23.2 C
Jember
Monday, 30 January 2023

PKRS Hadir, Pernikahan Dini Turun

Mobile_AP_Rectangle 1

SILO, Radar Jember – Program Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) gencar dikampanyekan oleh puluhan pelopor di dua kecamatan, yakni Ledokombo dan Silo. Berkat itu, cerita pernikahan anak sudah mulai turun, setidaknya selama enam bulan terakhir.

BACA JUGA : Rezha Repri Pratama, Wasit Arum Jeram Lisensi Nasional

Setelah sebelumnya latihan penulisan praktik PKRS dilakukan di dua sekolah, di Kecamatan Ledokombo, sehari kemarin pelatihan dilakukan di Kecamatan Silo. Yakni di SMP Al Falah dan MTs Tarbiyatul Ihsan. Di dua sekolah serta di lingkungan desa sekolah itu dulunya ada sejumlah pernikahan dini. Namun, hadirnya PKRS mampu mengubah pemikiran siswa mengenai pentingnya pencegahan pernikahan di usia anak-anak.

SEMANGAT: Pelatihan Penulisan PKRS telah dilangsungkan di SMP Al Falah, di Kecamatan Silo, kemarin.
Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Hamdani, siswa MTs Tarbiyatul Ihsan, Silo, enam bulan lalu ada seorang teman di sekolahnya yang menikah di usia anak-anak. Itu terjadi dua hari saat PKRS dikenalkan. “Tetapi, setelah siswa memahami PKRS, sampai sekarang sudah tidak ada yang menikah di usia anak-anak,” katanya. Dia mengatakan, siswa di sekolahnya bersama para guru gencar melakukan kampanye PKRS, sehingga siswa memahami pentingnya pencegahan pernikahan dini.

Di sekolah lain, di SMP Al Falah, siswa bernama Tia juga menyebut ada temannya yang menikah di usia muda. Namun, setelah mengenal PKRS, mereka pun mulai mengampanyekannya. “Sekarang, kami sering diskusi agar tidak ada lagi yang menikah usia dini,” tuturnya.

- Advertisement -

SILO, Radar Jember – Program Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) gencar dikampanyekan oleh puluhan pelopor di dua kecamatan, yakni Ledokombo dan Silo. Berkat itu, cerita pernikahan anak sudah mulai turun, setidaknya selama enam bulan terakhir.

BACA JUGA : Rezha Repri Pratama, Wasit Arum Jeram Lisensi Nasional

Setelah sebelumnya latihan penulisan praktik PKRS dilakukan di dua sekolah, di Kecamatan Ledokombo, sehari kemarin pelatihan dilakukan di Kecamatan Silo. Yakni di SMP Al Falah dan MTs Tarbiyatul Ihsan. Di dua sekolah serta di lingkungan desa sekolah itu dulunya ada sejumlah pernikahan dini. Namun, hadirnya PKRS mampu mengubah pemikiran siswa mengenai pentingnya pencegahan pernikahan di usia anak-anak.

SEMANGAT: Pelatihan Penulisan PKRS telah dilangsungkan di SMP Al Falah, di Kecamatan Silo, kemarin.

Menurut Hamdani, siswa MTs Tarbiyatul Ihsan, Silo, enam bulan lalu ada seorang teman di sekolahnya yang menikah di usia anak-anak. Itu terjadi dua hari saat PKRS dikenalkan. “Tetapi, setelah siswa memahami PKRS, sampai sekarang sudah tidak ada yang menikah di usia anak-anak,” katanya. Dia mengatakan, siswa di sekolahnya bersama para guru gencar melakukan kampanye PKRS, sehingga siswa memahami pentingnya pencegahan pernikahan dini.

Di sekolah lain, di SMP Al Falah, siswa bernama Tia juga menyebut ada temannya yang menikah di usia muda. Namun, setelah mengenal PKRS, mereka pun mulai mengampanyekannya. “Sekarang, kami sering diskusi agar tidak ada lagi yang menikah usia dini,” tuturnya.

SILO, Radar Jember – Program Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) gencar dikampanyekan oleh puluhan pelopor di dua kecamatan, yakni Ledokombo dan Silo. Berkat itu, cerita pernikahan anak sudah mulai turun, setidaknya selama enam bulan terakhir.

BACA JUGA : Rezha Repri Pratama, Wasit Arum Jeram Lisensi Nasional

Setelah sebelumnya latihan penulisan praktik PKRS dilakukan di dua sekolah, di Kecamatan Ledokombo, sehari kemarin pelatihan dilakukan di Kecamatan Silo. Yakni di SMP Al Falah dan MTs Tarbiyatul Ihsan. Di dua sekolah serta di lingkungan desa sekolah itu dulunya ada sejumlah pernikahan dini. Namun, hadirnya PKRS mampu mengubah pemikiran siswa mengenai pentingnya pencegahan pernikahan di usia anak-anak.

SEMANGAT: Pelatihan Penulisan PKRS telah dilangsungkan di SMP Al Falah, di Kecamatan Silo, kemarin.

Menurut Hamdani, siswa MTs Tarbiyatul Ihsan, Silo, enam bulan lalu ada seorang teman di sekolahnya yang menikah di usia anak-anak. Itu terjadi dua hari saat PKRS dikenalkan. “Tetapi, setelah siswa memahami PKRS, sampai sekarang sudah tidak ada yang menikah di usia anak-anak,” katanya. Dia mengatakan, siswa di sekolahnya bersama para guru gencar melakukan kampanye PKRS, sehingga siswa memahami pentingnya pencegahan pernikahan dini.

Di sekolah lain, di SMP Al Falah, siswa bernama Tia juga menyebut ada temannya yang menikah di usia muda. Namun, setelah mengenal PKRS, mereka pun mulai mengampanyekannya. “Sekarang, kami sering diskusi agar tidak ada lagi yang menikah usia dini,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca