Kelas Ambruk, KBM di Parkiran dan Gudang

Jumai/Radar Jember MEMPRIHATINKAN: Siswa kelas 2 SDN Sumberejo 5 saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di parkiran sekolah karena kelasnya ambruk.

RADARJEMBER.ID – Hingga kini, masih banyak gedung sekolah di berbagai pelosok Jember yang kondisinya amat memprihatinkan. Tentu saja yang menjadi korban adalah siswa-siswi yang terpaksa harus belajar di lokasi seadanya, bahkan sangat memprihatinkan. Seperti yang dialami oleh siswa-siswi di SDN Sumberejo 5, Ambulu. Selama dua tahun terakhir, setidaknya ada tiga ruang kelas mereka yang rusak.

IKLAN

Akibatnya, para siswa harus menjalani kegiatan belajar mengajar di sejumlah lokasi yang sama sekali tidak bisa dikatakan layak. Seperti yang terlihat di lokasi kemarin siang (1/10), para siswa kelas 2 dengan jumlah 29 orang harus belajar di parkiran sekolah.

Lebih parah lagi, mereka belajar di ruangan terbuka, karena tidak ada penutup layak untuk sebuah kegiatan belajar mengajar (KBM) yang ideal. Sedangkan di sampingnya sudah ada halaman sekolah. Sisi samping hanya ditutupi dengan tirai tipis yang akan terbang jika terkena tiupan angin.

Adapun di sisi depan dan belakang kelas tersebut dibiarkan terbuka begitu saja. Jika ada orang lewat, akan terlihat oleh para siswa ini dan bisa membuat konsentrasi siswa buyar. Sedangkan untuk papan tulis, hanya diletakkan di atas kursi yang kapan pun bisa roboh terkena angin.

“Khawatirnya kalau musim hujan, maka buyar dan terpaksa nunut ke kelas lainnya,” jelas M. Syamsul Hadi, Plt Kepala SDN Sumberejo 5, kemarin. Bukan hanya siswa yang cukup kesulitan dengan kondisi ini, guru pun harus berlindung.

Sebab, jika matahari condong sedikit, maka akan membuat mereka terkena sinar matahari langsung. “Karena terbuka, maka guru pun harus teriak untuk menjelaskan,” ucap Syamsul menambahkan.

Kondisi yang lebih baik dialami oleh siswa kelas 4. mereka menempati ruangan di belakang kelas 1. Walaupun, sebenarnya tidak bisa dikatakan menempati ruangan, karena yang ditempati adalah semacam lorong ukuran 3×4 meter. “Kalau yang ditempati kelas dua ini dulunya gudang,” jelas Syamsul.

Dengan jumlah siswa sekitar 30-an, maka bisa dibayangkan bagaimana pengap dan sempitnya gudang itu. Bukan hanya sempit, karena awalnya gudang, maka pencahayaan pun kurang. Sangat tidak representatif untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Sementara, satu ruang kelas lagi, yakni kelas 3, terpaksa harus berbagi ruangan dengan ruang guru. Jadi, di bagian tengah ruangan ini disekat sebagai pemisah antara ruang guru dan ruang kelas 3. Tiga kelas inilah yang diakuinya selama ini kondisinya sangat mengenaskan. Sedangkan tiga kelas lainnya, diakuinya masih cukup layak untuk ditempati.

Ternyata, kondisi tersebut tidak hanya terjadi dalam waktu singkat. “Kalau pindah ruangan seperti ini sudah sejak 2015 akhir lalu,” terang Syamsul. Hal itu dilakukan saat kondisi tiga ruang kelas mengalami rusak parah, utamanya di bagian genting yang rusak dimakan waktu. Atapnya yang rapuh tidak kuat lagi menahan beban genting.

“Makanya diturunkan gentingnya tahun lalu,” jelasnya. Karena khawatir runtuh dan menyebabkan korban jiwa, lebih baik diturunkan. Menurut Syamsul, kelas yang runtuh ini dibangun sejak tahun 1970-an silam. Bahkan, saat dirinya bersekolah di sekolah ini pada tahun 70-an pun, gedung sekolah itu sudah ada dan sepertinya memang belum banyak diperbaiki.

Syamsul menjelaskan, pihaknya sebenarnya sudah mengajukan perbaikan tiga ruang kelas ini sejak 2015 lalu. Namun, hingga kemarin pihaknya masih menunggu bantuan dari pemerintah untuk sekolah yang memiliki total 146 siswa ini. “Semoga saja bisa segera diperbaiki,” tutur Syamsul.

Pasalnya, sekolah yang rusak ternyata cukup menjadi masalah bagi pihaknya untuk merekrut siswa. “Tahun ini jumlah siswanya menurun drastis. Biasanya setiap kelas 25-30 siswa. Tahun ini hanya menerima 17 siswa saja,” jelas Syamsul.

Padahal, pihaknya sudah mencoba menambah berbagai fasilitas seperti drum band, namun masih belum dilirik oleh warga sekitar untuk menyekolahkan anaknya di sekolah itu. Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi ini dan segera memperbaiki sekolah yang ada di pinggir jalan Ambulu-Watu Ulo ini.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :