alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Honor Guru Ngaji Jangan Sekadar Bansos

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah guru mengaji pada sejumlah lembaga atau madrasah diniyah cukup banyak di Jember. Setiap harinya, para guru mengaji ini memiliki tugas mengajar dan mendidik anak-anak tentang keagamaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya bertugas mendidik anak-anak, tanpa memiliki kesibukan atau pekerjaan lainnya.

Baca Juga : Guru dan Murid Asal Lumajang Viral di Tiktok

Fakta itu terurai kala puluhan guru mengaji menyampaikan aspirasinya saat bertemu dengan kalangan akademisi dan petinggi Partai NasDem di Hotel Dafam, Jember. Pada forum tersebut, beberapa dari guru mengaji mengeluh karena selama ini terkesan dibiarkan dalam mengurus kemandirian nasib lembaganya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, selama ini mereka juga berkontribusi nyata dalam mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa. “Selama ini kebutuhan masyarakat, guru mengaji, sering kali hanya ditampung. Namun, pada eksekusinya sangat lemah, bahkan tidak ada,” sesal KH Muhamad Jadid Wajad, salah satu guru mengaji yang tinggal di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Pria yang juga Kepala Yayasan Al Ghofilin Talangsari ini menilai, pemerintah perlu menaruh perhatian khusus terhadap nasib para guru mengaji di Jember. Terlebih lagi, satuan pendidikan keagamaan Islam nonformal yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam atau madrasah diniyah (madin) takmiliyah yang memang cukup banyak di Jember.

Dikatakan, di dalam madin banyak guru mengaji yang biasa mengajar dan mendidik peserta didik tentang ilmu pengetahuan agama. Namun, selama ini kegiatan-kegiatan pengajaran di madin berjalan dengan fasilitas seadanya dan mandiri.

“Memang guru ngaji tidak ada gajinya, hanya konsen mengajar, mendidik anak-anak. Mereka tidak memiliki profesi lagi selain mengajar. Dan, karena itu, pemerintah perlu hadir di sana, untuk guru ngaji,” beber Gus Jadid, sapaan akrabnya.

Bentuk kehadiran pemerintah itu dinilainya penting. Secara tidak langsung, para guru mengaji sebenarnya ikut serta membantu mendidik dan mengajar anak-anak tentang nilai-nilai keagamaan. Mengenai kesejahteraan, hak-haknya seperti insentif, dan hal lain yang melekat pada tugas guru mengaji, sudah sepatutnya mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah.

Kalau perlu, kata Gus Jadid, bentuk perhatian dan dukungan pemerintah itu dituangkan dalam bentuk peraturan daerah atau perda, yang memberikan payung hukum untuk para guru mengaji sekaligus ketegasan. “Jika perda disahkan kelak ada kepastian hukum. Sehingga, keberpihakan terhadap madin tidak lagi dalam posisi selalu bergantung pada janji politik kepala daerah,” harapnya.

Regulasi Tahap Penyusunan

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah guru mengaji pada sejumlah lembaga atau madrasah diniyah cukup banyak di Jember. Setiap harinya, para guru mengaji ini memiliki tugas mengajar dan mendidik anak-anak tentang keagamaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya bertugas mendidik anak-anak, tanpa memiliki kesibukan atau pekerjaan lainnya.

Baca Juga : Guru dan Murid Asal Lumajang Viral di Tiktok

Fakta itu terurai kala puluhan guru mengaji menyampaikan aspirasinya saat bertemu dengan kalangan akademisi dan petinggi Partai NasDem di Hotel Dafam, Jember. Pada forum tersebut, beberapa dari guru mengaji mengeluh karena selama ini terkesan dibiarkan dalam mengurus kemandirian nasib lembaganya.

Padahal, selama ini mereka juga berkontribusi nyata dalam mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa. “Selama ini kebutuhan masyarakat, guru mengaji, sering kali hanya ditampung. Namun, pada eksekusinya sangat lemah, bahkan tidak ada,” sesal KH Muhamad Jadid Wajad, salah satu guru mengaji yang tinggal di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Pria yang juga Kepala Yayasan Al Ghofilin Talangsari ini menilai, pemerintah perlu menaruh perhatian khusus terhadap nasib para guru mengaji di Jember. Terlebih lagi, satuan pendidikan keagamaan Islam nonformal yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam atau madrasah diniyah (madin) takmiliyah yang memang cukup banyak di Jember.

Dikatakan, di dalam madin banyak guru mengaji yang biasa mengajar dan mendidik peserta didik tentang ilmu pengetahuan agama. Namun, selama ini kegiatan-kegiatan pengajaran di madin berjalan dengan fasilitas seadanya dan mandiri.

“Memang guru ngaji tidak ada gajinya, hanya konsen mengajar, mendidik anak-anak. Mereka tidak memiliki profesi lagi selain mengajar. Dan, karena itu, pemerintah perlu hadir di sana, untuk guru ngaji,” beber Gus Jadid, sapaan akrabnya.

Bentuk kehadiran pemerintah itu dinilainya penting. Secara tidak langsung, para guru mengaji sebenarnya ikut serta membantu mendidik dan mengajar anak-anak tentang nilai-nilai keagamaan. Mengenai kesejahteraan, hak-haknya seperti insentif, dan hal lain yang melekat pada tugas guru mengaji, sudah sepatutnya mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah.

Kalau perlu, kata Gus Jadid, bentuk perhatian dan dukungan pemerintah itu dituangkan dalam bentuk peraturan daerah atau perda, yang memberikan payung hukum untuk para guru mengaji sekaligus ketegasan. “Jika perda disahkan kelak ada kepastian hukum. Sehingga, keberpihakan terhadap madin tidak lagi dalam posisi selalu bergantung pada janji politik kepala daerah,” harapnya.

Regulasi Tahap Penyusunan

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah guru mengaji pada sejumlah lembaga atau madrasah diniyah cukup banyak di Jember. Setiap harinya, para guru mengaji ini memiliki tugas mengajar dan mendidik anak-anak tentang keagamaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya bertugas mendidik anak-anak, tanpa memiliki kesibukan atau pekerjaan lainnya.

Baca Juga : Guru dan Murid Asal Lumajang Viral di Tiktok

Fakta itu terurai kala puluhan guru mengaji menyampaikan aspirasinya saat bertemu dengan kalangan akademisi dan petinggi Partai NasDem di Hotel Dafam, Jember. Pada forum tersebut, beberapa dari guru mengaji mengeluh karena selama ini terkesan dibiarkan dalam mengurus kemandirian nasib lembaganya.

Padahal, selama ini mereka juga berkontribusi nyata dalam mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa. “Selama ini kebutuhan masyarakat, guru mengaji, sering kali hanya ditampung. Namun, pada eksekusinya sangat lemah, bahkan tidak ada,” sesal KH Muhamad Jadid Wajad, salah satu guru mengaji yang tinggal di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Pria yang juga Kepala Yayasan Al Ghofilin Talangsari ini menilai, pemerintah perlu menaruh perhatian khusus terhadap nasib para guru mengaji di Jember. Terlebih lagi, satuan pendidikan keagamaan Islam nonformal yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam atau madrasah diniyah (madin) takmiliyah yang memang cukup banyak di Jember.

Dikatakan, di dalam madin banyak guru mengaji yang biasa mengajar dan mendidik peserta didik tentang ilmu pengetahuan agama. Namun, selama ini kegiatan-kegiatan pengajaran di madin berjalan dengan fasilitas seadanya dan mandiri.

“Memang guru ngaji tidak ada gajinya, hanya konsen mengajar, mendidik anak-anak. Mereka tidak memiliki profesi lagi selain mengajar. Dan, karena itu, pemerintah perlu hadir di sana, untuk guru ngaji,” beber Gus Jadid, sapaan akrabnya.

Bentuk kehadiran pemerintah itu dinilainya penting. Secara tidak langsung, para guru mengaji sebenarnya ikut serta membantu mendidik dan mengajar anak-anak tentang nilai-nilai keagamaan. Mengenai kesejahteraan, hak-haknya seperti insentif, dan hal lain yang melekat pada tugas guru mengaji, sudah sepatutnya mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah.

Kalau perlu, kata Gus Jadid, bentuk perhatian dan dukungan pemerintah itu dituangkan dalam bentuk peraturan daerah atau perda, yang memberikan payung hukum untuk para guru mengaji sekaligus ketegasan. “Jika perda disahkan kelak ada kepastian hukum. Sehingga, keberpihakan terhadap madin tidak lagi dalam posisi selalu bergantung pada janji politik kepala daerah,” harapnya.

Regulasi Tahap Penyusunan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/