Lulusan SMK Masih Laku, Lebih 65 Persen Terserap di Pasar Kerja

JUMAI/RADAR JEMBER LEBIH SIAP: Lulusan SMK ternyata masih diminati pasar kerja. Ini karena selama di sekolah mereka lebih banyak diajari praktik ketrampilan sesuai jurusan yang dipilihnya.

RADARJEMBER.ID – Kabar masih banyaknya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang tak terserap di pasar kerja ditampik Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Cabang Jember Lutfi Isa Ansori. Dia mengatakan, lulusan SMK saat ini masih sangat laku di pasar kerja. Jika persentase, sebagian besar lulusan bisa langsung diterima di sejumlah perusahaan. Angkanya bahkan mencapai lebih 65 persen.

IKLAN

Kata dia, pihaknya memiliki data rigid lulusan SMK. Ada tiga jalur yang terdata usai lulus. Yakni langsung bekerja di perusahaan, melanjutkan kuliah atau menjadi wirausaha.

Dari data dispendik provinsi dari total 12.683 lulusan SMK tahun 2018 kemarin, sebanyak 8.131 lulusan langsung bekerja di sejumlah perusahaan. Oleh karena itu, dapat dipastikan mayoritas lulusan SMK ini memang bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang ada. Bahkan, ada juga sejumlah siswa yang diminta bekerja sebelum lulus sekolah alias mendapatkan ijazah.

Dia mengatakan lulusan SMK ini memang sesuai dengan yang diprogramkan pemerintah yakni bisa diterima oleh lapangan kerja. Berarti sejauh ini SMK memang bisa memberikan solusi untuk kebutuhan kerja perusahaan yang ada. “Karena saat sekolah mereka banyak diberikan ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja,” jelas Lutfi.

Dia menjelaskan untuk lulusan yang tidak bekerja, bukan berarti tidak memiliki ketrampilan di dunia kerja. “Ada yang melanjutkan kuliah karena mungkin ada niat dan kemampuan dari keluarga,” jelasnya. Yang menarik, dari data yang diperoleh oleh pihaknya, para siswa lulusan lainnya yang tidak bekerja dan tidak kuliah tidak menganggur.

“Banyak juga anak-anak yang bekerja mandiri atau menjadi wirausaha. Ketrampilan yang mereka dapat di SMK dimanfaatkan untuk menjadi pengusaha mandiri,” jelasnya. Misalnya untuk program multimedia membuka usaha printing, lulusan mesin akhirnya membuka bengkel.

Meskipun tidak linier, namun itu merupakan pengembangan kreativitas dari lulusan SMK. “Karena kreativitas mereka dan kebutuhan di masyarakat,” jelasnya. Hal ini diakuinya menjadi solusi bagi anak didik karena memiliki ketrampilan yang diberikan oleh SMK.

Yang terpenting, diakuinya, adalah semangat dan niat dari para anak didik untuk memperbaiki nasib dan perjuangan hidup. Diakui Lutfi, dari semua lulusan itu tidak semuanya bisa bekerja, kuliah atau wirausaha. Karena ada juga yang hingga kemarin tidak bisa terdeteksi oleh sekolah. Meskipun jumlahnya juga tidak terlalu banyak.

Oleh karena itu, ke depan SMK diakuinya masih akan menjadi primadona dan akan tetap digenjot pihaknya untuk menjadi solusi bagi anak muda di Jember. Apalagi, kini jumlah lembaga pendidikan SMK di Jember ini juga sangat banyak yakni sekitar 168 lembaga, terdiri dari delapan SMK negeri dan 160 swasta. “Ke depan bukan soal peningkatan kuantitas, tetapi lebih kepada kualitasnya,” jelasnya.

Termasuk juga SMK mini yang ada di sejumlah pondok pesantren yang ada di Jember juga akan terus dikembangkan pihaknya. Diharapkan menjadi pilar dan jawaban atas kebutuhan masyarakat. “Yang menjadi program kita adalah peningkatan kualitas pendidikan dan ketrampilan bagi anak didik, sehingga lulusan SMK semakin diterima oleh dunia kerja,” jelas Lutfi.

Dia menuturkan, SMK memberikan keterampilan kepada anak didik sehingga bisa langsung dilepas kepada masyarakat sebagai tenaga terampil. Di mana nantinya bekal keterampilan inilah yang diharapkan bisa menuntun mereka untuk mengubah nasibnya dengan diaplikasikan ke masyarakat. “SMK bukan memberikan jaminan kerja bagi para lulusannya, tapi kita harapkan bisa menjadi juragan-juragan kecil di masyarakat,” tegasnya.

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :