alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Masa Orientasi, Ratusan Siswa Mencebur ke Sungai

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang masa orientasi siswa (MOS). Melalui Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016, istilah MOS telah diubah menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Regulasi ini bertujuan mengubah paradigma penyelenggara pendidikan agar mengubah pola masa orientasi siswa menjadi lebih mendidik dan menghindari aksi kekerasan fisik.

Kendati telah ada regulasi yang mengatur, di tingkat sekolah masih saja ada kegiatan orientasi yang mengedepankan unsur fisik. Melatih kedisiplinan kerap menjadi dalih. Seperti MPLS di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Bahkan, di sekolah ini, model kegiatannya berbeda dengan lembaga lain. Siswa baru wajib mengikuti MPLS selama satu bulan penuh. Padahal, Permendikbud membatasi cuma tiga hari. Kecuali bagi sekolah berbasis asrama.

Para siswa baru di sekolah ini wajib mengikuti tahapan MPLS yang diselenggarakan. Mulai dari pemetaan potensi diri, pengetahuan umum, hingga pendadaran fisik. Dalam pendadaran fisik di salah satu kegiatan MPLS, misalnya, para siswa diminta menceburkan diri ke sungai tak jauh dari lokasi sekolah. Mereka tak hanya diminta menyeberangi sungai, tapi juga menyelam. Mirip penempaan fisik bagi calon anggota militer.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger Kuntjoro mengatakan, selama sebulan siswa angkatan 19 harus tinggal di sekolah. Karena itu, mereka yang biasanya tinggal bersama keluarga, khusus kegiatan MPLS, harus berpisah dulu. Tak semua pelajar betah dengan pola orientasi yang diterapkan. Bahkan, tahun lalu ada lima siswa yang kabur dan dianggap gugur. “Alhamdulilah, untuk angkatan 19 ini tidak ada siswa yang kabur. Kalau tahun sebelumnya ada lima siswa. Sehingga dinyatakan gugur dan keluar dari sekolah,” katanya.

Menurut dia, model orientasi seperti ini sudah menjadi kebiasaan di masa tahun ajaran baru. Sebab, Kuntjoro menuturkan, SMK Perikanan Puger mempunyai visi anak-anak harus luar biasa dengan proses yang tidak biasa-biasa. Penerapan visi itu salah satunya dengan menggelar MPLS selama sebulan penuh. “Di sekolah kami, tidak hanya cukup dengan pengenalan sekolah, tapi juga harus mengenal diri masing-masing,” dalihnya.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang masa orientasi siswa (MOS). Melalui Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016, istilah MOS telah diubah menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Regulasi ini bertujuan mengubah paradigma penyelenggara pendidikan agar mengubah pola masa orientasi siswa menjadi lebih mendidik dan menghindari aksi kekerasan fisik.

Kendati telah ada regulasi yang mengatur, di tingkat sekolah masih saja ada kegiatan orientasi yang mengedepankan unsur fisik. Melatih kedisiplinan kerap menjadi dalih. Seperti MPLS di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Bahkan, di sekolah ini, model kegiatannya berbeda dengan lembaga lain. Siswa baru wajib mengikuti MPLS selama satu bulan penuh. Padahal, Permendikbud membatasi cuma tiga hari. Kecuali bagi sekolah berbasis asrama.

Para siswa baru di sekolah ini wajib mengikuti tahapan MPLS yang diselenggarakan. Mulai dari pemetaan potensi diri, pengetahuan umum, hingga pendadaran fisik. Dalam pendadaran fisik di salah satu kegiatan MPLS, misalnya, para siswa diminta menceburkan diri ke sungai tak jauh dari lokasi sekolah. Mereka tak hanya diminta menyeberangi sungai, tapi juga menyelam. Mirip penempaan fisik bagi calon anggota militer.

Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger Kuntjoro mengatakan, selama sebulan siswa angkatan 19 harus tinggal di sekolah. Karena itu, mereka yang biasanya tinggal bersama keluarga, khusus kegiatan MPLS, harus berpisah dulu. Tak semua pelajar betah dengan pola orientasi yang diterapkan. Bahkan, tahun lalu ada lima siswa yang kabur dan dianggap gugur. “Alhamdulilah, untuk angkatan 19 ini tidak ada siswa yang kabur. Kalau tahun sebelumnya ada lima siswa. Sehingga dinyatakan gugur dan keluar dari sekolah,” katanya.

Menurut dia, model orientasi seperti ini sudah menjadi kebiasaan di masa tahun ajaran baru. Sebab, Kuntjoro menuturkan, SMK Perikanan Puger mempunyai visi anak-anak harus luar biasa dengan proses yang tidak biasa-biasa. Penerapan visi itu salah satunya dengan menggelar MPLS selama sebulan penuh. “Di sekolah kami, tidak hanya cukup dengan pengenalan sekolah, tapi juga harus mengenal diri masing-masing,” dalihnya.

RADAR JEMBER.ID – Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang masa orientasi siswa (MOS). Melalui Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016, istilah MOS telah diubah menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Regulasi ini bertujuan mengubah paradigma penyelenggara pendidikan agar mengubah pola masa orientasi siswa menjadi lebih mendidik dan menghindari aksi kekerasan fisik.

Kendati telah ada regulasi yang mengatur, di tingkat sekolah masih saja ada kegiatan orientasi yang mengedepankan unsur fisik. Melatih kedisiplinan kerap menjadi dalih. Seperti MPLS di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Bahkan, di sekolah ini, model kegiatannya berbeda dengan lembaga lain. Siswa baru wajib mengikuti MPLS selama satu bulan penuh. Padahal, Permendikbud membatasi cuma tiga hari. Kecuali bagi sekolah berbasis asrama.

Para siswa baru di sekolah ini wajib mengikuti tahapan MPLS yang diselenggarakan. Mulai dari pemetaan potensi diri, pengetahuan umum, hingga pendadaran fisik. Dalam pendadaran fisik di salah satu kegiatan MPLS, misalnya, para siswa diminta menceburkan diri ke sungai tak jauh dari lokasi sekolah. Mereka tak hanya diminta menyeberangi sungai, tapi juga menyelam. Mirip penempaan fisik bagi calon anggota militer.

Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger Kuntjoro mengatakan, selama sebulan siswa angkatan 19 harus tinggal di sekolah. Karena itu, mereka yang biasanya tinggal bersama keluarga, khusus kegiatan MPLS, harus berpisah dulu. Tak semua pelajar betah dengan pola orientasi yang diterapkan. Bahkan, tahun lalu ada lima siswa yang kabur dan dianggap gugur. “Alhamdulilah, untuk angkatan 19 ini tidak ada siswa yang kabur. Kalau tahun sebelumnya ada lima siswa. Sehingga dinyatakan gugur dan keluar dari sekolah,” katanya.

Menurut dia, model orientasi seperti ini sudah menjadi kebiasaan di masa tahun ajaran baru. Sebab, Kuntjoro menuturkan, SMK Perikanan Puger mempunyai visi anak-anak harus luar biasa dengan proses yang tidak biasa-biasa. Penerapan visi itu salah satunya dengan menggelar MPLS selama sebulan penuh. “Di sekolah kami, tidak hanya cukup dengan pengenalan sekolah, tapi juga harus mengenal diri masing-masing,” dalihnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/