22.4 C
Jember
Tuesday, 6 June 2023

Jangan Tuntut Nilai Tinggi

Bisa Bikin Siswa Tambah Depresi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Bunyi sila pertama adalah?” Begitulah salah satu soal yang tertuang dalam ujian semester kelas II SDN Kepatihan VI. Soal pilihan ganda tersebut membuat Bagus, pelajar kelas II SDN VI itu, bingung, apakah jawabannya A, B, atau C.

“Pak, apa ini jawabannya?” tanya Bagus kepada Pamuji, orang tuanya. Warga Kepatihan, Kaliwates, tersebut tidak segera memberi jawaban. Namun, dia langsung menyodorkan buku pendamping sekolah. “Ini dibaca bukunya,” jawabnya.

Pamuji mengaku, sejak sekolah daring, peran orang tua sangat penting dalam menentukan pendidikan anak. Dalam menyelesaikan tugas sekolah, terkadang lelaki 68 tahun inilah yang menjadi aktor di balik kesuksesan tugas putranya tersebut. Namun, untuk ujian semester, sikap Pamuji tidak seperti itu. Dia memilih menuntun anaknya untuk membaca buku. “Kasarnya, saya mengizinkan anak itu ngerpek (membaca buku, Red) daripada nyontek,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebab, kata dia, bila membaca buku, anak akan berusaha untuk mendapatkan suatu jawaban ketimbang meminta jawaban langsung darinya. Sehingga, dia menyarankan, selama proses pembelajaran daring dan ujian daring ini, yang menjadi tujuan utama bukan lagi nilai. Sebab, semuanya dikerjakan di rumah tanpa pantauan guru. “Kalau mengejar nilai, orang tua juga pusing. Anak juga tidak akan mengerti pelajaran, karena yang mengerjakan adalah orang tua,” jelasnya.

Ujian Akhir Semester (UAS) pada SD ini resmi dilakukan sejak Senin (30/11). Ujian itu bakal diselenggarakan secara berkala. Sekolah berhak menetapkan waktu pelaksanaan ujian. Untuk SD negeri pelaksanaannya sejak awal pekan ini. Sementara, untuk SD swasta sebagian ada yang memulai Senin ini. Sebagian diberi kebebasan untuk memulai ujian pekan depan.

“Penentuan waktu ujian berdasarkan kalender pendidikan (kaldik). Dan kaldik itu sudah ada ketentuannya. Sekolah tinggal menyesuaikan dengan keperluan sekolah,” papar Wildatur Maghfiro, guru SD Baiturohman di Kelurahan Mangli, Kaliwates.

Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah punya cara sendiri. Beberapa sekolah ada yang melaksanakan melalui formulir daring. Soal yang disediakan seluruhnya berupa pilihan ganda. Sebab, jika soal dalam bentuk uraian, sistem tidak bisa mendeteksi. Sedangkan untuk mata pelajaran yang membutuhkan praktik, siswa diwajibkan mengirim video. Durasi pengerjaannya selama 1,5 jam. Metode ini bisanya dilakukan oleh SD di kawasan perkotaan. SD Baiturohman salah satunya.

Lainnya, ada yang melakukan secara manual. Yaitu para wali murid mengambil lembar soal semua mata pelajaran di sekolah, untuk nantinya dikerjakan oleh siswa di rumah. Pengumpulannnya dilakukan di waktu terakhir pelaksanaan sekolah. Tidak jauh berbeda dengan teknis yang pertama, ujian praktik dilaporkan melalui video yang dikirim kepada guru. Model ini banyak didominasi oleh SD di desa.

Sistem pelaksanaan ini banyak mengundang kekhawatiran terhadap nilai kepribadian siswa. Dikhawatirkan tingkat kejujuran siswa dalam mengerjakan tugas mengalami degradasi. Begitupun dengan kualitas pembelajaran siswa. Wilda pun buka kartu mengenai hal tersebut. Kekhawatirannya terhadap penurunan kualitas peserta didik sudah mulai terasa sejak awal mula kegiatan pembelajaran daring dimulai.

Biasanya, untuk mengatasi kesangsian tersebut, para guru lebih menitikberatkan pada penilaian hasil tugas harian. “Kami bisa mengontrol dari tulisannya. Walaupun orang tuanya yang mengerjakan. Tapi siswa ikut membaca,” kata Yuni Fatimah, guru di SDN Curah Lele 03, Kecamatan Balung.

Terpisah, menurut pengamatan dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej), Senny Weyara Dienda Saputri, selama pembelajaran daring di masa pandemi, semua siswa merasakan depresi. Sebab, siswa mengalami tekanan pembelajaran dan pantauan langsung dari orang tua.

Apalagi, kata dia, jika para wali murid tergolong dalam kategori ambisius. Yakni menuntut anak- anaknya mendapatkan nilai terbaik. “Tapi, kembali lagi tergantung lingkungan. Orang tuanya bagaimana,” ungkapnya.

Hal lain yang membuat depresi para siswa adalah hambatan jaringan internet. Menurutnya, semua aktivitas pembelajaran banyak bergantung pada akses internet. Ditambah lagi jika situasinya tengah mati lampu. “Jika internetnya terputus, bukan hanya siswa, tapi orang serumah juga jadi panik,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Bunyi sila pertama adalah?” Begitulah salah satu soal yang tertuang dalam ujian semester kelas II SDN Kepatihan VI. Soal pilihan ganda tersebut membuat Bagus, pelajar kelas II SDN VI itu, bingung, apakah jawabannya A, B, atau C.

“Pak, apa ini jawabannya?” tanya Bagus kepada Pamuji, orang tuanya. Warga Kepatihan, Kaliwates, tersebut tidak segera memberi jawaban. Namun, dia langsung menyodorkan buku pendamping sekolah. “Ini dibaca bukunya,” jawabnya.

Pamuji mengaku, sejak sekolah daring, peran orang tua sangat penting dalam menentukan pendidikan anak. Dalam menyelesaikan tugas sekolah, terkadang lelaki 68 tahun inilah yang menjadi aktor di balik kesuksesan tugas putranya tersebut. Namun, untuk ujian semester, sikap Pamuji tidak seperti itu. Dia memilih menuntun anaknya untuk membaca buku. “Kasarnya, saya mengizinkan anak itu ngerpek (membaca buku, Red) daripada nyontek,” jelasnya.

Sebab, kata dia, bila membaca buku, anak akan berusaha untuk mendapatkan suatu jawaban ketimbang meminta jawaban langsung darinya. Sehingga, dia menyarankan, selama proses pembelajaran daring dan ujian daring ini, yang menjadi tujuan utama bukan lagi nilai. Sebab, semuanya dikerjakan di rumah tanpa pantauan guru. “Kalau mengejar nilai, orang tua juga pusing. Anak juga tidak akan mengerti pelajaran, karena yang mengerjakan adalah orang tua,” jelasnya.

Ujian Akhir Semester (UAS) pada SD ini resmi dilakukan sejak Senin (30/11). Ujian itu bakal diselenggarakan secara berkala. Sekolah berhak menetapkan waktu pelaksanaan ujian. Untuk SD negeri pelaksanaannya sejak awal pekan ini. Sementara, untuk SD swasta sebagian ada yang memulai Senin ini. Sebagian diberi kebebasan untuk memulai ujian pekan depan.

“Penentuan waktu ujian berdasarkan kalender pendidikan (kaldik). Dan kaldik itu sudah ada ketentuannya. Sekolah tinggal menyesuaikan dengan keperluan sekolah,” papar Wildatur Maghfiro, guru SD Baiturohman di Kelurahan Mangli, Kaliwates.

Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah punya cara sendiri. Beberapa sekolah ada yang melaksanakan melalui formulir daring. Soal yang disediakan seluruhnya berupa pilihan ganda. Sebab, jika soal dalam bentuk uraian, sistem tidak bisa mendeteksi. Sedangkan untuk mata pelajaran yang membutuhkan praktik, siswa diwajibkan mengirim video. Durasi pengerjaannya selama 1,5 jam. Metode ini bisanya dilakukan oleh SD di kawasan perkotaan. SD Baiturohman salah satunya.

Lainnya, ada yang melakukan secara manual. Yaitu para wali murid mengambil lembar soal semua mata pelajaran di sekolah, untuk nantinya dikerjakan oleh siswa di rumah. Pengumpulannnya dilakukan di waktu terakhir pelaksanaan sekolah. Tidak jauh berbeda dengan teknis yang pertama, ujian praktik dilaporkan melalui video yang dikirim kepada guru. Model ini banyak didominasi oleh SD di desa.

Sistem pelaksanaan ini banyak mengundang kekhawatiran terhadap nilai kepribadian siswa. Dikhawatirkan tingkat kejujuran siswa dalam mengerjakan tugas mengalami degradasi. Begitupun dengan kualitas pembelajaran siswa. Wilda pun buka kartu mengenai hal tersebut. Kekhawatirannya terhadap penurunan kualitas peserta didik sudah mulai terasa sejak awal mula kegiatan pembelajaran daring dimulai.

Biasanya, untuk mengatasi kesangsian tersebut, para guru lebih menitikberatkan pada penilaian hasil tugas harian. “Kami bisa mengontrol dari tulisannya. Walaupun orang tuanya yang mengerjakan. Tapi siswa ikut membaca,” kata Yuni Fatimah, guru di SDN Curah Lele 03, Kecamatan Balung.

Terpisah, menurut pengamatan dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej), Senny Weyara Dienda Saputri, selama pembelajaran daring di masa pandemi, semua siswa merasakan depresi. Sebab, siswa mengalami tekanan pembelajaran dan pantauan langsung dari orang tua.

Apalagi, kata dia, jika para wali murid tergolong dalam kategori ambisius. Yakni menuntut anak- anaknya mendapatkan nilai terbaik. “Tapi, kembali lagi tergantung lingkungan. Orang tuanya bagaimana,” ungkapnya.

Hal lain yang membuat depresi para siswa adalah hambatan jaringan internet. Menurutnya, semua aktivitas pembelajaran banyak bergantung pada akses internet. Ditambah lagi jika situasinya tengah mati lampu. “Jika internetnya terputus, bukan hanya siswa, tapi orang serumah juga jadi panik,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Bunyi sila pertama adalah?” Begitulah salah satu soal yang tertuang dalam ujian semester kelas II SDN Kepatihan VI. Soal pilihan ganda tersebut membuat Bagus, pelajar kelas II SDN VI itu, bingung, apakah jawabannya A, B, atau C.

“Pak, apa ini jawabannya?” tanya Bagus kepada Pamuji, orang tuanya. Warga Kepatihan, Kaliwates, tersebut tidak segera memberi jawaban. Namun, dia langsung menyodorkan buku pendamping sekolah. “Ini dibaca bukunya,” jawabnya.

Pamuji mengaku, sejak sekolah daring, peran orang tua sangat penting dalam menentukan pendidikan anak. Dalam menyelesaikan tugas sekolah, terkadang lelaki 68 tahun inilah yang menjadi aktor di balik kesuksesan tugas putranya tersebut. Namun, untuk ujian semester, sikap Pamuji tidak seperti itu. Dia memilih menuntun anaknya untuk membaca buku. “Kasarnya, saya mengizinkan anak itu ngerpek (membaca buku, Red) daripada nyontek,” jelasnya.

Sebab, kata dia, bila membaca buku, anak akan berusaha untuk mendapatkan suatu jawaban ketimbang meminta jawaban langsung darinya. Sehingga, dia menyarankan, selama proses pembelajaran daring dan ujian daring ini, yang menjadi tujuan utama bukan lagi nilai. Sebab, semuanya dikerjakan di rumah tanpa pantauan guru. “Kalau mengejar nilai, orang tua juga pusing. Anak juga tidak akan mengerti pelajaran, karena yang mengerjakan adalah orang tua,” jelasnya.

Ujian Akhir Semester (UAS) pada SD ini resmi dilakukan sejak Senin (30/11). Ujian itu bakal diselenggarakan secara berkala. Sekolah berhak menetapkan waktu pelaksanaan ujian. Untuk SD negeri pelaksanaannya sejak awal pekan ini. Sementara, untuk SD swasta sebagian ada yang memulai Senin ini. Sebagian diberi kebebasan untuk memulai ujian pekan depan.

“Penentuan waktu ujian berdasarkan kalender pendidikan (kaldik). Dan kaldik itu sudah ada ketentuannya. Sekolah tinggal menyesuaikan dengan keperluan sekolah,” papar Wildatur Maghfiro, guru SD Baiturohman di Kelurahan Mangli, Kaliwates.

Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah punya cara sendiri. Beberapa sekolah ada yang melaksanakan melalui formulir daring. Soal yang disediakan seluruhnya berupa pilihan ganda. Sebab, jika soal dalam bentuk uraian, sistem tidak bisa mendeteksi. Sedangkan untuk mata pelajaran yang membutuhkan praktik, siswa diwajibkan mengirim video. Durasi pengerjaannya selama 1,5 jam. Metode ini bisanya dilakukan oleh SD di kawasan perkotaan. SD Baiturohman salah satunya.

Lainnya, ada yang melakukan secara manual. Yaitu para wali murid mengambil lembar soal semua mata pelajaran di sekolah, untuk nantinya dikerjakan oleh siswa di rumah. Pengumpulannnya dilakukan di waktu terakhir pelaksanaan sekolah. Tidak jauh berbeda dengan teknis yang pertama, ujian praktik dilaporkan melalui video yang dikirim kepada guru. Model ini banyak didominasi oleh SD di desa.

Sistem pelaksanaan ini banyak mengundang kekhawatiran terhadap nilai kepribadian siswa. Dikhawatirkan tingkat kejujuran siswa dalam mengerjakan tugas mengalami degradasi. Begitupun dengan kualitas pembelajaran siswa. Wilda pun buka kartu mengenai hal tersebut. Kekhawatirannya terhadap penurunan kualitas peserta didik sudah mulai terasa sejak awal mula kegiatan pembelajaran daring dimulai.

Biasanya, untuk mengatasi kesangsian tersebut, para guru lebih menitikberatkan pada penilaian hasil tugas harian. “Kami bisa mengontrol dari tulisannya. Walaupun orang tuanya yang mengerjakan. Tapi siswa ikut membaca,” kata Yuni Fatimah, guru di SDN Curah Lele 03, Kecamatan Balung.

Terpisah, menurut pengamatan dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej), Senny Weyara Dienda Saputri, selama pembelajaran daring di masa pandemi, semua siswa merasakan depresi. Sebab, siswa mengalami tekanan pembelajaran dan pantauan langsung dari orang tua.

Apalagi, kata dia, jika para wali murid tergolong dalam kategori ambisius. Yakni menuntut anak- anaknya mendapatkan nilai terbaik. “Tapi, kembali lagi tergantung lingkungan. Orang tuanya bagaimana,” ungkapnya.

Hal lain yang membuat depresi para siswa adalah hambatan jaringan internet. Menurutnya, semua aktivitas pembelajaran banyak bergantung pada akses internet. Ditambah lagi jika situasinya tengah mati lampu. “Jika internetnya terputus, bukan hanya siswa, tapi orang serumah juga jadi panik,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca