alexametrics
25 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Door to Door hingga Batasi Jumlah Siswa ke Sekolah

Pembelajaran tatap muka yang mulai diembuskan belakangan ini sejatinya sudah diterapkan lebih awal di sekolah-sekolah perdesaan dan kaki gunung yang belum tersedia sinyal. Mereka memiliki ketentuan tersendiri agar pembelajaran itu sesuai dengan prokes. Bagaimana penerapannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejuk dan dingin, begitulah kondisi sekolah yang berada di kaki gunung seperti SDN Bintoro 05, Kecamatan Patrang. Sekolah paling ujung tersebut kondisinya masih terawat dan tidak begitu sepi seperti sekolah pada umumnya. Ya, di lembaga ini masih ada siswa yang datang bersekolah. Mereka ada yang menyetorkan tugas dan ada pula yang melakukan pembelajaran tatap muka.

Walau begitu, suasana sekolah tidak normal. Lantaran tidak semua siswa masuk ke sekolah. Hal yang sama, siswa tersebut saat di kelas tidak mengenakan sepatu, persis sebelum pandemi menyerang. Ahmad Hamdi, operator SDN Bintoro 05, mengatakan, pandemi seperti ini SDN Bintoro 05 tidak bisa menerapkan full daring. “Ada daring sama luring,” ucapnya.

Kondisi ekonomi siswa dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan adanya sinyal HP membuat sistem pembelajaran tidak bisa daring seratus persen. Karenanya, kata dia, untuk luring dibagi beberapa cara agar bisa tatap muka dengan guru. “Ya ada guru ke rumah siswa dan ada di sekolah juga,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Guru akan memberikan pelajaran singkat ke rumah siswa yang tidak memungkinkan ikut daring. Jadi, siswa yang tidak bisa ikut daring, kumpul di satu titik rumah siswa yang jaraknya berdekatan. Di sana guru datang untuk memberikan pelajaran dan tugas. “Untuk tugas dikumpulkan di sekolah. Jadi, saat pembelajaran di rumah, siswa tetap wajib prokes,” jelasnya.

Sementara itu, siswa yang belajar tatap muka di sekolah juga ada. Hamdi menambahkan, dalam sehari setidaknya hanya satu kelas yang masuk. “Jadi, tidak semua siswa masuk, tapi dibagi. Setidaknya sehari satu kelas saja,” tuturnya. Jumlah siswa satu kelas di lembaganya, kata dia, tentu berbeda dengan jumlah siswa di sekolah wilayah kota.

Sementara itu, Nur Fadli, guru yang membantu di SDN Bintoro 05, menuturkan, sebenarnya sekolah daring yang dianjurkan sangat berat diterapkan di sekolah perdesaan yang secara ekonomi itu lemah. Terlebih yang letaknya berada di kaki gunung. “Tidak semua orang tua siswa itu memiliki smartphone. Tidak semua rumah siswa itu juga ada sinyal HP,” tuturnya.

Bila pemerintah menerapkan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan, termasuk ada jarak antarsiswa, menurut Fadli, kondisi itu akan mudah diterapkan sekolah di perdesaan seperti SDN Bintoro 05. Sebab, dalam satu kelas jumlahnya sedikit, sekitar 10 siswa. Paling banyak hanya 15 siswa. Jumlah itu jauh berbeda dengan sekolah di perkotaan yang dalam satu kelas bisa mencapai 30 siswa.

Menurut Fadli, pembelajaran daring dan luring tersebut tidak hanya diterapkan di SDN Bintoro 05, tapi hampir di setiap sekolah perdesaan. Bahkan, kata dia, ada juga pembelajaran luring yang digelar di rumah guru. Praktik lainnya, dia mengungkapkan, tugas diambil di sekolah, lalu dikerjakan di rumah, dan kembali dikumpulkan di sekolah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejuk dan dingin, begitulah kondisi sekolah yang berada di kaki gunung seperti SDN Bintoro 05, Kecamatan Patrang. Sekolah paling ujung tersebut kondisinya masih terawat dan tidak begitu sepi seperti sekolah pada umumnya. Ya, di lembaga ini masih ada siswa yang datang bersekolah. Mereka ada yang menyetorkan tugas dan ada pula yang melakukan pembelajaran tatap muka.

Walau begitu, suasana sekolah tidak normal. Lantaran tidak semua siswa masuk ke sekolah. Hal yang sama, siswa tersebut saat di kelas tidak mengenakan sepatu, persis sebelum pandemi menyerang. Ahmad Hamdi, operator SDN Bintoro 05, mengatakan, pandemi seperti ini SDN Bintoro 05 tidak bisa menerapkan full daring. “Ada daring sama luring,” ucapnya.

Kondisi ekonomi siswa dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan adanya sinyal HP membuat sistem pembelajaran tidak bisa daring seratus persen. Karenanya, kata dia, untuk luring dibagi beberapa cara agar bisa tatap muka dengan guru. “Ya ada guru ke rumah siswa dan ada di sekolah juga,” tuturnya.

Guru akan memberikan pelajaran singkat ke rumah siswa yang tidak memungkinkan ikut daring. Jadi, siswa yang tidak bisa ikut daring, kumpul di satu titik rumah siswa yang jaraknya berdekatan. Di sana guru datang untuk memberikan pelajaran dan tugas. “Untuk tugas dikumpulkan di sekolah. Jadi, saat pembelajaran di rumah, siswa tetap wajib prokes,” jelasnya.

Sementara itu, siswa yang belajar tatap muka di sekolah juga ada. Hamdi menambahkan, dalam sehari setidaknya hanya satu kelas yang masuk. “Jadi, tidak semua siswa masuk, tapi dibagi. Setidaknya sehari satu kelas saja,” tuturnya. Jumlah siswa satu kelas di lembaganya, kata dia, tentu berbeda dengan jumlah siswa di sekolah wilayah kota.

Sementara itu, Nur Fadli, guru yang membantu di SDN Bintoro 05, menuturkan, sebenarnya sekolah daring yang dianjurkan sangat berat diterapkan di sekolah perdesaan yang secara ekonomi itu lemah. Terlebih yang letaknya berada di kaki gunung. “Tidak semua orang tua siswa itu memiliki smartphone. Tidak semua rumah siswa itu juga ada sinyal HP,” tuturnya.

Bila pemerintah menerapkan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan, termasuk ada jarak antarsiswa, menurut Fadli, kondisi itu akan mudah diterapkan sekolah di perdesaan seperti SDN Bintoro 05. Sebab, dalam satu kelas jumlahnya sedikit, sekitar 10 siswa. Paling banyak hanya 15 siswa. Jumlah itu jauh berbeda dengan sekolah di perkotaan yang dalam satu kelas bisa mencapai 30 siswa.

Menurut Fadli, pembelajaran daring dan luring tersebut tidak hanya diterapkan di SDN Bintoro 05, tapi hampir di setiap sekolah perdesaan. Bahkan, kata dia, ada juga pembelajaran luring yang digelar di rumah guru. Praktik lainnya, dia mengungkapkan, tugas diambil di sekolah, lalu dikerjakan di rumah, dan kembali dikumpulkan di sekolah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejuk dan dingin, begitulah kondisi sekolah yang berada di kaki gunung seperti SDN Bintoro 05, Kecamatan Patrang. Sekolah paling ujung tersebut kondisinya masih terawat dan tidak begitu sepi seperti sekolah pada umumnya. Ya, di lembaga ini masih ada siswa yang datang bersekolah. Mereka ada yang menyetorkan tugas dan ada pula yang melakukan pembelajaran tatap muka.

Walau begitu, suasana sekolah tidak normal. Lantaran tidak semua siswa masuk ke sekolah. Hal yang sama, siswa tersebut saat di kelas tidak mengenakan sepatu, persis sebelum pandemi menyerang. Ahmad Hamdi, operator SDN Bintoro 05, mengatakan, pandemi seperti ini SDN Bintoro 05 tidak bisa menerapkan full daring. “Ada daring sama luring,” ucapnya.

Kondisi ekonomi siswa dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan adanya sinyal HP membuat sistem pembelajaran tidak bisa daring seratus persen. Karenanya, kata dia, untuk luring dibagi beberapa cara agar bisa tatap muka dengan guru. “Ya ada guru ke rumah siswa dan ada di sekolah juga,” tuturnya.

Guru akan memberikan pelajaran singkat ke rumah siswa yang tidak memungkinkan ikut daring. Jadi, siswa yang tidak bisa ikut daring, kumpul di satu titik rumah siswa yang jaraknya berdekatan. Di sana guru datang untuk memberikan pelajaran dan tugas. “Untuk tugas dikumpulkan di sekolah. Jadi, saat pembelajaran di rumah, siswa tetap wajib prokes,” jelasnya.

Sementara itu, siswa yang belajar tatap muka di sekolah juga ada. Hamdi menambahkan, dalam sehari setidaknya hanya satu kelas yang masuk. “Jadi, tidak semua siswa masuk, tapi dibagi. Setidaknya sehari satu kelas saja,” tuturnya. Jumlah siswa satu kelas di lembaganya, kata dia, tentu berbeda dengan jumlah siswa di sekolah wilayah kota.

Sementara itu, Nur Fadli, guru yang membantu di SDN Bintoro 05, menuturkan, sebenarnya sekolah daring yang dianjurkan sangat berat diterapkan di sekolah perdesaan yang secara ekonomi itu lemah. Terlebih yang letaknya berada di kaki gunung. “Tidak semua orang tua siswa itu memiliki smartphone. Tidak semua rumah siswa itu juga ada sinyal HP,” tuturnya.

Bila pemerintah menerapkan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan, termasuk ada jarak antarsiswa, menurut Fadli, kondisi itu akan mudah diterapkan sekolah di perdesaan seperti SDN Bintoro 05. Sebab, dalam satu kelas jumlahnya sedikit, sekitar 10 siswa. Paling banyak hanya 15 siswa. Jumlah itu jauh berbeda dengan sekolah di perkotaan yang dalam satu kelas bisa mencapai 30 siswa.

Menurut Fadli, pembelajaran daring dan luring tersebut tidak hanya diterapkan di SDN Bintoro 05, tapi hampir di setiap sekolah perdesaan. Bahkan, kata dia, ada juga pembelajaran luring yang digelar di rumah guru. Praktik lainnya, dia mengungkapkan, tugas diambil di sekolah, lalu dikerjakan di rumah, dan kembali dikumpulkan di sekolah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/