnya untuk belanja kebutuhan murid- murid. “Ketika jam pelajaran, saya ajak anak-anak belajar di pasar, sekalian membelikan sepatu dan seragam. Gaji saya semuanya untuk kebutuhan anak-anak. Karena bagi saya, uang belanja suami sudah cukup,” ucapnya.

Ia berangkat ke sekolah antara pukul 5 sampai pukul 6 pagi. Sebelum mengajar, Dhebora memandikan semua muridnya. Tak hanya itu, ia kerapkali berkunjung ke rumah wali murid untuk menyambung silaturahmi dan melakukan pendekatan. Ini dilakukan agar anak-anaknya tidak dinikahkan muda. “Saat itu, di sana anak kelas 5 SD sudah punya tunangan. Miris, anak- anak sudah ditunangin. Caranya ya sowan ke orang tua dan wali murid,” ungkapnya.

Dari situ pula, Dhebora merintis organisasi wali murid kelas yang bertujuan untuk mengontrol anak-anak belajar. Dalam sepekan, organisasi wali murid yang didominasi ibu-ibu ini kerap berkumpul. Mereka bersilaturahmi untuk membahas pendidikan anak-anak. “Lebih tepatnya bukan membahas pendidikan anak-anak, tapi mereka belajar membaca juga. Nama organisasinya paguyuban kelas,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/