Delapan SMAN di Bondowoso Kekurangan Siswa Hingga Perpanjang PPDB

ilustrasi

BONDOWOSO – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi masih membutuhkan sosialisasi yang lebih baik lagi. Sebab, PPDB zonasi yang mengacu Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 masih menyisakan masalah. Banyak SMA negeri yang malah kekurangan siswa. Dari 10 SMA Negeri di Bondowoso, baru ada dua SMA Negeri terpenuhi kuotanya.

IKLAN

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Mahrus Syamsul mengatakan, sistem zonasi itu sebenarnya agar persebaran murid merata. Sekolah di pinggiran yang selama ini sedikit diminati, bisa semakin banyak menerima siswa. Namun kenyataannya, penyerapan peserta didik baru tetap saja sama dengan tahun sebelumnya. “Sama saja, banyak yang belum memenuhi kuota,” tegasnya.

Dijelaskannya, selama PPDB, hanya dua SMA Negeri di Bondowoso yang memenuhi kuota. Sedangkan, delapan SMA Negeri lainnya, yang juga menerapkan sistem zonasi terpaksa harus memperpanjang tanggal pendaftaran karena masih belum memenuhi kuota. Dua sekolah itu adalah SMA Negeri 2 Bondowoso dan SMA Negeri 1 Tenggarang.

Mahrus mengatakan, berdasarkan juknis (petunjuk teknis) PPDB sistem zonasi tahun ini tidak diperkenankan untuk membuka gelombang kedua. Alasannya, agar sekolah-sekolah yang belum memenuhi kuota bisa menerima sejumlah pelajar yang tidak diterima di sekolah yang telah mereka pilih di sistem daring (online). “Atas koordinasi dengan pihak sekolah-sekolah swasta, saya pikir juga betul itu kalau tidak ada gelombang kedua. Kalau gelombang satu saja cukup, yang gelombang kedua barangkali masuk swasta, jadi biar sama dapat siswa lah,” urainya.

Melihat potensi lulusan SMP, sebenarnya di Bondowoso sangat banyak. Namun, rupanya tidak semuanya melanjutkan ke SMA/SMK. Kemungkinan bekerja atau menempuh SMA di pesantren.

Dia menambahkan, tahun ini menjadi kali kedua PPDB sistem zonasi diterapkan. Di Bondowoso setiap sekolah bisa melakukan penerimaan siswa melalui jalur daring (online) dan luring (offline). Pada jalur daring semua pelajar mendaftar secara daring yang kemudian diterima atau tidaknya bisa dilihat melalui laman web PPDB Jawa Timur. Sedangkan pada sistem luring, bisa melalui tiga jalur, yakni Mitra Warga, Bidikmisi, dan Prestasi.

Kepala SMAN 1 Tenggarang Suprihartono mengatakan, tahun ini pihaknya justru kelebihan pendaftar. Kuota yang ditetapkan adalah 360 siswa dengan 10 kelas. Namun, yang mendaftar lebih dari kuota. “Lebih 78 siswa yang mendaftar,” tegasnya.

Terkait zonasi, menurutnya tidak jadi masalah. Sebab, semangatnya bagus, yakni pemerataan pendidikan. Namun yang ditekankan olehnya adalah mutu pendidikan. Selama ini pihaknya memberikan sentuhan tentang sistem pembelajaran. “Saya membuat program double track, jadi siswa bisa merasakan pengalaman tambahan di SMA,” tegasnya. (mgc/hud)

Reporter :

Fotografer :

Editor :