alexametrics
32.1 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Nyaris Satu Semester Tanpa BEM

Tak Ada Kesepakatan Sistem dan Minim Kepercayaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi salah satu tolok ukur kelancaran kegiatan mahasiswa. Namun, di Universitas Jember, hampir satu semester tidak memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ini menjadi insiden pertama yang terjadi sepanjang sejarah kampus ini.

Sejatinya, kekosongan BEM di Unej sudah tercium sejak Desember lalu. Pemilihan yang seyogianya terselenggara pada 10 Desember 2020 lalu, terpaksa harus diundur dan belum digelar hingga saat ini. Hal ini lantaran tidak adanya kesepakatan sistem pemilihan. Serta tidak adanya unsur kepercayaan antara penyelenggara pemira, yang tak lain adalah Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Unej dan beberapa kelompok mahasiswa, khususnya dari lapisan kelompok dua paslon yang mencalonkan diri.

Dalam hal ini, KPUM menginginkan adanya sistem baru yang dianut untuk pemira. Sistem itu berupa e-voting menggunakan swafoto dengan menggunakan aplikasi Sister.

Mobile_AP_Rectangle 2

KPUM meminta sistem e-voting diadakan menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Selain itu, potensi untuk ada kecurangan relatif kecil. Sayangnya, permintaan ini tidak dijawab oleh rektorat. Sederhananya, rektorat hanya siap menyediakan sistem dengan Sister tanpa menambah fitur.

Jika merujuk pada pemberitaan sebelumnya oleh Jawa Pos Radar Jember, KPUM mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan komunikasi jauh-jauh hari atas usul penambahan fitur. Sayangnya, usulan ini tidak direspons baik oleh pihak rektorat.

Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni, Anang Ardian Reza, mengungkapkan bahwa pada Desember lalu, KPUM terlalu mendesak untuk mengajukan perubahan sistem pemira. Tentu, hal permintaan tersebut tidak dapat direalisasikan secara sederhana.

“Tanggal 5 Desember KPUM mengirim surat resmi untuk perubahan sistem yang digunakan tanggal 10 Desember. Hal ini tidak mungkin diwujudkan, terlalu mepet. Mereka (KPUM, Red) menghendaki secara langsung. Tapi, sistem itu bisa dilakukan secara daring. Dan nggak mungkin bisa dimanipulasi,” papar Anang, Senin (3/5).

Anang menilai, kekhawatiran KPUM tentang adanya kecurangan karena e-voting terlalu dini. Sebab, belum ada uji coba sebelumnya. “Sistem apa pun, jika kita berpikir negatifnya, pasti ada kecurangan. Ini bicara positifnya. Mengubah sistem tak semudah itu, harus ada SOP-nya,” ungkapnya.

Akibatnya, beberapa lapisan mahasiswa menginginkan adanya rekonstruksi di tubuh KPUM. Selain itu, paslon 3 resmi mengundurkan diri dari pemira. Sedangkan paslon 2 menyatakan mosi tidak percaya. Seperti itulah wadulan yang diterima oleh Anang. “Bak simalakama. Kami mau merekonstruksi, nanti dianggap intervensi. Tapim kalau didiamkan, mahasiswa banyak yang lapor,” imbuh Anang.

Menanggapi hal tersebut, Subdivisi Korwil Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Andreana Fathur Rozi mengungkapkan, hingga saat ini belum diketahui pihak yang menghendaki adanya perombakan di tubuh KPUM. Aspirasi itu buntu manakala janji audiensi rektorat yang melibatkan semua elemen pemira tidak lekas direalisasikan. “Ini entah takut melakukan audiensi atau mungkin dari kalangan mereka masih belum siap,” ungkapnya.

Menurut dia, jika pemira dilanjutkan dengan satu paslon, maka hal ini tidak imbang. Dia menambahkan, baik paslon 2 maupun 3 belum ada pernyataan khusus mengundurkan diri. “Kami menunggu janji audiensi yang diinginkan rektorat beserta semua elemen pemira,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi salah satu tolok ukur kelancaran kegiatan mahasiswa. Namun, di Universitas Jember, hampir satu semester tidak memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ini menjadi insiden pertama yang terjadi sepanjang sejarah kampus ini.

Sejatinya, kekosongan BEM di Unej sudah tercium sejak Desember lalu. Pemilihan yang seyogianya terselenggara pada 10 Desember 2020 lalu, terpaksa harus diundur dan belum digelar hingga saat ini. Hal ini lantaran tidak adanya kesepakatan sistem pemilihan. Serta tidak adanya unsur kepercayaan antara penyelenggara pemira, yang tak lain adalah Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Unej dan beberapa kelompok mahasiswa, khususnya dari lapisan kelompok dua paslon yang mencalonkan diri.

Dalam hal ini, KPUM menginginkan adanya sistem baru yang dianut untuk pemira. Sistem itu berupa e-voting menggunakan swafoto dengan menggunakan aplikasi Sister.

KPUM meminta sistem e-voting diadakan menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Selain itu, potensi untuk ada kecurangan relatif kecil. Sayangnya, permintaan ini tidak dijawab oleh rektorat. Sederhananya, rektorat hanya siap menyediakan sistem dengan Sister tanpa menambah fitur.

Jika merujuk pada pemberitaan sebelumnya oleh Jawa Pos Radar Jember, KPUM mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan komunikasi jauh-jauh hari atas usul penambahan fitur. Sayangnya, usulan ini tidak direspons baik oleh pihak rektorat.

Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni, Anang Ardian Reza, mengungkapkan bahwa pada Desember lalu, KPUM terlalu mendesak untuk mengajukan perubahan sistem pemira. Tentu, hal permintaan tersebut tidak dapat direalisasikan secara sederhana.

“Tanggal 5 Desember KPUM mengirim surat resmi untuk perubahan sistem yang digunakan tanggal 10 Desember. Hal ini tidak mungkin diwujudkan, terlalu mepet. Mereka (KPUM, Red) menghendaki secara langsung. Tapi, sistem itu bisa dilakukan secara daring. Dan nggak mungkin bisa dimanipulasi,” papar Anang, Senin (3/5).

Anang menilai, kekhawatiran KPUM tentang adanya kecurangan karena e-voting terlalu dini. Sebab, belum ada uji coba sebelumnya. “Sistem apa pun, jika kita berpikir negatifnya, pasti ada kecurangan. Ini bicara positifnya. Mengubah sistem tak semudah itu, harus ada SOP-nya,” ungkapnya.

Akibatnya, beberapa lapisan mahasiswa menginginkan adanya rekonstruksi di tubuh KPUM. Selain itu, paslon 3 resmi mengundurkan diri dari pemira. Sedangkan paslon 2 menyatakan mosi tidak percaya. Seperti itulah wadulan yang diterima oleh Anang. “Bak simalakama. Kami mau merekonstruksi, nanti dianggap intervensi. Tapim kalau didiamkan, mahasiswa banyak yang lapor,” imbuh Anang.

Menanggapi hal tersebut, Subdivisi Korwil Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Andreana Fathur Rozi mengungkapkan, hingga saat ini belum diketahui pihak yang menghendaki adanya perombakan di tubuh KPUM. Aspirasi itu buntu manakala janji audiensi rektorat yang melibatkan semua elemen pemira tidak lekas direalisasikan. “Ini entah takut melakukan audiensi atau mungkin dari kalangan mereka masih belum siap,” ungkapnya.

Menurut dia, jika pemira dilanjutkan dengan satu paslon, maka hal ini tidak imbang. Dia menambahkan, baik paslon 2 maupun 3 belum ada pernyataan khusus mengundurkan diri. “Kami menunggu janji audiensi yang diinginkan rektorat beserta semua elemen pemira,” pungkasnya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi salah satu tolok ukur kelancaran kegiatan mahasiswa. Namun, di Universitas Jember, hampir satu semester tidak memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ini menjadi insiden pertama yang terjadi sepanjang sejarah kampus ini.

Sejatinya, kekosongan BEM di Unej sudah tercium sejak Desember lalu. Pemilihan yang seyogianya terselenggara pada 10 Desember 2020 lalu, terpaksa harus diundur dan belum digelar hingga saat ini. Hal ini lantaran tidak adanya kesepakatan sistem pemilihan. Serta tidak adanya unsur kepercayaan antara penyelenggara pemira, yang tak lain adalah Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Unej dan beberapa kelompok mahasiswa, khususnya dari lapisan kelompok dua paslon yang mencalonkan diri.

Dalam hal ini, KPUM menginginkan adanya sistem baru yang dianut untuk pemira. Sistem itu berupa e-voting menggunakan swafoto dengan menggunakan aplikasi Sister.

KPUM meminta sistem e-voting diadakan menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Selain itu, potensi untuk ada kecurangan relatif kecil. Sayangnya, permintaan ini tidak dijawab oleh rektorat. Sederhananya, rektorat hanya siap menyediakan sistem dengan Sister tanpa menambah fitur.

Jika merujuk pada pemberitaan sebelumnya oleh Jawa Pos Radar Jember, KPUM mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan komunikasi jauh-jauh hari atas usul penambahan fitur. Sayangnya, usulan ini tidak direspons baik oleh pihak rektorat.

Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni, Anang Ardian Reza, mengungkapkan bahwa pada Desember lalu, KPUM terlalu mendesak untuk mengajukan perubahan sistem pemira. Tentu, hal permintaan tersebut tidak dapat direalisasikan secara sederhana.

“Tanggal 5 Desember KPUM mengirim surat resmi untuk perubahan sistem yang digunakan tanggal 10 Desember. Hal ini tidak mungkin diwujudkan, terlalu mepet. Mereka (KPUM, Red) menghendaki secara langsung. Tapi, sistem itu bisa dilakukan secara daring. Dan nggak mungkin bisa dimanipulasi,” papar Anang, Senin (3/5).

Anang menilai, kekhawatiran KPUM tentang adanya kecurangan karena e-voting terlalu dini. Sebab, belum ada uji coba sebelumnya. “Sistem apa pun, jika kita berpikir negatifnya, pasti ada kecurangan. Ini bicara positifnya. Mengubah sistem tak semudah itu, harus ada SOP-nya,” ungkapnya.

Akibatnya, beberapa lapisan mahasiswa menginginkan adanya rekonstruksi di tubuh KPUM. Selain itu, paslon 3 resmi mengundurkan diri dari pemira. Sedangkan paslon 2 menyatakan mosi tidak percaya. Seperti itulah wadulan yang diterima oleh Anang. “Bak simalakama. Kami mau merekonstruksi, nanti dianggap intervensi. Tapim kalau didiamkan, mahasiswa banyak yang lapor,” imbuh Anang.

Menanggapi hal tersebut, Subdivisi Korwil Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Andreana Fathur Rozi mengungkapkan, hingga saat ini belum diketahui pihak yang menghendaki adanya perombakan di tubuh KPUM. Aspirasi itu buntu manakala janji audiensi rektorat yang melibatkan semua elemen pemira tidak lekas direalisasikan. “Ini entah takut melakukan audiensi atau mungkin dari kalangan mereka masih belum siap,” ungkapnya.

Menurut dia, jika pemira dilanjutkan dengan satu paslon, maka hal ini tidak imbang. Dia menambahkan, baik paslon 2 maupun 3 belum ada pernyataan khusus mengundurkan diri. “Kami menunggu janji audiensi yang diinginkan rektorat beserta semua elemen pemira,” pungkasnya.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/