alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Transisi AKM Masih Terhalang Budaya UN

Sekolah Diperbolehkan Melakukan Penguatan

Mobile_AP_Rectangle 1

Di sisi lain, pakar pendidikan IAIN Jember, Khoirul Faizin, menyarankan guru dan sekolah memaknai kehadiran AKM sebagai langkah konkret penilaian kompetensi siswa. Sehingga nasib kelulusan siswa bukan hanya bergantung pada tes berstandar nasional dalam satu kali ujian. “AKM bisa menjadi peluang berubahnya semangat evaluasi pendidikan dari budaya tes menjadi budaya asesmen jika tidak ada praktik try out,” tegasnya.

Meski demikian, dia juga menambahkan bahwa guru tidak bisa memaknai AKM sebagai pengganti UN. Sebab, AKM tidak berdasarkan pada kurikulum diajarkan, namun penekanannya pada pemetaan numerasi dan literasi. “Bukan untuk menguji pengetahuan siswa, tapi hanya mengukur kualitas pembelajaran. Bukan cuma kemampuan membaca dan memahami konsep di balik tulisan tersebut,” paparnya.

Menurutnya, guru ataupun sekolah tidak perlu melakukan persiapan khusus untuk AKM. Hal yang harus dilakukan adalah merefleksikan dan mencoba untuk mencari formula yang tepat untuk asesmen siswa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekolah juga perlu memfasilitasi guru melakukan refleksi, yakni guru diberikan ruang selama evaluasi mengajar, apakah sudah berjalan atau belum terkait dengan strategi pembelajarannya. “Yang paling penting adalah guru dan sekolah menggunakan momen ini untuk evaluasi waktu yang akan datang. Di sini, orang tua tidak perlu melakukan persiapan membeli buku-buku AKM seperti UN,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

Di sisi lain, pakar pendidikan IAIN Jember, Khoirul Faizin, menyarankan guru dan sekolah memaknai kehadiran AKM sebagai langkah konkret penilaian kompetensi siswa. Sehingga nasib kelulusan siswa bukan hanya bergantung pada tes berstandar nasional dalam satu kali ujian. “AKM bisa menjadi peluang berubahnya semangat evaluasi pendidikan dari budaya tes menjadi budaya asesmen jika tidak ada praktik try out,” tegasnya.

Meski demikian, dia juga menambahkan bahwa guru tidak bisa memaknai AKM sebagai pengganti UN. Sebab, AKM tidak berdasarkan pada kurikulum diajarkan, namun penekanannya pada pemetaan numerasi dan literasi. “Bukan untuk menguji pengetahuan siswa, tapi hanya mengukur kualitas pembelajaran. Bukan cuma kemampuan membaca dan memahami konsep di balik tulisan tersebut,” paparnya.

Menurutnya, guru ataupun sekolah tidak perlu melakukan persiapan khusus untuk AKM. Hal yang harus dilakukan adalah merefleksikan dan mencoba untuk mencari formula yang tepat untuk asesmen siswa.

Sekolah juga perlu memfasilitasi guru melakukan refleksi, yakni guru diberikan ruang selama evaluasi mengajar, apakah sudah berjalan atau belum terkait dengan strategi pembelajarannya. “Yang paling penting adalah guru dan sekolah menggunakan momen ini untuk evaluasi waktu yang akan datang. Di sini, orang tua tidak perlu melakukan persiapan membeli buku-buku AKM seperti UN,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Di sisi lain, pakar pendidikan IAIN Jember, Khoirul Faizin, menyarankan guru dan sekolah memaknai kehadiran AKM sebagai langkah konkret penilaian kompetensi siswa. Sehingga nasib kelulusan siswa bukan hanya bergantung pada tes berstandar nasional dalam satu kali ujian. “AKM bisa menjadi peluang berubahnya semangat evaluasi pendidikan dari budaya tes menjadi budaya asesmen jika tidak ada praktik try out,” tegasnya.

Meski demikian, dia juga menambahkan bahwa guru tidak bisa memaknai AKM sebagai pengganti UN. Sebab, AKM tidak berdasarkan pada kurikulum diajarkan, namun penekanannya pada pemetaan numerasi dan literasi. “Bukan untuk menguji pengetahuan siswa, tapi hanya mengukur kualitas pembelajaran. Bukan cuma kemampuan membaca dan memahami konsep di balik tulisan tersebut,” paparnya.

Menurutnya, guru ataupun sekolah tidak perlu melakukan persiapan khusus untuk AKM. Hal yang harus dilakukan adalah merefleksikan dan mencoba untuk mencari formula yang tepat untuk asesmen siswa.

Sekolah juga perlu memfasilitasi guru melakukan refleksi, yakni guru diberikan ruang selama evaluasi mengajar, apakah sudah berjalan atau belum terkait dengan strategi pembelajarannya. “Yang paling penting adalah guru dan sekolah menggunakan momen ini untuk evaluasi waktu yang akan datang. Di sini, orang tua tidak perlu melakukan persiapan membeli buku-buku AKM seperti UN,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/