alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Peningkatan Kualitas Pendidikan Terus Digenjot

Evaluasi Pendidikan Selama Satu Tahun

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi evaluasi perkembangan pendidikan selama satu tahun. Hal ini disampaikan oleh Ketua PGRI Jember Supriyono dalam diskusi daring, kemarin (2/4).

Dia mengungkapkan bahwa selama satu tahun belakangan ini banyak perubahan pendidikan yang terjadi. Yang paling menonjol karena pengaruh sistem pembelajaran secara daring. Dengan adanya pembelajaran daring, anak- anak dinilai sudah terlalu bebas dalam bermain. “Tidak ada controlling khusus dari orang tua ataupun guru. Dampaknya, anak akan mengalami degradasi moral yang cukup tajam,” paparnya.

Selain itu, adanya kebijakan moratorium yang mengakibatkan absennya pengangkatan guru yang telah berlangsung selama beberapa tahun belakangan mengakibatkan ketersediaan guru di Jember masih terhitung kurang. Supriyono menganggap, adanya SK bupati yang telah turun, beberapa waktu lalu, menjadi angin segar bagi sebagian guru honorer. Baik dari segi finansial maupun dalam bidang penempatan tugas mengajar. Sebab, walaupun belum ada pengangkatan guru PNS, namun nasib guru honorer masih mendapat perhatian.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk merespons keprihatinan atas degradasi moral yang menimpa anak-anak, Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman menanggapi bahwa adanya lampu hijau untuk pertemuan tatap muka (PTM) sudah menjadi alternatif. Tentunya dengan memenuhi prokes yang diberlakukan.

“Ada laporan perilaku anak didik yang berubah. Maka, kami berupaya mempercepat proses PTM ini. Karakter anak yang tidak bisa disampaikan melalui contoh, agar cepat didapat oleh anak,” papar pria yang akrab disapa Gus Firjaun ini.

Sekretaris Komisi D DPRD Jember Nur Hasan mengungkapkan, selain degradasi moral, efek dari pembelajaran daring adalah hilangnya sosok inspiratif atau idola untuk murid-murid. “Karena daring, tidak ada yang dicontoh,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi evaluasi perkembangan pendidikan selama satu tahun. Hal ini disampaikan oleh Ketua PGRI Jember Supriyono dalam diskusi daring, kemarin (2/4).

Dia mengungkapkan bahwa selama satu tahun belakangan ini banyak perubahan pendidikan yang terjadi. Yang paling menonjol karena pengaruh sistem pembelajaran secara daring. Dengan adanya pembelajaran daring, anak- anak dinilai sudah terlalu bebas dalam bermain. “Tidak ada controlling khusus dari orang tua ataupun guru. Dampaknya, anak akan mengalami degradasi moral yang cukup tajam,” paparnya.

Selain itu, adanya kebijakan moratorium yang mengakibatkan absennya pengangkatan guru yang telah berlangsung selama beberapa tahun belakangan mengakibatkan ketersediaan guru di Jember masih terhitung kurang. Supriyono menganggap, adanya SK bupati yang telah turun, beberapa waktu lalu, menjadi angin segar bagi sebagian guru honorer. Baik dari segi finansial maupun dalam bidang penempatan tugas mengajar. Sebab, walaupun belum ada pengangkatan guru PNS, namun nasib guru honorer masih mendapat perhatian.

Untuk merespons keprihatinan atas degradasi moral yang menimpa anak-anak, Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman menanggapi bahwa adanya lampu hijau untuk pertemuan tatap muka (PTM) sudah menjadi alternatif. Tentunya dengan memenuhi prokes yang diberlakukan.

“Ada laporan perilaku anak didik yang berubah. Maka, kami berupaya mempercepat proses PTM ini. Karakter anak yang tidak bisa disampaikan melalui contoh, agar cepat didapat oleh anak,” papar pria yang akrab disapa Gus Firjaun ini.

Sekretaris Komisi D DPRD Jember Nur Hasan mengungkapkan, selain degradasi moral, efek dari pembelajaran daring adalah hilangnya sosok inspiratif atau idola untuk murid-murid. “Karena daring, tidak ada yang dicontoh,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi evaluasi perkembangan pendidikan selama satu tahun. Hal ini disampaikan oleh Ketua PGRI Jember Supriyono dalam diskusi daring, kemarin (2/4).

Dia mengungkapkan bahwa selama satu tahun belakangan ini banyak perubahan pendidikan yang terjadi. Yang paling menonjol karena pengaruh sistem pembelajaran secara daring. Dengan adanya pembelajaran daring, anak- anak dinilai sudah terlalu bebas dalam bermain. “Tidak ada controlling khusus dari orang tua ataupun guru. Dampaknya, anak akan mengalami degradasi moral yang cukup tajam,” paparnya.

Selain itu, adanya kebijakan moratorium yang mengakibatkan absennya pengangkatan guru yang telah berlangsung selama beberapa tahun belakangan mengakibatkan ketersediaan guru di Jember masih terhitung kurang. Supriyono menganggap, adanya SK bupati yang telah turun, beberapa waktu lalu, menjadi angin segar bagi sebagian guru honorer. Baik dari segi finansial maupun dalam bidang penempatan tugas mengajar. Sebab, walaupun belum ada pengangkatan guru PNS, namun nasib guru honorer masih mendapat perhatian.

Untuk merespons keprihatinan atas degradasi moral yang menimpa anak-anak, Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman menanggapi bahwa adanya lampu hijau untuk pertemuan tatap muka (PTM) sudah menjadi alternatif. Tentunya dengan memenuhi prokes yang diberlakukan.

“Ada laporan perilaku anak didik yang berubah. Maka, kami berupaya mempercepat proses PTM ini. Karakter anak yang tidak bisa disampaikan melalui contoh, agar cepat didapat oleh anak,” papar pria yang akrab disapa Gus Firjaun ini.

Sekretaris Komisi D DPRD Jember Nur Hasan mengungkapkan, selain degradasi moral, efek dari pembelajaran daring adalah hilangnya sosok inspiratif atau idola untuk murid-murid. “Karena daring, tidak ada yang dicontoh,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/