alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Mengajar Enam Kelas Sekaligus, Sisihkan Gaji untuk Merekrut Guru

Perjuangan Tri Hastuti, Kepala SDN Tegalwaru 04 Mayang Pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama Tri Astutik. Dia adalah Kepala SDN Tegalwaru 04 di Kecamatan Mayang. Perempuan ini satu-satunya tenaga pendidik di sekolah perdesaan tersebut. Agar siswa tak terbengkalai, dia pun berinisiatif menyisihkan gaji pribadi untuk merekrut guru tambahan. Bagaimana perjuangannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menuju SDN Tegalwaru 04 tidak begitu susah. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari pusat Jember. Dari Polsek Mayang, belok kanan atau ke arah tenggara. Jalannya pun sudah aspal, bukan makadam. Namun, saat hendak masuk sekolah, jalan mulai berubah paving dan semen, serta semakin menyempit.

Sekolah itu memiliki satu gedung yang disekat untuk enam kelas sekaligus. Mulai kelas 1 hingga kelas 6. Pada 2019 lalu, SDN Tegalwaru 04 tersebut termasuk sekolah yang minim tenaga pengajar. Hanya ada dua guru berstatus ASN, yaitu kepala sekolah dan guru olahraga. Guru honorer pun tidak memiliki.

Agar siswa tetap bisa belajar dengan dua guru tersebut, maka beberapa kelas digabung menjadi satu ruangan. Siswa kelas 1 menjadi satu dengan kelas 2 dan 3. Begitu juga untuk kelas 4 dan 5. Hanya kelas 6 yang sendiri. Siswa kelas akhir ini belajar terpisah. Bahkan, sebelum pandemi, Tri Hastuti harus menyiasati cara mengajarnya. Dirinya duduk di pintu penghubung dua ruangan agar terlihat oleh semua murid di ruangan berbeda. Lantas bagaimana kondisinya sekarang?

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sekarang lebih ngenes lagi. Karena guru olahraga menjadi Plt Kepala SDN Mayang 04. Kesehariannya tidak di sini lagi,” paparnya. Tri Hastuti mau tidak mau menerima kenyataan menjadi guru super power yang merangkap semua. Kepala sekolah, pegawai administrasi, bendahara, hingga guru yang mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6.

Keluh kesah tentu saja dialaminya. Namun, Tri Hastuti tidak mau menyerah begitu saja. Baginya, pendidikan anak-anak itu penting. Sebab, di daerah tempatnya mengajar juga rentan terjadi putus sekolah. Karena itu, dia tidak mau hal itu terus berlangsung. Terlebih, dia meyakini, memajukan Indonesia salah satunya adalah lewat pendidikan. Sebab, dengan pendidikan kualitas sumber daya manusia (SDM) akan meningkat.

Menjadi guru enam kelas sekaligus, bukan berarti tanpa halangan. Pada saat tertentu, Tri Hastuti tidak bisa mengajar karena ada keperluan kedinasan sebagai kepala sekolah. Misalnya ketika ada urusan ke kantor Dinas Pendidikan Jember. Oleh sebab itu, dirinya mulai mencoba untuk merekrut guru secara mandiri.

Namun, mencari guru di sana juga tidak mudah. Apalagi warga sekitar juga jarang yang mengenyam pendidikan menengah atas. Akhirnya, pedagang es yang berjualan di SDN Tegalwaru 04 sempat dia rekrut. “Tapi, sekarang sudah tidak ngajar lagi. Karena menikah dan keluarganya berada di Sukowono,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menuju SDN Tegalwaru 04 tidak begitu susah. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari pusat Jember. Dari Polsek Mayang, belok kanan atau ke arah tenggara. Jalannya pun sudah aspal, bukan makadam. Namun, saat hendak masuk sekolah, jalan mulai berubah paving dan semen, serta semakin menyempit.

Sekolah itu memiliki satu gedung yang disekat untuk enam kelas sekaligus. Mulai kelas 1 hingga kelas 6. Pada 2019 lalu, SDN Tegalwaru 04 tersebut termasuk sekolah yang minim tenaga pengajar. Hanya ada dua guru berstatus ASN, yaitu kepala sekolah dan guru olahraga. Guru honorer pun tidak memiliki.

Agar siswa tetap bisa belajar dengan dua guru tersebut, maka beberapa kelas digabung menjadi satu ruangan. Siswa kelas 1 menjadi satu dengan kelas 2 dan 3. Begitu juga untuk kelas 4 dan 5. Hanya kelas 6 yang sendiri. Siswa kelas akhir ini belajar terpisah. Bahkan, sebelum pandemi, Tri Hastuti harus menyiasati cara mengajarnya. Dirinya duduk di pintu penghubung dua ruangan agar terlihat oleh semua murid di ruangan berbeda. Lantas bagaimana kondisinya sekarang?

“Sekarang lebih ngenes lagi. Karena guru olahraga menjadi Plt Kepala SDN Mayang 04. Kesehariannya tidak di sini lagi,” paparnya. Tri Hastuti mau tidak mau menerima kenyataan menjadi guru super power yang merangkap semua. Kepala sekolah, pegawai administrasi, bendahara, hingga guru yang mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6.

Keluh kesah tentu saja dialaminya. Namun, Tri Hastuti tidak mau menyerah begitu saja. Baginya, pendidikan anak-anak itu penting. Sebab, di daerah tempatnya mengajar juga rentan terjadi putus sekolah. Karena itu, dia tidak mau hal itu terus berlangsung. Terlebih, dia meyakini, memajukan Indonesia salah satunya adalah lewat pendidikan. Sebab, dengan pendidikan kualitas sumber daya manusia (SDM) akan meningkat.

Menjadi guru enam kelas sekaligus, bukan berarti tanpa halangan. Pada saat tertentu, Tri Hastuti tidak bisa mengajar karena ada keperluan kedinasan sebagai kepala sekolah. Misalnya ketika ada urusan ke kantor Dinas Pendidikan Jember. Oleh sebab itu, dirinya mulai mencoba untuk merekrut guru secara mandiri.

Namun, mencari guru di sana juga tidak mudah. Apalagi warga sekitar juga jarang yang mengenyam pendidikan menengah atas. Akhirnya, pedagang es yang berjualan di SDN Tegalwaru 04 sempat dia rekrut. “Tapi, sekarang sudah tidak ngajar lagi. Karena menikah dan keluarganya berada di Sukowono,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menuju SDN Tegalwaru 04 tidak begitu susah. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari pusat Jember. Dari Polsek Mayang, belok kanan atau ke arah tenggara. Jalannya pun sudah aspal, bukan makadam. Namun, saat hendak masuk sekolah, jalan mulai berubah paving dan semen, serta semakin menyempit.

Sekolah itu memiliki satu gedung yang disekat untuk enam kelas sekaligus. Mulai kelas 1 hingga kelas 6. Pada 2019 lalu, SDN Tegalwaru 04 tersebut termasuk sekolah yang minim tenaga pengajar. Hanya ada dua guru berstatus ASN, yaitu kepala sekolah dan guru olahraga. Guru honorer pun tidak memiliki.

Agar siswa tetap bisa belajar dengan dua guru tersebut, maka beberapa kelas digabung menjadi satu ruangan. Siswa kelas 1 menjadi satu dengan kelas 2 dan 3. Begitu juga untuk kelas 4 dan 5. Hanya kelas 6 yang sendiri. Siswa kelas akhir ini belajar terpisah. Bahkan, sebelum pandemi, Tri Hastuti harus menyiasati cara mengajarnya. Dirinya duduk di pintu penghubung dua ruangan agar terlihat oleh semua murid di ruangan berbeda. Lantas bagaimana kondisinya sekarang?

“Sekarang lebih ngenes lagi. Karena guru olahraga menjadi Plt Kepala SDN Mayang 04. Kesehariannya tidak di sini lagi,” paparnya. Tri Hastuti mau tidak mau menerima kenyataan menjadi guru super power yang merangkap semua. Kepala sekolah, pegawai administrasi, bendahara, hingga guru yang mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6.

Keluh kesah tentu saja dialaminya. Namun, Tri Hastuti tidak mau menyerah begitu saja. Baginya, pendidikan anak-anak itu penting. Sebab, di daerah tempatnya mengajar juga rentan terjadi putus sekolah. Karena itu, dia tidak mau hal itu terus berlangsung. Terlebih, dia meyakini, memajukan Indonesia salah satunya adalah lewat pendidikan. Sebab, dengan pendidikan kualitas sumber daya manusia (SDM) akan meningkat.

Menjadi guru enam kelas sekaligus, bukan berarti tanpa halangan. Pada saat tertentu, Tri Hastuti tidak bisa mengajar karena ada keperluan kedinasan sebagai kepala sekolah. Misalnya ketika ada urusan ke kantor Dinas Pendidikan Jember. Oleh sebab itu, dirinya mulai mencoba untuk merekrut guru secara mandiri.

Namun, mencari guru di sana juga tidak mudah. Apalagi warga sekitar juga jarang yang mengenyam pendidikan menengah atas. Akhirnya, pedagang es yang berjualan di SDN Tegalwaru 04 sempat dia rekrut. “Tapi, sekarang sudah tidak ngajar lagi. Karena menikah dan keluarganya berada di Sukowono,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/