alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Mengajar Enam Kelas Sekaligus, Sisihkan Gaji untuk Merekrut Guru

Perjuangan Tri Hastuti, Kepala SDN Tegalwaru 04 Mayang Pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama Tri Astutik. Dia adalah Kepala SDN Tegalwaru 04 di Kecamatan Mayang. Perempuan ini satu-satunya tenaga pendidik di sekolah perdesaan tersebut. Agar siswa tak terbengkalai, dia pun berinisiatif menyisihkan gaji pribadi untuk merekrut guru tambahan. Bagaimana perjuangannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Tri Hastuti juga mencari guru tambahan. Beruntung, ada tiga orang yang bersedia mengajar di SDN Tegalwaru 04. Pertama adalah lulusan SMA yang mengajukan diri mengajar sebagai syarat untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT), guru yang juga mengajar di SMP, serta mahasiswa semester akhir. “Mahasiswa itu lagi mengerjakan skripsi, tapi jurusan Bahasa Inggris,” jelasnya.

Tiga guru itu membantu Tri Hastuti dalam pembelajaran di tengah pandemi ini. Lantas bagaimana gaji tiga guru tambahan itu? Tri Hastuti menjelaskan, mereka tidak masuk daftar pokok pendidikan (dapodik). “Ya istilahnya direkrut di bawah tangan karena tidak masuk dapodik. Jadi, mereka tidak bisa dapat gaji dari bantuan operasional sekolah,” ucapnya.

Walau begitu, tiga guru sukarelawan itu tetap menerima honor. Per bulan Rp 300 ribu, didapat dari uang gaji yang diterima Tri Hastuti sebagai ASN. “Gajinya pakai uang gaji saya,” jelasnya. Dengan demikian, setiap bulan setidaknya Rp 900 ribu dikeluarkan Tri Hastuti agar kegiatan pembelajaran di SDN Tegalwaru 04 berjalan baik. Dan siswa tidak terbengkalai bila dirinya harus izin mengikuti rapat kedinasan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jurnalis: Dwi Siswanto

Fotografer: Dokumen Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

Tri Hastuti juga mencari guru tambahan. Beruntung, ada tiga orang yang bersedia mengajar di SDN Tegalwaru 04. Pertama adalah lulusan SMA yang mengajukan diri mengajar sebagai syarat untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT), guru yang juga mengajar di SMP, serta mahasiswa semester akhir. “Mahasiswa itu lagi mengerjakan skripsi, tapi jurusan Bahasa Inggris,” jelasnya.

Tiga guru itu membantu Tri Hastuti dalam pembelajaran di tengah pandemi ini. Lantas bagaimana gaji tiga guru tambahan itu? Tri Hastuti menjelaskan, mereka tidak masuk daftar pokok pendidikan (dapodik). “Ya istilahnya direkrut di bawah tangan karena tidak masuk dapodik. Jadi, mereka tidak bisa dapat gaji dari bantuan operasional sekolah,” ucapnya.

Walau begitu, tiga guru sukarelawan itu tetap menerima honor. Per bulan Rp 300 ribu, didapat dari uang gaji yang diterima Tri Hastuti sebagai ASN. “Gajinya pakai uang gaji saya,” jelasnya. Dengan demikian, setiap bulan setidaknya Rp 900 ribu dikeluarkan Tri Hastuti agar kegiatan pembelajaran di SDN Tegalwaru 04 berjalan baik. Dan siswa tidak terbengkalai bila dirinya harus izin mengikuti rapat kedinasan.

Jurnalis: Dwi Siswanto

Fotografer: Dokumen Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

Tri Hastuti juga mencari guru tambahan. Beruntung, ada tiga orang yang bersedia mengajar di SDN Tegalwaru 04. Pertama adalah lulusan SMA yang mengajukan diri mengajar sebagai syarat untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT), guru yang juga mengajar di SMP, serta mahasiswa semester akhir. “Mahasiswa itu lagi mengerjakan skripsi, tapi jurusan Bahasa Inggris,” jelasnya.

Tiga guru itu membantu Tri Hastuti dalam pembelajaran di tengah pandemi ini. Lantas bagaimana gaji tiga guru tambahan itu? Tri Hastuti menjelaskan, mereka tidak masuk daftar pokok pendidikan (dapodik). “Ya istilahnya direkrut di bawah tangan karena tidak masuk dapodik. Jadi, mereka tidak bisa dapat gaji dari bantuan operasional sekolah,” ucapnya.

Walau begitu, tiga guru sukarelawan itu tetap menerima honor. Per bulan Rp 300 ribu, didapat dari uang gaji yang diterima Tri Hastuti sebagai ASN. “Gajinya pakai uang gaji saya,” jelasnya. Dengan demikian, setiap bulan setidaknya Rp 900 ribu dikeluarkan Tri Hastuti agar kegiatan pembelajaran di SDN Tegalwaru 04 berjalan baik. Dan siswa tidak terbengkalai bila dirinya harus izin mengikuti rapat kedinasan.

Jurnalis: Dwi Siswanto

Fotografer: Dokumen Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/