alexametrics
26.5 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Masa Orientasi, Ratusan Siswa Mencebur ke Sungai

Mobile_AP_Rectangle 1

Kunjtoro mengatakan, mengenal kekuatan masing-masing siswa itu penting. Sebab, dengan potensi fisik yang dimiliki itu, pihaknya bisa mendorong supaya anak-anak lahir luar biasa. Dengan demikian, sambung dia, MPLS di lembaganya menggunakan pola plus pelatihan dasar disiplin kepemimpinan Korps Taruna SMK Perikanan dan Kelautan. “Untuk MPLS dilakukan selama sebulan, sehingga siswa baru harus tinggal di sekolah,” ujarnya.

Selama sebulan ini, sekolah juga melibatkan pihak luar. Seperti tokoh agama, ulama, TNI dari koramil dan angota polsek setempat, polantas, dan Dinas Kesehatan Jember. Selain itu, ada dari PMI, Dinas Perikanan Jember, serta Bakesbangpol. “Sehingga anak-anak ini nanti spirit dan mentalnya kuat. Pengetahuannya juga luas,” jelasnya.

Setelah diberi pengetahuan umum dan keagamaan, kata Kuntjoro, para siswa tinggal dilatih ketahanan fisik. Pada proses ini, sekolah melibatkan anggota TNI untuk membentuk performa fisik siswa. “Terutama dalam hal baris-berbaris, dan di dalamnya sambil menanamkan nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kuntjoro meyakini, pola pendadaran semacam ini mampu membangun fondasi siswa yang kokoh dan karakter yang kuat untuk tiga hingga 10 tahun ke depan. Sebab, sambung dia, profesi apa pun, pekerjaan apa pun, dituntut memiliki pola pikir dasar dan karakter yang kuat. “Apalagi, lulusan di sekolah ini akan bekerja ke luar negeri. Lulusan kami (bekerja) di laut, dan di tempat-tempat yang penuh risiko,” pungkas Kuntjoro.

Sementara itu, Didik, anggota Koramil Puger, menegaskan kepada ratusan taruna-taruni, sebutan siswa SMK Perikanan dan Kelautan Puger, agar jangan coba-coba tidak disiplin di sekolah. Apalagi di luar sekolah. Anggota TNI yang bertugas melatih taruna-taruni itu mengatakan, kedisiplinan di sekolah untuk masa depan siswa sendiri. “Makanya harus belajar disiplin mulai sekarang. Kalau tidak, nanti bisa berurusan dengan saya,” ujar Didik yang didampingi lima personel TNI lainnya. (*)

- Advertisement -

Kunjtoro mengatakan, mengenal kekuatan masing-masing siswa itu penting. Sebab, dengan potensi fisik yang dimiliki itu, pihaknya bisa mendorong supaya anak-anak lahir luar biasa. Dengan demikian, sambung dia, MPLS di lembaganya menggunakan pola plus pelatihan dasar disiplin kepemimpinan Korps Taruna SMK Perikanan dan Kelautan. “Untuk MPLS dilakukan selama sebulan, sehingga siswa baru harus tinggal di sekolah,” ujarnya.

Selama sebulan ini, sekolah juga melibatkan pihak luar. Seperti tokoh agama, ulama, TNI dari koramil dan angota polsek setempat, polantas, dan Dinas Kesehatan Jember. Selain itu, ada dari PMI, Dinas Perikanan Jember, serta Bakesbangpol. “Sehingga anak-anak ini nanti spirit dan mentalnya kuat. Pengetahuannya juga luas,” jelasnya.

Setelah diberi pengetahuan umum dan keagamaan, kata Kuntjoro, para siswa tinggal dilatih ketahanan fisik. Pada proses ini, sekolah melibatkan anggota TNI untuk membentuk performa fisik siswa. “Terutama dalam hal baris-berbaris, dan di dalamnya sambil menanamkan nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.

Kuntjoro meyakini, pola pendadaran semacam ini mampu membangun fondasi siswa yang kokoh dan karakter yang kuat untuk tiga hingga 10 tahun ke depan. Sebab, sambung dia, profesi apa pun, pekerjaan apa pun, dituntut memiliki pola pikir dasar dan karakter yang kuat. “Apalagi, lulusan di sekolah ini akan bekerja ke luar negeri. Lulusan kami (bekerja) di laut, dan di tempat-tempat yang penuh risiko,” pungkas Kuntjoro.

Sementara itu, Didik, anggota Koramil Puger, menegaskan kepada ratusan taruna-taruni, sebutan siswa SMK Perikanan dan Kelautan Puger, agar jangan coba-coba tidak disiplin di sekolah. Apalagi di luar sekolah. Anggota TNI yang bertugas melatih taruna-taruni itu mengatakan, kedisiplinan di sekolah untuk masa depan siswa sendiri. “Makanya harus belajar disiplin mulai sekarang. Kalau tidak, nanti bisa berurusan dengan saya,” ujar Didik yang didampingi lima personel TNI lainnya. (*)

Kunjtoro mengatakan, mengenal kekuatan masing-masing siswa itu penting. Sebab, dengan potensi fisik yang dimiliki itu, pihaknya bisa mendorong supaya anak-anak lahir luar biasa. Dengan demikian, sambung dia, MPLS di lembaganya menggunakan pola plus pelatihan dasar disiplin kepemimpinan Korps Taruna SMK Perikanan dan Kelautan. “Untuk MPLS dilakukan selama sebulan, sehingga siswa baru harus tinggal di sekolah,” ujarnya.

Selama sebulan ini, sekolah juga melibatkan pihak luar. Seperti tokoh agama, ulama, TNI dari koramil dan angota polsek setempat, polantas, dan Dinas Kesehatan Jember. Selain itu, ada dari PMI, Dinas Perikanan Jember, serta Bakesbangpol. “Sehingga anak-anak ini nanti spirit dan mentalnya kuat. Pengetahuannya juga luas,” jelasnya.

Setelah diberi pengetahuan umum dan keagamaan, kata Kuntjoro, para siswa tinggal dilatih ketahanan fisik. Pada proses ini, sekolah melibatkan anggota TNI untuk membentuk performa fisik siswa. “Terutama dalam hal baris-berbaris, dan di dalamnya sambil menanamkan nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.

Kuntjoro meyakini, pola pendadaran semacam ini mampu membangun fondasi siswa yang kokoh dan karakter yang kuat untuk tiga hingga 10 tahun ke depan. Sebab, sambung dia, profesi apa pun, pekerjaan apa pun, dituntut memiliki pola pikir dasar dan karakter yang kuat. “Apalagi, lulusan di sekolah ini akan bekerja ke luar negeri. Lulusan kami (bekerja) di laut, dan di tempat-tempat yang penuh risiko,” pungkas Kuntjoro.

Sementara itu, Didik, anggota Koramil Puger, menegaskan kepada ratusan taruna-taruni, sebutan siswa SMK Perikanan dan Kelautan Puger, agar jangan coba-coba tidak disiplin di sekolah. Apalagi di luar sekolah. Anggota TNI yang bertugas melatih taruna-taruni itu mengatakan, kedisiplinan di sekolah untuk masa depan siswa sendiri. “Makanya harus belajar disiplin mulai sekarang. Kalau tidak, nanti bisa berurusan dengan saya,” ujar Didik yang didampingi lima personel TNI lainnya. (*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/